Kolom

Guru di Masa Pandemi: Mengunduh, Mengunggah, Menggugah

Arie Hendrawan - detikNews
Rabu, 17 Feb 2021 14:00 WIB
Siswa siswi menggunakan fasilitas WiFi gratis saat mengikuti kegiatan pembelajaran jarak jauh di balai warga RW 05 Kelurahan Kuningan Barat, Mampang Prapatan, Jakarta, Jumat (27/8/2020). WiFi gratis ini disediakan oleh swadaya warga RW 05 guna membantu anak-anak yang melakukan pembelajaran jarak jauh yang terkendala dengan kuota internet.
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Pandemi Covid-19 membawa dampak yang bersifat multidemensional di berbagai lini kehidupan, tidak terkecuali pada bidang pendidikan. Terlepas dari pengaruh negatifnya, harus diakui bahwa pandemi saat ini ikut mendorong akselerasi digitalisasi pendidikan. Suatu hal yang belum akrab terdengar bagi sebagian besar guru di Indonesia. Apalagi masih ada persoalan digital devide (kesenjangan digital) dalam dunia pendidikan kita karena sejumlah faktor demografis maupun geografis.

Pada akhirnya, perubahan yang cukup revolusioner ini menimbulkan "kejutan sosial" yang menuntut adaptasi guru secara drastis. Salah satu yang esensial adalah mengenai sistem pembelajaran yang semula berlangsung tatap muka, kini menjadi daring. Hal itu kemudian dikenal dengan term pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau belajar dari rumah (BDR), yakni proses belajar mengajar yang dilaksanakan pada ruang publik virtual di mana guru dan peserta didik bertemu tanpa interaksi fisik langsung.

Kondisi tersebut menimbulkan berbagai masalah, sebab tidak semua guru telah siap dan melek teknologi. Bahkan, guru millennials yang relatif lebih dekat dengan teknologi digital sekalipun belum tentu dapat mengoptimalkan pembelajaran daring. Akibatnya, guru hanya mengajar "sekenanya". Bagi mereka, yang terpenting pembelajaran bisa berjalan secara daring. Terlebih, Kemendikbud sudah merilis kurikulum darurat yang tidak lagi mewajibkan pencapaian ketuntasan kompetensi.

Mengunduh

Ada yang tidak boleh dilupakan bahwa Kemendikbud juga menekankan agar pembelajaran daring dewasa ini dapat dilakukan secara bermakna. Hal tersebut sesuai dengan isi Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 719/P/2020 tentang pedoman pelaksanaan kurikulum dalam kondisi khusus. Setidaknya ada dua ciri pembelajaran yang bermakna. Pertama, mengaitkan dengan kondisi pandemi saat ini. Kedua, meningkatkan rasa ingin tahu peserta didik.

Untuk mewujudkan visi pembelajaran bermakna, setiap guru perlu memiliki pemahaman yang komprehensif. PJJ atau BDR jangan sampai dimaknai secara "sempit" hanya sebagai substitusi ruang belajar, melainkan juga reformasi proses pembelajaran. Di sini, guru dituntut untuk selalu kreatif dan inovatif dalam mengemas pembelajaran jarak jauh yang kontekstual dan menstimulasi rasa ingin tahu. Bagaimana caranya? Jawaban itu yang kini juga ditawarkan oleh digitalisasi pendidikan.

Ada banyak sarana edukasi yang dapat dimanfaatkan oleh guru untuk meng-upgrade kemampuan. Berkat digitalisasi, sekarang kita bisa mengikuti berbagai macam kursus, akademi, seminar, dan workshop secara online. Kita juga tidak perlu beranjak dari kursi. Hanya dengan bermodal gawai dan kuota internet, guru dapat mengunduh ilmu-ilmu baru secara gratis. Contoh, kita bisa mengakses kelas di kampus-kampus prestisius Amerika Serikat (Ivy League) lewat Massive Open Online Courses (MOOC).

Mengunggah

Upaya mengunduh ilmu baru demi pembelajaran yang bermakna juga perlu diaktualisasikan di luar kelas. Salah satunya dapat ditempuh dengan memberikan kontribusi terhadap rekan sejawat guru maupun masyarakat pada umumnya. Aktivitas guru yang repetitif di masa pandemi, seperti mengunggah materi, tugas, soal, dan sebagainya mesti diimbangi dengan aktivitas mengunggah yang lain, yaitu publikasi ilmiah serta karya-karya inovatif di internet.

Platform untuk mengunggah tersebut juga tidak kalah banyak dibandingkan dengan sarana untuk mengunduh materi baru. Banyak guru produktif yang mempublikasikan sejumlah artikel ilmiah di jurnal-jurnal bereputasi selama masa pandemi ini dengan mengangkat Penelitian Tindakan Kelas. Tidak sedikit pula yang telah mengunggah karya-karya inovatifnya (video dan media pembelajaran) pada sebuah platform gotong royong digital guru yang bernama Guru Berbagi.

Sejatinya, aktivitas "mengunduh" dan "mengunggah" bagi guru merupakan bagian dari program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB). PKB sendiri menjadi sebuah keniscayaan untuk menciptakan profil guru profesional. Saat ini kesempatan itu sudah terbuka lebar dengan ekosistem digital, meskipun semua kembali pada kemauan dan pilihan yang diambil oleh sang guru. Ada dua kalimat sakti yang perlu diingat-ingat bahwa "mengajar berarti belajar kembali" dan "guru mulia karena karya".

Menggugah

Setelah berproses dengan mengunduh dan mengunggah, kini tiba giliran guru untuk menampilkan diri sebagai persona yang menggugah. Guru harus mampu menjadi suluh bagi optimisme peserta didik di tengah masa pandemi corona yang sangat menjemukan ini. Menggugah tidak cuma sebatas memotivasi secara verbal, tetapi juga menunjukkan keteladanan kepada para murid dengan meningkatkan kompetensi dan produktivitas selama pandemi, seperti melalui pengembangan diri dan berkarya.

Selanjutnya, dalam proses pembelajaran, merujuk Timothy D. Walker, penulis buku Teach Like Finlandia (Kuntarto, 2020), upaya guru untuk menggugah dapat dilakukan salah satunya dengan menawarkan kebebasan bagi peserta didik untuk menentukan tugas yang sesuai minat dan karakter mereka. Alih-alih bertindak konservatif, guru sebaiknya memberikan opsi yang memerdekakan pembelajaran dan tidak justru mematikan rasa ingin tahu atau penasaran peserta didik.

Terakhir, guru bisa menggugah peserta didik dengan mengajak mereka berkolaborasi untuk mengerjakan berbagai proyek bersama. Sesungguhnya, ada banyak sekali pilihan di sini, seperti dengan membuat konten-konten poster, infografis, video naratif, artikel, puisi, cerpen, komik, klip musik, dan sebagainya. Pada beberapa kesempatan bahkan ada kompetisi yang berbasis kolaborasi antara keduanya. Tantangan tidak pernah surut; hanya ada satu pilihan: hadapi!

Arie Hendrawan guru SMA Islam Al Azhar 14, alumni S2 Ilmu Politik Undip

(mmu/mmu)