Pustaka

Mengelola Perbedaan Moralitas

Ahmad Yazid - detikNews
Sabtu, 13 Feb 2021 11:23 WIB
ilustrasi cerpen
Jakarta -

Judul Buku: The Righteous Mind; Penulis: Jonathan Haidt; Penerjemah: Damaring Tyas Wulandari Palar; Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta, November 2020; Tebal: xv + 464 Halaman

Hidup di negara dengan beragam kelompok agama dan partai politik seperti Indonesia sering membuat kita cemas. Sebab, alih-alih bisa dijahit menjadi kekuatan, perbedaan yang ada malah sering memicu ketegangan hingga permusuhan. Kita sendiri telah melihat bagaimana akhir-akhir ini antarteman dan keluarga saja bisa bersitegang karena urusan politik dan agama.

Melihat fenomena ini, kita lalu bertanya, mengapa kita bisa berbeda dalam hal politik dan agama? Ketika perbedaan terjadi, kenapa kelompok agama dan politik susah untuk hidup rukun? Dibanding bekerja sama, kenapa suatu kelompok malah lebih memilih untuk menjatuhkan kelompok lain yang berbeda paham?

Hadirnya buku The Rigtheous Mind karya Jonathan Haidt, seorang profesor psikologi sosial ini membantu kita menjawab pertanyaan di atas. Haidt sudah sejak lama tertarik akan hal ini. Ketertarikan tersebut lalu membawanya terjun ke dalam dunia psikologi moral karena bagaimanapun, politik dan agama merupakan ekspresi dari pandangan moral manusia.

Tiga Prinsip Utama

Haidt membagi buku ini menjadi tiga bagian; setiap bagiannya merupakan prinsip utama psikologi moral. Bagian pertama menjelaskan tentang sumber moralitas manusia, yaitu intuisi atau emosi, bukan penalaran. Bagi Haidt, penalaran strategis malah datang belakangan, yaitu sebagai justifikasi atas intuisi moral yang sudah dipilih oleh seseorang atau sekelompok orang.

Untuk memperkuat tesisnya, Haidt menampilkan berbagai hasil riset yang telah dilakukan. Temuan tersebut menunjukkan betapa gemarnya manusia menilai dan bertindak secara intuitif, termasuk dalam masalah moral.

Haidt memberikan sebuah metafora yang menarik tentang hal tersebut. Ia mengatakan, "Akal itu terbagi, bagaikan penunggang di atas gajah, dan tugas si penunggang adalah melayani si gajah." Dalam hal ini, akal yang menalar diibaratkan sebagai penunggang dan pelayan. Sementara emosi, hati, atau intuisi merupakan gajah atau rajanya. Kurang lebih begitulah pilihan dan tindakan moral manusia bekerja: intuisi duluan, penalaran strategis datang belakangan.

Selanjutnya, di bagian kedua, Haidt menjelaskan tentang landasan moral manusia. Ia menggunakan berbagai hasil pengamatan antropologi dan teori psikologi evolusioner untuk menggali dan melacak hal tersebut. Alhasil, enam landasan moral manusia, yaitu landasan pengayoman, keadilan, kesetiaan, kewenangan, kesakralan, dan kebebasan merupakan hasil evolusi dari perjalanan hidup manusia.

Di lapangan, sekelompok orang yang tergabung dalam ideologi tertentu memiliki prioritas yang berbeda terhadap keenam landasan moral di atas. Ada kelompok yang lebih mengutamakan salah dan benar berdasarkan landasan pengayoman. Namun ada pula kelompok yang pilihan moralnya berpegang teguh pada landasan kesakralan. Dari penjelasan tersebut, kita mulai paham kenapa kita bisa berbeda dan bersikeras dengan pilihan moral kita masing-masing.

Terakhir, di bagian ketiga, Haidt membahas tentang sifat manusia yang di satu sisi egois, tapi di sisi lain ia juga altruis dan senang berkelompok. Hidup dengan cara demikian, yaitu berkelompok, membantu manusia untuk mencapai berbagai hal yang tidak bisa diraih jika ia bekerja seorang diri. Singkatnya, manusia perlu kelompok.

Untuk menciptakan kestabilan dan kerja sama yang baik di dalam kelompok, setiap kelompok perlu membuat nilai dan aturan tertentu. Haidt melihat moralitas yang diusung oleh agama dan kelompok politik muncul dari proses tersebut. Manusia memerlukan kelompok, dan untuk memperkuat ikatan antarsesama anggota, mereka perlu menciptakan moralitas.

Pertanyaannya, bagaimana manusia bisa tergerak untuk bergabung ke dalam kelompok agama atau politik tertentu? Haidt memandang bahwa kecenderungan manusia terhadap kelompok tertentu pertama kali dipengaruhi oleh "gen yang membangun otak". Gen-gen ini membentuk sikap manusia terhadap dunia luar. Namun, ini hanyalah kecenderungan, sebab lingkungan dan pengalaman hidup juga memiliki pengaruh yang kuat.

Menyeimbangkan Perbedaan

Selama ini perbedaan moralitas di antara kelompok politik dan agama lebih sering melahirkan permusuhan. Haidt telah menjelaskan kenapa hal ini bisa terjadi, yaitu karena moralitas berada dalam ranah rasa, bukan rasio. Selain itu, moralitas juga bersifat mengikat dan membutakan. Hanya saja, bersikap yang demikian --bermusuhan karena perbedaan pilihan moral-- tidak bisa terus dipelihara jika kita masih ingin hidup bersama.

Melalui buku ini, Haidt tidak mengajak untuk menyatukan perbedaan moralitas yang ada di masing-masing kelompok. Dari penjelasannya tentang psikologi moral manusia, ia hanya berharap perbedaan ini bisa kita arahkan ke hal yang bersifat konstruktif. Seperti Yin dan Yang, kita seharusnya bisa mengelola perbedaan yang ada sebagai penyeimbang untuk menjalankan roda kehidupan.

Buku ini benar-benar relevan untuk situasi saat ini. Di saat perbedaan moralitas selalu mengarah kepada pertengkaran, buku ini hadir menyadarkan kita tentang kenapa kita bisa menilai baik dan buruk secara berbeda, kenapa kita perlu moralitas, dan kenapa kita begitu terikat dengan kelompok yang memperjuangkan nilai-nilai moral tertentu.

Menghadirkan berbagai teori dan pandangan, menyertakan banyak sekali riset, lalu mengolahnya menjadi cerita yang asik, buku ini benar-benar layak menjadi bacaan pembuka di awal tahun. Selamat membaca.

Ahmad Yazid pengajar IAIN Pontianak

(mmu/mmu)