Kolom

Menuju Mobil Listrik Sejuta Umat

Rahayu Widayanti, Aviv Jauhary - detikNews
Rabu, 10 Feb 2021 12:15 WIB
Mobil Listrik Sion
Foto ilustrasi: sonomotors
Jakarta -

Setahun terakhir perkembangan mobil listrik sangat menggembirakan. Dua komponen utama yang menjadi prasyarat perkembangan pasar mobil listrik yaitu produksi dan infrastruktur mulai terurai. Sudah ada inisiatif dari berbagai pihak terhadap kedua hal tersebut. Tiga pihak utama yang menentukan perkembangan pasar mobil, yaitu pabrik mobil, kalangan industri penunjang, dan pemerintah mempunyai semangat tinggi untuk mendorong kemajuan mobil listrik di Indonesia.

Dari pihak pembuat mobil, Hyundai dan Toyota sudah mengumumkan rencana mereka untuk membangun mobil listrik di Indonesia. Dengan nilai investasi US$ 1,5 miliar, pabrik mobil listrik Hyundai mulai dibangun tahun ini di Bekasi dan akan mulai produksi pada 2022 untuk pasar lokal maupun ekspor. Sementara itu, Toyota akan membangun fasilitas produksi untuk mobil listrik dengan total nilai US$ 2 miliar pada 2024.

Dengan dilakukannya proses produksi di dalam negeri, biaya produksi dapat ditekan. Toyota sendiri sudah menjadi salah satu pemain utama di Indonesia dalam penjualan mobil elektrifikasi, di mana hingga Desember 2020, lebih dari 3.400 unit mobil elektrifikasi telah dikirimkan kepada konsumen.

Masalah infrastruktur penunjang yang sangat penting pun sudah "pecah". PLN, aktor utama dalam penyediaan stasiun pengisian tenaga listrik, giat bekerja untuk membangun stasiun pengisian tenaga listrik dan kini sudah memiliki 37 Stasiun Pengisian Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU ), di luar ribuan Stasiun Pengisian Listrik Umum (SPLU), listrik untuk keperluan apapun.

Terakhir, BUMN penghasil dan distributor listrik ini akan membangun 4 SPKLU di tol trans Jawa untuk mendukung pengguna mobil listrik yang melakukan perjalanan jarak jauh. PLN menargetkan pembangunan 2.400 SPKLU hingga 2025 yang berarti 480 unit per tahun, suatu ambisi besar yang sangat menantang, termasuk dari segi biaya. Untuk itu PLN akan mengajak pihak ketiga (mitra) untuk mempercepat dan meringankan pekerjaan ini.

Sudah ada beberapa uji coba SPKLU yang dibangun dengan mitra, salah satunya adalah Pertamina yang bisnis SPBU-nya akan surut dengan berkembangnya pasar mobil listrik. Jika mobil listrik sudah semakin menjamur, pihak swasta pun otomatis akan tertarik membangun SPKLU.

Perusahaan listrik negara ini membungkam kekhawatiran banyak kalangan mengenai pembangunan infrastruktur yang menjadi syarat tumbuhnya pasar mobil listrik. Menurut Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), dibutuhkan sekitar Rp 309 miliar untuk membangun SPKLU pada tahun ini. Nilai tersebut diperkirakan akan meningkat menjadi Rp 12 triliun untuk membangun SPKLU di seluruh Indonesia, dengan mempertimbangkan pasar mobil listrik akan semakin luas.

Di atas semua tantangan perkembangan mobil listrik adalah peran pemerintah. Dalam hal ini, pemerintah pun tak kalah gesit dengan kalangan dunia usaha. Tahun lalu keluar PP No. 73 Tahun 2019 yang membebaskan bea masuk barang mewah (PPnBM) untuk mobil listrik dan hybrid, asalkan konsumsi bahan bakarnya lebih dari 28 km/l atau memiliki tingkat emisi CO2 sampai dengan 100 gram per km.

Selain terhadap sisi supply, peraturan juga bisa diarahkan pada sisi demand. Untuk mendorong pertumbuhan mobil listrik, Bank Indonesia mengeluarkan peraturan yang mengubah struktur pembiayaan kepemilikan kendaraan, khusus untuk kendaraan listrik. Peraturan BI No. 22/13/PBI/2020 yang berlaku mulai 1 Oktober 2020 ini mengizinkan Kredit Kendaraan Bermotor dengan uang muka 0%.

Pemerintah pusat sudah cukup cepat dan agresif mengeluarkan peraturan di tingkat makro untuk mendorong perkembangan pasar mobil listrik. Kondisi ini harus ditindaklanjuti dengan peraturan yang sifatnya lebih hilir dan mikro/lokal alias provinsi. Pemda DKI Jakarta sudah menetapkan mobil listrik bebas dari aturan ganjil-genap. Selain itu, Pemda Jakarta dan juga Bali, memberikan diskon pajak kendaraan dan Bukti Kepemilikan Kendaraan Bermotor (BPKB). Jika provinsi lain mengikuti langkah ini, tentu perkembangan mobil listrik akan semakin cepat.

Dan, memang kalangan swasta ingin lebih dari itu. Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) sudah meminta kepada Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan untuk mengeluarkan peraturan yang mewajibkan mal, rumah sakit dan tempat publik lainnya untuk menyediakan fasilitas pengisian listrik, dan bahkan parkir gratis. Gubernur Anies pada prinsipnya menyetujui ide ini.

Harga dan Konsumen

Akhirnya semua hal di atas bermuara di titik yang sama: Harga. Pada akhirnya, konsumenlah yang memutuskan membeli atau tidak. Tentu, mereka tertarik dengan hal-hal seperti isu lingkungan; tapi daya beli, itu soal lain.

Saat ini, harga mobil listrik (di luar hybrid, plug-in hybrid) termurah masih berkisar di angka Rp 600 jutaan. Harga ini masih terlalu tinggi bagi kebanyakan konsumen kendaraan roda empat di Indonesia. Angka itu lebih dari dua kali lipat dari mobil-mobil "sejuta umat" yang berkisar di angka Rp 250 juta.

Jika dilihat harga terendah mobil listrik yang sekarang beredar yang merupakan completely build-up (CBU) di atas Rp 600 juta, yang di dalamnya terkandung bea masuk, PPN dan PPh, sementara PPnBM 0%; sehingga membuat harga mobil bisa menjadi paling tidak dua kali lipat dari harga asal, maka jika diproduksi dalam negeri harga mestinya bisa Rp 300 jutaan. Itu baru dari faktor bea masuk dan pajak. Belum lagi dari biaya produksi (upah buruh yang lebih rendah dan lain-lain) yang lebih rendah. Alhasil, harga mobil listrik dapat turun secara signifikan.

Penurunan harga berlanjut jika pabrik baterai mobil listrik sudah berdiri di dalam negeri dan produksinya dipakai oleh pabrik mobil listrik di Indonesia. Penurunan harga akan cukup berpengaruh karena komponen baterai merupakan 30% - 40% dari harga mobil (pada tipe BEV/Battery Electric Vehicle). Atau, dari segi produksi, ongkos produksi baterai mencapai 70% dari total biaya produksi mobil.

Sudah ada beberapa pihak yang tertarik untuk menanamkan investasi pabrik baterai mobil listrik. Yang pertama, pihak Indonesia sendiri, yaitu konsorsium BUMN, terdiri dari PT Aneka Tambang, PT Pertamina dan PLN, yang akan membentuk perusahaan induk PT Indonesia Battery. Perusahaan ini akan bermitra dengan perusahaan dari China dan Korea Selatan untuk menggarap industri nikel dari hulu (eksplorasi) hingga hilir (baterai mobil listrik).

Dari pihak luar, pemilik Tesla, Elon Musk dan Panasonic menyatakan minat untuk membangun fasilitas produksi di Indonesia. Lantas ada beberapa pihak lain yang juga sedang menjajaki untuk membangun fasilitas produksi di Indonesia.

Daya tarik Indonesia untuk menjadi lokasi pabrik baterai mobil listrik memang besar. Dengan cadangan nikel sebesar hampir 12 miliar ton, perut bumi Indonesia menyimpang 27% cadangan nikel dunia. Lokasi pabrik baterai mobil listrik yang tidak jauh dari tambang nikel akan menjadikan rantai produksi lebih efisien. Melalui Permen ESDM Nomor 11 Tahun 2019, pemerintah pun telah melarang ekspor bijih nikel. Nikel mentah, harus diproses di dalam negeri.

Kembali ke masalah harga. Jadi jika pabrik mobil dan baterai listrik sudah berdiri di dalam negeri, harga bisa sekitar Rp 300 juta. Angka ini masih paling tidak Rp 50 juta lebih tinggi dari pada harga mobil "sejuta umat" Rp 250 juta yang menjadi rujukan jika ingin menjadikan mobil listrik menjadi mobil masal di Indonesia. Masih ada kesenjangan sekitar Rp 50 juta. Tapi perkiraan angka di atas baru dari sisi produksi.

Dari sisi konsumen, daya beli meningkat dengan aturan uang muka 0%. Pembelian tanpa uang muka ini memang mengakibatkan cicilan per bulan menjadi tinggi, namun hal ini akan diimbangi dengan biaya operasional mobil listrik yang lebih rendah dari pada mobil berbahan bakar fosil.

Dari beberapa uji coba, penghematan energi bisa mencapai 80%. Maka, jika pengeluaran untuk bahan bakar pada mobil berbahan bakar fosil, sebesar Rp 1,5 juta per bulan, misalnya, berarti ada penghematan Rp 1,2 juta. Belum lagi dari biaya perawatan (bengkel) yang lebih rendah karena komponen motor penggerak yang lebih sedikit. Ini suatu penghematan yang sangat besar, yang bisa "ditukar" dengan kenaikan cicilan kredit dari perbedaan harga mobil Rp 50 juta.

Di luar itu, dari sisi teknis, mobil listrik juga terus mengalami peningkatan kemampuan, baik dalam daya jelajah yang semakin jauh, kecepatan pengisian baterai, serta fitur-fitur pintar lainnya yang terdapat pada mobil listrik, yang akan membuat mobil semakin nyaman dan menarik di mata konsumen. Ditambah faktor non-teknis (hemat biaya operasional, mengurangi polusi udara dan suara, kemudahan pengisian daya listrik, dan prestige), lengkaplah daya tarik mobil listrik ini.

Pasar global

Satu hal yang jelas, perkembangan mobil listrik di Indonesia tidak lepas dari perkembangan mobil listrik di pentas global. Dalam riset yang dipublikasi DBS beberapa waktu lalu, disebutkan volume penjualan mobil listrik akan naik 24% per tahun menjadi 22,3 juta unit pada 2030. Di luar negeri, terutama China dan India, dua negara dengan jumlah penduduknya terbanyak di dunia tersebut menjadi target pasar mobil murah. Hal ini ditunjukkan dengan munculnya beberapa mobil listrik yang murah.

Setelah kedua negara itu, kemungkinan besar Indonesia menjadi sasaran pasar para pembuat mobil listrik murah berikutnya, sesuai urutannya dalam daftar negara dengan jumlah populasi terbanyak di Asia. Sebagai contoh, Renault K-ZE sudah beredar di China dengan harga jual 61.800 Yuan atau sekitar Rp 120 juta. Setelah China, Renault sedang membawa mobil ini ke India. Mobil ini sudah "mejeng" di India Auto Expo 2020 dan tahun depan akan meluncur di jalan-jalan di India.

Menurut pihak Renault, mobil seperti ini dapat menjadi pelopor mobil listrik murah apabila dibawa ke Indonesia. Harga mobil yang lebih rendah juga ada, seperti mobil Wuling Hong Guang Mini EV yang dikeluarkan di China dan Mahindra e2oPlus di India --sekadar menyebutkan contoh. Keduanya mendapat respons luar biasa dari pasar. Pesanan terhadap Hong Guang Mini EV misalnya, mencapai 15 ribu dalam 20 hari pertama.

Untuk pasar Indonesia, prospek mobil kecil belum terlihat terlalu cerah mengingat karakter konsumen Indonesia yang berorientasi keluarga dan senang berkumpul dan pergi ramai-ramai. Akan tetapi, fenomena di China menunjukkan gairah konsumen terhadap mobil generasi baru ini sekaligus membuktikan bahwa sangat mungkin untuk membuat mobil listrik dengan harga yang sangat terjangkau. Namun, siapa tahu mobil kecil akan menjadi tren pada tahun mendatang, terutama bagi generasi muda.

Beberapa pihak pembuat mobil listrik lain juga sudah melirik pasar Indonesia. Suzuki dikabarkan akan segera mengeluarkan Wagon R EV seharga 1 juta Rupee (Rp 190-an juta). Bahkan, Tesla yang sebelumnya memproduksi mobil listrik premium, akan memproduksi mobil listrik seharga Rp 300 jutaan. Kompetisi antar produsen mobil listrik akan menekan harga agar lebih ramah bagi konsumen.

Jalan mencapai impian mobil listrik menjadi mobil masal di pasar Indonesia masih membutuhkan waktu. Tapi arahnya sudah sangat jelas.

Rahayu Widayanti Research Director Central Insight dan Aviv Jauhary Senior Associate Consultant Central Insight

(mmu/mmu)