Kolom

Semangat Literasi-Numerasi dalam Asesmen Nasional

Ratna Nisrina Puspitasari - detikNews
Rabu, 17 Feb 2021 16:00 WIB
Siswa melakukan kegiatan literasi di kelas (Foto: istimewa)
Jakarta -
Pelaksanaan Asesmen Nasional resmi diundur pada September-Oktober, artinya masih ada sisa waktu untuk guru dan siswa mempersiapkannya. Khususnya guru, ada perpanjangan waktu untuk mulai memperkenalkan komponen Asesmen Nasional kepada siswa. Beberapa siswa mungkin belum paham esensi dari Asesmen Nasional, terkhusus bentuk dan teknik pelaksanaannya.

Asesmen Nasional yang akan dihadapi siswa ada tiga, yaitu Asesmen Kompetensi Minimum Literasi-Numerasi, Survei Karakter, dan Survei Lingkungan Belajar. Siswa belum pernah menemui skema tersebut. Khusus Asesmen Komptensi Minimum Literasi-Numerasi (AKM Literasi-Numerasi), siswa perlu mendapatkan pengenalan dan pembiasaan. Soal-soal yang akan dikerjakan siswa dalam akan berbeda dengan soal Ujian Nasional yang biasa dihadapi.

Tanpa mengesampingkan Survei Karakter dan Survei Lingkungan, aspek Kompetensi Minimum Literasi-Numerasi butuh dikenalkan kepada siswa mulai sekarang. Soal asesmen yang didominasi wacana dengan ilustrasi gambar, grafik, diagram, dan data pendukung tentu berbeda dengan soal pada Ujian Nasional. Aspek yang membedakan antara AKM Literasi-Numerasi dengan Ujian Nasional terletak pada konten dan konteksnya.

Konten dan konteks wacana yang dibawa dalam AKM Literasi-Numerasi berbeda dengan wacana pada Ujian Nasional. Wacana pada AKM Literasi-Numerasi lebih menekankan pada konten informasi dan sastra serta berfokus pada konteks personal, sosial budaya, dan saintifik. Hal ini bertujuan untuk melatih siswa agar menguasai kompetensi dasar literasi-numerasi dan mampu menerapkannya dalam berbagai konteks kehidupan.

Wacana yang ditampilkan dalam AKM Literasi-Numerasi adalah wacana aktual dan faktual. Wacana disesuaikan dengan perkembangan informasi saat ini sehingga siswa akan menemukan informasi terkini sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan zaman. Berbeda dengan wacana yang biasa disajikan dalam Ujian Nasional yang cenderung ketinggalan zaman dan topik pembahasannya kurang sesuai dengan tuntutan kebutuhan informasi terkini.

Begitu pula dengan aspek numerasi, dalam AKM aspek numerasi yang disajikan dekat dengan kehidupan siswa sehari-hari. Siswa disajikan soal yang aplikatif; tidak sekadar menghitung, namun juga dikaitkan dengan konteks kehidupan sehari-hari. Siswa tidak berhenti pada tahap menghitung angka saja, namun penghitungan angka tersebut merupakan contoh kasus dalam kehidupan sejari-hari, misalnya penghitungan angka yang dikaitkan dengan konteks ekonomi.

Jadi jelas, tujuan diluncurkannya AKM Literasi-Numerasi adalah membiasakan siswa-siswa di Indonesia untuk lebih giat dalam kegiatan literasi-numerasi. Tidak sekadar literasi-numerasi biasa, namun literasi-numerasi yang berkaitan erat dengan konteks kehidupan sehari-hari. Tujuannya jelas, bukan hanya menambah wawasan siswa, namun juga melatih siswa agar mampu menerapkan pengetahuannya di kehidupan nyata.

Ratna Nisrina Puspitasari, S.Pd
guru SMP Negeri 1 Doplang, Kabupaten Blora

(mmu/mmu)