Kolom

Membaca Zaman Akhir Secara Metaforis

Afrizal Qosim Sholeh - detikNews
Rabu, 10 Feb 2021 11:18 WIB
tentang hukum dan keadilan
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Setiap ada tokoh langka yang banyak dicintai orang meninggal, saya bagai anak kecil yang terpukul lesu, lalu hati kecil berbisik yang tidak-tidak. Seperti ketika Habib Jakfar al Kaff, guru kami di pesantren; Kiai Najib Krapyak menyusul Sayyidil Walid, Syekh Ali Jaber, dan ulama lain berpulang, secara spontan hati saya nggerundel, "Mengapa bukan koruptor dan tokoh-tokoh jahat yang pamer gagah dan tidak peduli kepentingan orang banyak itu yang dicabut nyawanya? Mengapa justru orang baik yang dicintai itu yang dipanggil?" Astaghfirullah!

Sepanjang hari-hari berlalu saya terdiam dengan pikiran mengembara. Kenangan demi kenangan dengan pribadi maha guru mulia Kiai Najib, kembali melela seperti gambar hidup. Gus Mus, menyifati Kiai Najib sebagai "hamilul Qur'an yang selalu menunduk, tidak pernah menatap langit."

Ya, Kiai Najib adalah tokoh yang mulai langka di zaman ini. Tokoh yang hidupnya diwakafkan untuk al-Quran dan masyarakat. Bukan saja karena beliau mempunyai pesantren yang sangat berkualitas, lebih dari itu, sepanjang hidupnya Kiai Najib tidak berhenti melayani masyarakat secara langsung, baik melalui Nahdlatul Ulama (Rais Syuriah) maupun PKB (Dewan Syura).

Sebagaimana pada umumnya kiai pesantren, kadang-kadang Kiai Najib melakukan tarbiyah yang tidak bisa dicerna atau dirasakan oleh santri. Saya melihat sendiri bagaimana Kiai Najib merapikan sandal-sandal santri dan bahkan merapikan sepatu Menag Jend. Fahrul Razi yang kala itu beranjangsana ke Pesantren Krapyak. Melalui sikap itu, beliau seolah menyapu pelataran negeri dengan kebatan lidi tajam yang dipenuhi belukar desas-desus posisi pimpinan Menag yang oleh banyak pihak dinilai salah kaprah. Rumah Kiai Najib seakan menjadi rumah bersama yang damai dan menyejukkan.

Sampai hari ini, keyakinan akan gambar-gambar hidup itu terus bersemayam, hidup dan menghidupi ruh-ruh orang-orang yang ditinggalkan. Beliau telah pergi dan kita tidak dapat menahan perginya. Kepergiannya tepat di saat keteladanan dihijab oleh benalu yang meranggas lalu menggerogoti aura moralitas kemanusiaan. Kepulangannya menyingkirkan sebagian dari harapan tegaknya ruh moralitas kemanusiaan al-Qur'an yang kemarin masih agak menyala.

Ramalan

Kepergian ulama sering dilekatkan dengan kematian alam semesta (mautu al-'aalim mautu al-'aalam). Tidak bermaksud berlebihan, kepergian ulama juga sering didekatkan dengan ramalan zaman akhir. Inna bayna yadayyi as-sa'ati li'ayyaman yanzilu fiiha al jahlu wa yurf'au fiiha al 'ilmu (HR. Bukhari) Terhitung sepanjang 2020, 234 kiai wafat. Selama 15 hari awal 2021, 15 ulama wafat. "Pertanda apa?" tulis Husein Ja'far Hadar di akun Twitter-nya.

Keluhan bernada serupa juga disampaikan kerabat-kerabat di pesantren atas data kematian ulama yang dirilis RMI NU yang sudah jamak tersebar di aplikasi pesan jejaring. Bagai handuk basah, keluhan itu menggantungkan pertanyaan ihwal tanda apa yang bisa dipungut dari wafatnya ulama, musibah dan bencana sampai resepsi akan senjakala dunia. Sebagian Muslim mengaitkannya dengan ramalan zaman akhir --"kiamat sudah dekat?"-- dan kita sebagai umat terpilih yang hidup di puncak sejarah mendapat jatah mengalahkan kemungkaran sebagai prakondisi datangnya hari akhir.

Sebelum menggema lebih keras, saya lebih memilih menangkis bau-bau pertanyaan seperti itu. Sebab ini benar-benar bukan kesalehan yang mendasari keyakinan; melainkan kesombongan. Pada dasarnya, permasalahan kiamat sudah termaktub dalam Kitab Suci sebagai ketetapan Allah yang tidak diketahui oleh siapapun. Oleh sebab itu, sebagai Muslim --yang mengimani hari akhir-- sebaiknya kita merenungkan kembali kala menyebut "kiamat dekat" agar tidak terjerumus dan keliru membaca zaman.

Sisi lain dari kiamat adalah ia sering memiliki konsekuensi negatif dalam membidani tumbuhnya generasi pesimis yang lemah gairah berpikirnya. Ambil satu contoh, tantangan utama yang dihadapi Muslim sejak dua abad silam: kenapa kita bergeser terlalu jauh menjadi terbelakang daripada Barat? Jawabannya adalah narasi apokaliptik yang dihidupkan kembali pada tahun 1980 oleh penulis Islam terkenal asal Mesir, Said Ayyub. Dia beserta pengikutnya yang berhaluan konservatif menyatakan kemunculan "Dajjal" --versi Islam dari "antikristus"-- telah dekat.

Apokaliptisisme adalah keyakinan atau lebih tepatnya imajinasi eskatologis, yang melihat bahwa dunia sedang dalam kondisi rusak parah dan dikendalikan para musuh Tuhan sedemikian rupa sehingga tidak mungkin lagi diperbaiki kecuali dengan cara yang luar biasa. Muslim dan mungkin penganut apokaliptik lainnya semestinya membaca obsesi terhadap banyaknya musibah dan kematian ulama secara optimistis. Sebab pesimisme hanya merugikan tidak hanya soal rasionalitas, tapi juga nilai kepercayaan yang sangat fundamental; ketakwaan.

Belajar dari sejarah awal Islam yang mencatat inspirasi cemerlang dari Umar bin Khattab di masa kekhalifahan Abu Bakar Ash-Shiddiq ketika umat Islam kehilangan 1.200 penghafal al-Quran dalam Perang Yamamah. Umar tidak larut dalam kesedihan, malah sahabat berjuluk amirul mukminin itu mendorong agar umat Islam segera melakukan kodifikasi al-Quran --sebab kematian penghafal al-Quan pada masa itu bisa menjadi ancaman terhadap eksistensi al-Quran sendiri.

Dari sini, kita bisa membaca zaman akhir secara metaforis. Kerja ini sebenarnya sudah pernah dilakukan oleh Sarjana Islam abad ke-19, Muhammad Abduh. Dia menandai kedatangan Imam Mahdi sebagai imajinasi untuk mereformasi Islam dalam membangun peradaban luhur "kemurahan hati, cinta dan damai." Atau seperti Gus Baha yang mengajak kita untuk senantiasa mengingat kenikmatan hidup di dunia yang sudah diselimuti halimun kehancuran ini daripada terus berkeluh kesah dengan kesusahan. Dengan cara merenungi pertanyaan, "Seberapa sering kita menderita daripada berbahagia?"

Bersama kesusahan ada kemudahan. Seorang Muslim sebaiknya memahami kepulangan ulama, musibah dan bencana belakangan ini secara dewasa melalui jalan yang menginspirasi seperti Umar bin Khattab, Muhammad Abduh dan Gus Baha. Dari jalan itu, benih yang sudah disebar dan akar yang sudah tertanam bisa dituai untuk dijadikan sebagai tongkat estafet melestarikan tugas dan tanggung jawab mereka dalam menjaga keutuhan dan mencerahkan peradaban umat Islam. Patah tumbuh, hilang berganti. Amin.

Afrizal Qosim Sholeh peneliti di Lingkar Studi Sosiologi Agama

(mmu/mmu)