Kolom

Kapal Nuklir Prancis Uji Komitmen ASEAN

Naldo Helmys - detikNews
Senin, 15 Feb 2021 15:20 WIB
An aerial view of Qilianyu islands in the Paracel chain, which China considers part of Hainan province on August 10, 2018. (Photo by - / AFP) / China OUT
Kepulauan Prancis di Laut China Selatan yang diklaim China (Foto: AFP)
Jakarta -

Emosi China kembali disulut ketika kapal selam bertenaga nuklir milik Prancis, SNA Emeraude, yang didampingi kapal BSAM Seine, berpatroli di sekitar Laut China Selatan (LCS) pada Selasa (9/2). Manuver ini adalah anomali, bukan saja karena kehadiran Prancis yang tidak biasa di kawasan, tetapi juga karena ASEAN sudah disepakati sebagai kawasan bebas senjata nuklir.

Prancis memiliki sejumlah pangkalan militer seberang laut di berbagai belahan dunia. Dari perspektif Prancis, Asia Tenggara diposisikan berada pada zona maritim Pasifik (Alpaci), tetapi tidak ada pangkalan militer Prancis di kawasan ini. Pangkalan militer Prancis yang paling dekat dengan negara-negara Asia Tenggara adalah di Caledonia Baru (FANC), yang menurut citra Google Earth berlokasi sekitar 3.500 kilometer tenggara Jayapura. Yang jadi menarik, SNA Emeraude tidak dikerahkan dari Pasifik, melainkan berlayar dari Prancis.

Tentunya Prancis memiliki maksud mengapa mereka harus jauh-jauh membawa kapal selam tersebut. Paling tidak, menurut Menteri Pertahanan Prancis Florence Parly, pengerahan kapal adalah untuk memperkaya pengetahuan dan menegaskan hukum internasional. Dalam kacamata politik, klaim China atas LCS dianggap tidak sesuai dengan hukum internasional yang berlaku. Secara implisit, pergerakan dapat diartikan sebagai gertakan untuk China. Prancis seolah mengatakan bahwa kapabilitas mereka untuk mengerahkan armada dari Eropa ke tempat manapun di dunia ini tidak diragukan.

Kehadiran kekuatan Prancis bukan tidak ada untungnya. Dilansir dari laman resminya, TNI AL diberitakan menggelar latihan bersama dengan Angkatan Laut Prancis (Marine nationale) di sekitar Selat Sunda pada Senin (8/2). Salah satu kapal Prancis yang ikut dalam latihan tersebut adalah SNA Emeraude. Kerja sama ini adalah bentuk diplomasi militer untuk mempererat hubungan kedua negara.

Meski demikian, kehadiran kekuatan militer Prancis di Asia Tenggara dapat dibaca pula sebagai semakin seksinya kawasan ini menarik perhatian kekuatan dunia. Terlebih Prancis punya sejumlah kepentingan di Indo-Pasifik mulai dari penguasaan wilayah, perlindungan penduduk, pemanfaatan sumber daya laut, hingga pengerahan pasukan secara rutin dan permanen. Akan tetapi belakangan kepentingan Prancis di Pasifik sedikit terganggu.

Dalam beberapa tahun terakhir, Caledonia Baru sudah dua kali melaksanakan referendum kemerdekaan (2018 dan 2020). Kemenangan tipis berada pada pihak yang menginginkan daerah tersebut tetap berada di bawah kedaulatan Prancis, meski selisihnya tipis: 53,26% kontra 46,74% pada hasil referendum Oktober lalu. Meski tidak kehilangan koloninya, Prancis tentu tidak ingin riak tuntutan akan kemerdekaan mengganggu kepentingan di Pasifik.

Melepas Caledonia Baru artinya Prancis harus kehilangan sumber utama nikel. Tahun 2019 Caledonia Baru adalah penghasil nikel terbesar keempat setelah Indonesia, Filipina, dan Rusia. Pengamanan di sektor Pasifik, terutama dari upaya China untuk menghidupkan kembali jalur perdagangan One Belt One Road, diprediksi akan lebih diperhatikan Prancis ke depan.

Di samping itu, meski dapat meningkatkan keamanan di kawasan, kehadiran kapal selam nuklir milik Prancis juga dapat terakumulasi menjadi potensi konflik di kemudian hari di kawasan. Asia Tenggara telah memiliki kesepakatan untuk menghindari ancaman nuklir. Salah satunya adalah komitmen Perjanjian Zona Bebas Senjata Nuklir ASEAN (SEANWFZ) yang disepakati tahun 1995. Arti penting perjanjian ini diakui sebagai salah satu instrumen Masyarakat Politik Keamanan ASEAN, salah satu dari tiga Pilar Masyarakat ASEAN.

Negara-negara di Asia Tenggara bukan pemain baru dalam mengejar nuklir sebagai sumber energi. Thailand menjadi negara pertama yang membuka reaktor riset nuklir tahun 1962. Indonesia menyusul langkah tersebut dengan membangun reaktor pertama, TRIGA Mark III, di Kawasan Nuklir Bandung pada tahun 1964. Negara yang mengejar sumber daya nuklir perlu meyakinkan masyarakat internasional bahwa tujuan pengembangan adalah untuk perdamaian, sehingga perlu komitmen untuk menghindari dari indikasi penggunaan nuklir sebagai senjata.

Meski begitu kehadiran kapal selam perang bertenaga nuklir milik Prancis, meski tidak mendatangkan bahaya secara langsung, dapat merusak reputasi konsistensi ASEAN untuk menjaga kawasan tertib dari ancaman tersebut.

Indonesia sebagai pionir dan pemimpin tak resmi ASEAN berperan dalam membangun norma non-proliferasi nuklir di level internasional. Ratifikasi Indonesia atas Perjanjian Pelarangan Uji Coba Nuklir Komprehensif (CTBT) tahun 2012 adalah bentuk dukungan negara dalam menjaga ketertiban dan perdamaian dunia. Meski begitu upaya ini tidaklah mudah terutama dalam meyakinkan Negara Bersenjata Nuklir (NWS) untuk meratifikasi perjanjian tersebut.

Prancis termasuk NWS yang meratifikasi CTBT, tetapi perjanjian tersebut belum diberlakukan mengingat masih terdapat negara bersenjata nuklir yang belum mengesahkannya. Di tambah lagi, Prancis mengambil posisi ambigu soal ancaman nuklir. Mereka tidak akan menggunakan senjata nuklir untuk menyerang negara mana pun kecuali jika ia, sekutunya, atau teritori di bawahnya terancam. Artinya Prancis belum secara penuh menganut asas 'jaminan keamanan negatif' yaitu jaminan bahwa NWS tidak menggunakan senjata nuklir untuk mengancam dan menyerang non-NWS.

Melihat keleluasaan manuver Prancis di atas, penting bagi ASEAN untuk membangun kesepakatan bersama terkait kehadiran senjata nuklir di kawasan. Artinya SEANWFZ perlu diterjemahkan ke dalam instrumen praksis yang terukur sehingga manuver yang dilakukan NWS di kawasan bebas nuklir tidak langsung memprovokasi atau potensi konflik yang ada seperti pada persoalan LCS.

Naldo Helmys dosen Hubungan Internasional Universitas Andalas, alumnus Master of Science in International Relations University of Glasgow

(mmu/mmu)