Kolom

Wakaf Uang, Anak Muda, dan Tantangan Kredibilitas

Iryan Ali Herdiansyah - detikNews
Rabu, 10 Feb 2021 14:47 WIB
Ilustrasi uang tunai
Foto ilustrasi: Getty Images/iStockphoto/CraigRJD
Jakarta -

Gerakan Nasional Wakaf Uang (GNWU) yang dicanangkan pemerintah (25/1) memunculkan harapan untuk membantu pengentasan ketimpangan dan kemiskinan. Benarkah demikian? Siapa yang ditarget? Lantas, bagaimana respons masyarakat terhadap GNWU ini?

Ketika saya melakukan riset konsumen dan menulis buku GenM: Generation Muslim (2017), kami sudah memprediksi bahwa wakaf uang akan menjadi salah satu produk filantropi yang bakal naik daun. Dengan kesadaran memberi yang semakin meningkat di kalangan masyarakat serta fasilitas kemudahan dalam skema wakaf tunai, bukan tidak mungkin bahwa ini akan menjadi the new rising star di kalangan lembaga pengelola dana publik.

Terbukti, ketika saya berdiskusi dengan salah satu direktur di Dompet Dhuafa, wakaf uang tumbuh pesat dalam beberapa tahun terakhir, walaupun nilai rupiahnya masih kalah dibandingkan jenis "produk" filantropi lain seperti zakat, infaq, sedekah, dan lainnya. Untuk itu, tak salah jika pemerintah punya harapan besar terhadap wakaf tunai agar pangsa pasarnya semakin membesar sehingga kebermanfaatannya dapat dirasakan masyarakat.

Lalu, siapa yang harus disasar agar program gerakan wakaf uang ini berhasil? Menurut hemat saya, anak muda adalah segmen yang sedang hot seperti terlihat dari hasill Sensus Penduduk (SP) 2020 BPS. Anak muda ini adalah mereka yang berada dalam rentang 18-40 tahun yaitu Gen Z dan Gen Y. Berdasarkan data SP 2020, terdapat jumlah Gen Z sebesar 27,94% (74,93 juta) dan Milenial sekitar 25,87% (69,38 juta).

Dengan porsi lebih dari 50% populasi Indonesia, maka ini bisa dikatakan sebagai masa depan pasar wakaf uang. Pertanyaannya, bagaimana cara menyasar segmen ini? Kuncinya adalah kita harus memahami perilaku mereka. Saya memetakan ada tiga karakteristik penting dalam perilaku memberi mereka (giving behavior) yakni berpendapatan pas-pasan tetapi suka berbagi, memiliki rasa empati serta kepedulian sosial dan generasi digital yang cenderung cashless.

Pendapatan Pas-Pasan Tapi Suka Berbagi

Segmen anak muda ini dikenal sebagai kelompok yang memiliki daya beli atau simpanan terbatas. Hal ini wajar karena mereka adalah orang yang masih meniti karier atau kariernya yang sedang berada di area tengah-tengah. Dengan begitu, kondisi keuangannya relatif masih terbatas.

Meskipun dari sisi kepemilikan uang simpanan di tabungan mayoritas orang Indonesia World Giving Index 2009-2018 oleh Charities Aid Foundation. Dari kesepuluh negara paling dermawan itu, tiga di antaranya adalah negara berkembang yang berpendapatan menengah yakni Myanmar, Sri Lanka, dan Indonesia. Sisanya adalah negara maju dan berpendapatan tinggi.

Pada 2018, dengan variabel (1) membantu orang asing, (2) mendonasikan uang dan (3) volunteering time, Indonesia menempati posisi ke-1 di dunia paling dermawan. Dalam laporan World Giving Index 2018 disebutkan bahwa dalam hal mendonasikan uang, ada 78% orang Indonesia yang gemar berbagi. Dengan demikian, meskipun berpendapatan pas-pasan, sebenarnya gaya hidup berbagi dalam masyarakat Indonesia itu sudah mendarah daging.

Wakaf uang ini saya kira memang dirancang untuk dapat memberikan peluang bagi segmen anak muda yang dari sisi aset likuid atau non-likuid belum terlalu banyak. Dengan wakaf tunai, mereka bisa menjadi wakif (donatur wakaf) berdasarkan tingkat kemampuannya. Mereka bisa menyisihkan dari penghasilannya untuk wakaf produktif yang akan dikelola nazhir tanpa khawatir mengganggu pos pengeluaran lainnya.

Muda dan Bergerak

Sebagaimana sejumlah hasil survei, kelompok anak muda ini lebih menyukai social business innovation atau social movement marketing daripada sekadar business as usual atau taktik pemasaran biasa. Bila di dalam pemasaran ada kategori benefit fungsional dan emosional, maka mereka adalah kelompok orang yang mulai mempertimbangkan societal benefit di dalam keputusan pembelian. Yakni, manfaat yang didapat oleh konsumen karena membeli produk/jasa atas kontribusi brand terhadap pemecahan permasalahan sosial kemasyarakatan masyarakat (social impact).

Umpamanya, anak muda suka membeli brand kopi yang dinilai punya kepedulian pada petani kopi daripada sekadar menawarkan kenikmatan rasa atau promo harga. Tumbuhnya kesadaran sosial di kalangan anak muda ini membuat mereka tidak sekadar konsumtif semata, melainkan memiliki aspirasi kepedulian terhadap sesama ataupun lingkungan. Muda dan bergerak.

Apabila gerakan wakaf uang ini ingin menyasar kelompok anak muda, maka program adalah value proposition yang ingin dilihat oleh mereka. Seberapa menarik program yang ditawarkan sehingga cocok dengan aspirasi kesadaran sosialnya. Selain itu, karena mereka melek informasi dan digital native, perilaku anak muda ini juga ingin tahu bagaimana program itu dijalankan, siapa target penerima manfaat, transparansi pelaksanaan, paramater pencapaian, hingga progres hasil yang dicapai.

Menurut salah satu direktur di Dompet Dhuafa, anak muda ini cukup demanding untuk memantau pelaksanaan program. Karena itu, menarget mereka haruslah profesional dan telaten untuk melayani kemauan mereka. Ketika saya menulis buku GenM dan melakukan survei di lapangan, banyak responden yang mengatakan bahwa ketika memilih lembaga filantropi untuk menyalurkan donasi atau wakaf, mereka memilih lembaga yang direkomendasikan oleh teman atau memiliki kredibilitas.

Kredibilitas di sini dapat diartikan sebagai profesionalisme dalam mengelola: bagaimana program yang dirancang, siapa penerima manfaat, parameter target capaian program, transparansi penyelenggaraan, hingga progres hasil capaian.

Generasi Cashless

Bila berkaca pada perilakunya, anak muda ini adalah digital native yang rata-rata sangat mengandalkan pada cara kemudahan bertransaksi. Kemudahan bertransaksi itu salah satu cirinya ialah cashless karena transaksi secara mobile. Karena itu, tak heran apabila mereka bisa disebut sebagai cashless generations.

Dalam perilaku filantropi pun mayoritas anak muda ini mengandalkan platform cashless. Tak heran apabila online philanthropy platform tumbuh pesat di Tanah Air, yang mayoritas donaturnya adalah anak muda. Contohnya, Kitabisa yang berbasis online mampu mengumpulkan dana publik (fund raising) yang nilainya kini telah melewati lembaga pengelola uang masyarakat.

Adanya wakaf uang ini dimungkinkan calon wakif dimudahkan untuk transaksi cashless. Dalam akad, mereka bisa memberikan wakaf tunai dalam bentuk transfer, autodebit ataupun cara lainnya. Dengan demikian, wakaf uang ini sangat sesuai dengan perilaku anak muda yang serba non-tunai.

Tantangan Terbesar

Di atas adalah potret perilaku anak muda dalam berwakaf. Pertanyaannya, apa tantangan untuk menyukseskan gerakan nasional wakaf uang ini? Saya melihat satu tantangan terbesar dari mengampanyekan gerakan ini adalah kredibilitas inisiator dan lembaga pengelola dana publik.

Misi gerakan wakaf sendiri sebenarnya sungguh mulia dan semua orang atau calon donaturnya yang dibidik pasti menyukainya. Gerakan ini bisa membantu dalam penanganan kemiskinan akibat pandemi. Dengan wakaf uang, donatur bisa mendonasikan pendapatannya secara reguler yang akan dikelola lembaga pengelola dana publik untuk turut serta dalam penanggulangan program kemiskinan.

Tetapi, ketika melihat inisiator kampanye gerakan wakaf uang yang menonjol dipimpin oleh Presiden, Wakil Presiden, dan Badan Wakaf Indonesia (representasi lembaga pemerintah) ini agak disayangkan. Menurut saya, sebaiknya bukanlah pemerintah yang mengampanyekan ini.

Gerakan ini dikampanyekan di tengah-tengah ketidakpuasan masyarakat terhadap pemerintah dalam menangani isu radikalisme dan ramainya pemberitaan kasus korupsi bansos. Kedua peristiwa ini tentu sedikit-banyak mempengaruhi persepsi publik terhadap kinerja dalam merangkul umat Islam dan mengelola dana masyarakat.

Dalam hal menangani isu radikalisme, meskipun kelompok yang dianggap radikal oleh pemerintah ini dinilai jumlahnya sedikit, tetapi gaungnya di media sosial cukup kencang dalam mengkritisi kinerja pemerintah, sehingga bisa mempengaruhi aspirasi publik. Dengan demikian, kampanye gerakan wakaf oleh pemerintah dapat menimbulkan kesan, "setelah kelompok Islam 'dipukul', kini ingin uangnya."

Sedangkan di dalam pengelolaan dana masyarakat, munculnya kasus korupsi dana bansos ini bisa memicu ketidakpercayaan umat. Meskipun pemerintah bukan pengelola langsung dan bertindak sebagai regulator wakaf uang, tetapi karena inisiator gerakannya langsung dipimpin Presiden, Wakil Presiden, dan para menteri, masyarakat belum tentu langsung percaya seratus persen. Ini bisa menyulitkan untuk membangun kampanye gerakan wakaf tunai.

Ke depan, sebaiknya pemerintah menggandeng lembaga-lembaga pengelola dana publik yang kredibel untuk menjadi inisiator gerakan. Dengan cara ini, barangkali kita bisa merangkul hati masyarakat untuk percaya mewakafkan hartanya.

Iryan Ali Herdiansyah co-author buku Marketing to the Middle-Class Muslim (2014) dan GenM (2017)

(mmu/mmu)