Jeda

Garangan dan Pelajaran tentang Keseimbangan

Impian Nopitasari - detikNews
Minggu, 14 Feb 2021 09:40 WIB
impian
Impian Nopitasari (Foto: dok. pribadi)
Jakarta -

Hari masih mendung ketika saya selesai mengerjakan rutinitas pagi. Sambil menunggu kiriman editan naskah dari teman, saya membuka-buka status WhatsApp. Ada dua status yang membuat saya diam seketika. Satu dari teman lama yang mencari donor plasma untuk bapaknya yang sedang dirawat di ruang Intensive Care Unit (ICU) karena Covid-19, satunya lagi dari kakak tingkat yang sedang mencari info kamar kosong untuk bapaknya yang membutuhkan ICU karena sebab yang sama. Kita tahu akhir-akhir ini hampir semua ruang ICU Rumah Sakit penuh oleh pasien Covid-19.

Sebuah pesan masuk membuat saya berhenti melakukan aktivitas membaca status WhatsApp. Teman yang saya tunggu kabarnya akhirnya membalas pesan saya. Namun alih-alih memberi kabar soal editan naskah, ia malah mengirimi saya sebuah video. Ia bilang bahwa sedang berkunjung ke rumah simbahnya di desa. Meski jengkel karena ia tak memberi kabar soal editan naskah, saya putar video kiriman darinya. video rekaman seekor garangan yang ia tangkap di kandang. Tidak, saya sedang tidak membicarakan "garangan" yang berarti lelaki hidung belang. Saya sedang membicarakan garangan dalam arti harfiah, hewan mamalia sejenis musang pemakan daging (Herpestes javanicus).

"Gimana? Lucu kan? Mau kupelihara," kata teman saya dalam bahasa Jawa. Saya diminta bersepakatt bahwa hewan yang ia taruh di dalam kandang itu lucu.

"Cah guendheng. Miara kok garangan. Apa tidak ada hewan yang lebih lucu dari itu?" balas saya. Bagi saya, teman saya itu sungguh kurang kerjaan.

"Lha bukannya koleksi garangan-mu banyak di medsos?" ia meledek. Asem. Saya tak bisa membalasnya. Ya, memang benar sih saya masih memelihara "garangan". Yang lucu-lucu saja. Yang mereka gagal terus nyepik cewek karena cewek-cewek itu adalah teman saya yang sudah saya beri kisi-kisi mana saja kategori laki-laki yang masuk kriteria "garangan".

Obrolan kami tentang garangan masih berlanjut. Saya teringat dosen saya yang bilang bahwa kalau kita masih bisa melihat garangan dengan bebas, maka berarti alam di situ masih bagus. Teman saya membenarkan. Ia bilang karena itu ia betah di sana. Yang tidak membuat betah paling sinyal internet yang timbul tenggelam. Saya bilang pada teman saya bahwa seharusnya ia tak menangkap garangan itu, apalagi hanya seekor, bukan sepasang. Dengan sedikit mengomel, saya meminta teman saya melepaskannya. Pembicaraan berakhir dengan keputusannya tidak jadi menangkap garangan itu dan melepaskannya kembali.

***

Sebenarnya tidak sekali ini ada orang yang kulihat menangkap garangan, bahkan memeliharanya. Dulu ketika saya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), ada teman sekolah saya yang benar-benar memelihara sepasang garangan di kandang. Bagi saya itu aneh. Tapi saya memilih diam dan membatin keanehan itu karena ibu teman saya pintar membuat kue-kue enak. Beliau juga mengajari saya cara membuat bolu kukus dan bolu ban dengan alat seadanya. Biasanya kami makan bolu hasil masak bersama itu dengan melihat garangan di kandang. Seperti rekreasi di kebun binatang.

Ingatan saja kembali ke masa kecil. Saya adalah seseorang yang lahir dan besar di desa yang masih banyak pohon bambunya. Di belakang rumah tiap orang pasti ada rimbunan pohon bambu dari berbagai jenis yang kami sebut papringan. Di papringan ini juga ada semak-semaknya. Di tempat itulah para garangan bersarang. Mereka memangsa tikus, burung, reptil, kodok, yuyu, serangga, kalajengking, dan tentu saja hewan ternak penduduk seperti ayam dan kelinci. Ayam tetangga saya sering menjadi mangsa mereka. Teman masa kecil saya pernah menangis gara-gara dua kelinci kesayangannya tidak selamat dari buruan garangan.

Garangan pernah menjadi hama di desa kami. Beberapa pemuda desa memburunya dengan senapan angin. Mereka memakan hasil tangkapannya. Saya tidak pernah makan daging garangan. Kata yang sudah makan, dagingnya gurih, banyak ati dan tulangnya.

Saya punya pengalaman personal dengan garangan ini. Jadi dulu tiap pagi setelah membuka pintu belakang rumah, saya pasti melihat garangan-garangan itu sedang keluar sarang mencari mangsa. Saya punya kebiasaan yang aneh, yaitu adu tatap dengan garangan. Hal ini mengingatkan saya dengan tokoh anak perempuan bernama Anchita di novel Tahun Penuh Gulma karya Siddharta Sarma. Anchita ini punya obsesi adu tatap dengan siapa dan apapun, termasuk dengan kambing. Dalam adu tatap itu ia selalu menang. Saya jadi tertawa sendiri karena saya juga punya kebiasaan betah-betahan adu tatap dengan garangan, dan saya selalu menang.

Saya tidak tahu apakah garangan itu pada akhirnya balas dendam karena selalu kalah adu tatap dengan saya. Tapi hal yang dilakukannya berhasil membuat saya bersedih dan membencinya. Suatu hari ia memangsa ayam babon saya. Peristiwa yang membuat saya, cah gembeng ini, nangis gero-gero. Ayam babon saya meninggalkan anak-anak ayam yang piyap-piyep mencari induknya. Saya emosi dan ingin memberi pelajaran pada garangan itu. Ya, meski tidak tahu juga cara memberi perhitungannya bagaimana. Saya tidak lihai memakai tongkat untuk memukul, apalagi memakai senapan angin yang tentu saja saya tak punya. Pokoke wani gelut sik. Pokoknya berani berantem dulu. Urusan nanti saya dicakar-cakar, pikir belakangan.

Akhirnya saya memilih membawa kayu untuk memburu dan menggebuk garangan itu. Saya hampiri papringan tempat mereka bersarang. Saya senang ketika berhasil melihat bulu-bulu berwarna cokelat di bawah rumpun bambu. Saya sudah siap-siap memakai tongkat saya untuk memukul garangan itu ketika pemandangan yang membuat mbrebes mili itu menghentikan niat saya. Saya melihat garangan yang ternyata seekor indukan itu tidak memakan hasil buruannya. Ia memberikan hasil buruan itu kepada empat anaknya sementara ia menunggui mereka. Mungkin ia makan kalau hasil buruan itu tersisa. Indukan garangan itu menoleh ke saya dengan pandangan yang sulit saya jelaskan. Yang jelas, untuk pertama kalinya saya kalah adu tatap dengan garangan. Bahkan sebenarnya saya tidak berani menatapnya.

Pandangan mata indukan garangan itu membuat saya terduduk seketika. Saya pulang ke rumah dengan lunglai. Membuka kandang ayam saya. Melihat anak-anak ayam saya masih kebingungan mencari induknya. Sementara anak-anak ayam kehilangan induk, tapi mereka masih ada yang memelihara, jadi tidak akan kelaparan. Keseimbangan yang aneh dan memilukan. Ah, ternyata memang benar, kadang kematian satu makhluk hidup adalah sumber kehidupan bagi makhluk hidup lainnya. Seperti yang saya alami baru saja. Dua teman yang saya lihat status WhatsApp-nya tadi memperbarui statusnya lagi. Saya lihat teman yang mencari donor plasma mengabarkan bahwa bapaknya akhirnya berpulang, sedang teman satunya mengabarkan bahwa ia bersyukur pada akhirnya mendapatkan satu kamar ICU untuk bapaknya.

Sekarang ini, kabar kematian seseorang di ruang ICU adalah kesedihan bagi orang-orang yang menyayanginya, tapi juga kabar baik bagi sebagian yang lain, karena berarti ada kamar kosong yang bisa dimasuki. Berita duka yang terdengar setiap hari lama-lama memang membuat hati imun. Sungguh keseimbangan yang memilukan.

Impian Nopitasari penulis fiksi berbahasa Indonesia dan Jawa, tinggal di Solo

(mmu/mmu)