Kolom

Nelayan, SAR, dan Keamanan Laut

Anta Nasution - detikNews
Kamis, 11 Feb 2021 15:00 WIB
Tim penyelam gabungan sudah memulai proses evakuasi di perairan Kepulauan Seribu, tempat jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ182, Selasa (12/1/2021). Penyelam terlihat menemukan serpihan pesawat.
Aksi tim SAR dalam kecelakaan pesawat Sriwijaya Air di perairan Kepulauan Seribu (Foto: Grandyos Zafna)
Jakarta -

Di awal tahun 2021, tepatnya tanggal 9 Januari, Indonesia kembali berduka dengan jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182. Sebelum adanya konferensi pers resmi tentang kecelakaan tersebut, halaman berita terlebih dahulu diramaikan dengan kesaksian nelayan-nelayan Kabupaten Kepulauan Seribu yang mendengar adanya ledakan dan menemukan puing-puing pesawat di sekitar perairan. Bermula dari kesaksian nelayan-nelayan tersebut kemudian pemerintah bergegas menurunkan tim untuk proses pencarian dan evakuasi.

Tidak jarang kesaksian nelayan menjadi sumber informasi awal terkait adanya pesawat yang jatuh ke laut. Selain itu, informasi tersebut juga kerap menjadi titik pertama lokasi pencarian dan evakuasi yang dilakukan oleh petugas. Kesaksian nelayan bermacam-macam bentuknya, bisa berupa temuan serpihan bagian pesawat atau benda-benda milik korban, bisa juga melihat kepulan asap hingga mendengar adanya ledakan. Tidak sampai di situ, nelayan juga kerap ikut andil membantu petugas dalam operasi search and rescue (SAR) pesawat yang jatuh di laut.

Saya mencatat sedikitnya ada 4 kecelakaan pesawat yang jatuh di perairan laut Indonesia dan pada saat operasi SAR-nya melibatkan nelayan. Pertama, kecelakaan pesawat Adam Air 574 yang jatuh di perairan Selat Makassar pada 1 Januari 2007. Kedua, kecelakaan pesawat AirAsia QZ8501 yang jatuh di perairan Selat Karimata pada 28 Desember 2014. Ketiga, kecelakaan pesawat Lion Air JT 610 yang jatuh di perairan Karawang pada 29 Oktober 2018. Keempat, yang masih hangat dalam ingatan kita, yaitu pesawat Sriwijaya Air SJ 182 yang jatuh di Perairan Kepulauan Seribu pada 9 Januari 2021.

Andil nelayan dalam Operasi SAR pada 4 kecelakaan pesawat tersebut antara lain adalah dengan menggunakan kapal nelayan ikut serta membantu petugas mencari serpihan badan pesawat dan tubuh korban. Selain itu, nelayan juga memberikan Informasi penting tentang kondisi perairan tempat pencarian berlangsung. Karena rata-rata nelayan yang terlibat dalam operasi SAR adalah nelayan lokal yang mengerti akan kondisi lokasi dan cuaca di perairan tersebut.

Memberi Informasi

Pada Desember 2020 jagat Indonesia diramaikan dengan adanya berita tentang nelayan asal Kepulauan Selayar yang menemukan seaglider milik negara asing di perairan Indonesia. Kemudian temuan ini membuat banyak spekulasi miring terkait adanya aktivitas "mata-mata" negara asing di laut Indonesia. Selain itu, juga menimbulkan banyak pertanyaan terkait kemampuan negara dalam mendeteksi adanya benda-benda asing bawah laut yang masuk ke perairan Indonesia untuk mengambil data tanpa seijin otoritas negara.

Terlepas dari spekulasi dan pertanyaan kemampuan negara mendeteksi benda asing bawah laut, nelayan membuktikan bahwa perannya sangat penting dalam memberi Informasi kepada instansi penegak hukum laut terkait hal-hal yang menyangkut keamanan dan kedaulatan wilayah laut.

Hasil penelitian yang saya lakukan pada 2017 dan 2018 tentang peran nelayan dalam membantu tugas instansi penegak hukum laut menunjukkan bahwa nelayan mempunyai peran penting dalam mencegah ancaman keamanan laut. Peran yang dilakukan nelayan adalah dengan memberikan informasi kepada petugas atau dengan kata lain menjadi perpanjangan tangan dan mata petugas dalam menjaga keamanan laut. Jenis ancaman keamanan laut yang bisa dicegah oleh petugas berkat Informasi dari nelayan antara lain adalah penangkapan ikan ilegal, penyelundupan, perdagangan manusia, dan perompakan.

Salah satu implementasi peran nelayan sebagai perpanjangan tangan dan mata untuk petugas adalah nelayan-nelayan yang tergabung ke dalam Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas). Nelayan-nelayan tersebut dibina langsung oleh petugas dari Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (PSDKP KKP). Pokmaswas bertugas memantau dan memberikan informasi kepada petugas PSDKP terkait adanya pelanggaran perikanan seperti penangkapan ikan illegal, bom ikan, dan penyelundupan agar bisa dicegah sebelum terjadi.

Selain itu, ada juga nelayan yang berperan dalam menyuplai informasi kepada TNI AL terkait dengan adanya kejahatan di laut seperti penyelundupan barang-barang ilegal dan perompakan. Bedanya dengan nelayan yang tergabung dalam Pokmaswas adalah nelayan yang memberi Informasi ke TNI AL biasanya sudah dibina dan diberikan penyuluhan melalui program Pembinaan Desa Pesisir (Bindesir) di bawah Dinas Potensi Maritim Angkatan Laut.

Meningkatkan Peran

Apa yang dilakukan oleh nelayan dalam membantu operasi SAR dalam kecelakaan pesawat yang jatuh di laut maupun dalam membantu menjaga keamanan laut merupakan prescribed role atau peran yang diharapkan. Prescribed role terjadi karena sebenarnya peran utama dari nelayan adalah menangkap ikan. Maka dari itu, bisa dibilang apa yang dilakukan nelayan tersebut termasuk ke dalam aksi volunteering atau secara sukarela.

Peran nelayan dapat lebih ditingkatkan melalui program penyuluhan dan pelatihan yang berkaitan dengan SAR dan keselamatan di laut. Program tersebut dapat dilaksanakan secara rutin oleh instansi pemerintahan yang menyelenggarakan tugas pencarian, pertolongan, dan menjaga keselamatan di laut seperti Bakamla, Kesatuan Penjaga Laut dan Pantai (KPLP), dan Basarnas. Hasil dari program tersebut akan menciptakan nelayan yang mempunyai kemampuan dasar untuk membantu petugas dalam melakukan berbagai macam operasi SAR di laut, sekaligus menjadi "agen" keselamatan di laut.

Sementara untuk meningkatkan peran nelayan dalam menjaga keamanan laut dapat diwujudkan dengan adanya sinergi antara program pembinaan yang dimiliki oleh TNI AL (Bindesir) dengan PSDKP KKP (Pokmaswas). Sinergi dapat dilakukan dengan membuat alur kordinasi bersama dalam kegiatan pengawasan wilayah pesisir dan laut.

Ke depannya, diharapkan pemerintah atau instansi terkait dapat memberikan insentif kepada nelayan yang membantu kinerja petugas. Meskipun dalam menjalankan tugasnya nelayan bersifat sukarela, setidaknya dengan adanya insentif akan memberi penghasilan tambahan bagi nelayan. Karena apa yang dilakukan nelayan dalam membantu operasi SAR dan membantu menjaga keamanan laut memberikan dampak yang positif bagi kinerja petugas.

Anta Maulana Nasution peneliti bidang kemaritiman pada Pusat Penelitian Politik LIPI

(mmu/mmu)