Jeda

Terjebak Romantika Lama Era Buku Cerita

Dedy Rahmat Nurda - detikNews
Minggu, 07 Feb 2021 13:05 WIB
Seorang anak yang sedang asyik membaca
Jakarta -
Kejadian dan percakapan dengan anak-anak di rumah sore itu, sangat mengecewakan. Harapan yang terlanjur digantung tinggi, kini patah bagai jatuh terhempas. Semua bermula tatkala saya pada sore itu sepulang kerja dengan hati gembira balik ke rumah menenteng sebuah bungkusan kejutan manis untuk si buah hati, namun berakhir nelangsa.

Hari itu ada sedikit rezeki lebih, maka sepulangnya langsung masuk pasar mencari sedikit "hadiah" untuk jagoan di rumah. Toko buku dimasuki, melangkah menuju deretan rak-rak yang berisi puluhan koleksi komik anak-anak. Mumpung sedang ada uang lebih, kali ini tak begitu "pelit" untuk memasukkan beberapa buah komik ke dalam keranjang.

Hari itu sebenarnya untuk pertama kalinya saya sebagai "ayah yang bijaksana" mencoba membelikan kejutan untuk dua orang bocah di rumah dalam wujud sebuah buku bacaan. Biasanya yang dulu-dulu, hadiah itu selalu dalam bentuk mainan, entah itu mobil-mobilan, robotan, pesawat mainan untuk "si bujang" atau boneka, puzzle, dan lego untuk "si upik".

Paket lengkap komik sudah di tangan, sengaja dipilih dan disesuaikan dengan tokoh jagoan dan karakter acara TV kesukaan mereka berdua. Komik Doraemon, Tayo, dan cerita jagoan BoboiBoy untuk si abang, kemudian buku cerita Frozen, kisah Barbie, dan Little Pony untuk si adek.

Dengan penuh percaya diri dan langkah pasti saya pulang ke rumah dengan tas jinjingannya yang padat berisi. Terbayang reaksi bahagia para bocah-bocah cilik tatkala membongkar tas bawaan ayahnya yang berisi kejutan manis untuk mereka. Namun apa yang terjadi selanjutnya?

Tak ada sorak-sorak gembira, tak ada teriak "horeee...!" seperti biasanya saat mereka mendapatkan mainan baru. Yang ada hanyalah tatapan polos dan ekspresi sedikit bingung di wajah merespons uluran tangan saya yang menyerahkan komik-komik dan buku bacaan ke tangan mereka.

Si adek dengan ekspresi datar mulai mencoba-coba membolak-balik buku untuk sekedar melihat gambar-gambarnya. Namun reaksi si abang sungguh menampar muka saya. Tanpa berusaha melihat dulu komik yang ada di tangannya, dengan jurus raja tega ia berkata, "Yah, filmnya aja deh tolong di-download-in di Youtube." Oh, Tuhan....

***

"Tragedi" di sore itu membawa ingatan saya melayang surut kembali ke masa 30 tahun lalu, saat saya seumuran dengan anak-anak saya sekarang, saat ketika majalah, komik, dan buku cerita adalah barang yang sangat berharga dan diimpikan.

Namun sedikit malang, di masa itu saya bukanlah termasuk golongan anak-anak "orang berada" yang bisa mendapatkan apa yang ia suka. Di masa itu, saya adalah bocah yang sangat mencintai buku, namun sayang tak memiliki cukup kemampuan untuk memiliki "cinta" itu. Saya hanyalah bocah kecil yang nyaris setiap hari berharap ada teman yang akan mengundang datang ke rumahnya, lalu diajak membaca buku dan komik yang dipunyainya bersama-sama.

Bukannya saya tak bahagia di masa itu, namun harus diakui masa kecil saya tiga orang bersaudara adalah kehidupan yang amat sederhana. Ibu-bapak hanyalah pegawai negeri sipil biasa tanpa jabatan, yang dari bulan ke bulan gajian hanya cukup untuk makan sehari-hari, biaya sekolah dan bayar kontrakan rumah.

Kebutuhan hiburan termasuk kebutuhan akan bacaan, semua mesti diakali agar tetap dalam koridor penghematan. Kegemaran kami untuk bacaan, dipenuhi dengan cara banyak berteman dan datang ke rumah mereka yang selalu langganan komik dan majalah. Beruntung sekali jika buku itu diizinkan empunya dibawa pulang, namun lebih sering hanya diizinkan untuk dibaca disana. Tapi semua itu sudah cukup menyenangkan bagi kami masa itu.

Namun begitu, bukan berarti kami tak pernah punya buku bacaan sendiri. Di waktu-waktu tertentu, di saat bapak punya rezeki lebih, tak jarang kami dibelikan komik-komik tipis murah meriah bergambar hitam putih. Yang paling favorit waktu itu komik berisi kisah-kisah nabi, kisah surga-neraka, atau komik humor Petruk-Gareng karya Tatang

Saya ingat pernah beberapa kali diajak bapak ke pasar, kami diperbolehkan memilih komik-komik itu masing-masih anak dapat jatah 4 buah komik. Harganya Rp 125 per buahnya, jadi kalau beli 4 bapak keluar duit 500 perak tiap anak. Harga yang lumayan terjangkau di kantong bapak.

Bapak tahu bahwa selain sebagai hiburan, sedikit banyak tentu ada pengetahuan yang akan didapatkan anak-anaknya. Terutama komik kisah nabi dan komik kisah surga-neraka, sampai kini kisah para nabi dan gambaran indahnya surga dan kejamnya neraka itu melekat lebih lama di ingatan kami dari pada sekadar mendengar cerita guru agama atau guru mengaji di musala kami. Bahagianya saat memiliki komik itu tetap terkenang hingga kini.

Belakangan di saat beranjak remaja, kami mulai bisa menyisihkan uang jajan sendiri untuk membeli komik bekas pakai di pasar loak. Komik bekas Album Donald Bebek seharga Rp 500 perak (harga barunya Rp 2.500) adalah pilihan saya, sementara kakak yang sudah mulai ABG memilih Aneka Yess, Anita Cemerlang atau Hai seharga 750 - 1000 perak (harga barunya Rp 4.500.

Perlahan koleksi kami terus bertambah, dan tumpukan komik dan majalah hasil buruan di pasar loak itulah "harta kekayaan" kami yang paling berharga di masa-masa itu

***

Generasi sekarang adalah generasi yang "malang", setidaknya itu adalah pendapat kita yang merasakan hidup di masa kejayaan literasi dalam bentuk fisik semacam buku, majalah, komik, novel, dan roman.

Generasi kini tak merasakan bagaimana serunya saling bertukar koleksi bacaan dengan teman-teman. Mereka tak tahu bagaimana deg-degannya menunggu abang pengantar majalah langganan yang datang setiap pekan, atau bagaimana penasarannya akan jalannya cerita komik persilatan yang mesti bersambung dan harus ditunggu kelanjutan ceritanya hingga bulan depan.

Zaman memang sudah berubah; niat hati menuntaskan "dendam" masa kecil yang penuh keterbatasan pun rupanya sudah lama kehilangan momentum dan tak lagi relevan. Cita-cita mulia saya yang berniat akan "membanjiri" anak-anak dengan jenis buku dan bacaan apapun yang mereka mau dan mereka suka, nyatanya hanyalah jerat romantika masa lalu saya sendiri belaka, namun tanpa makna apa-apa bagi mereka.

Buku, komik, majalah bukan lagi barang berharga buat mereka, tak lagi didamba dan dicari. Barang-barang berbahan dasar kertas itu kini sudah berubah menjadi barang asing dan "aneh" di depan mata mereka, selayaknya benda-benda yang disimpan di lemari kaca tertutup rapat yang dipajang di museum tua sebagai bukti artefak peradaban manusia di masa lalu.

Satu hal yang pasti, nyatalah kini bahwa saya memang bukan ayah yang bijaksana, atau mungkin lebih tepatnya ayah yang tidak sadar situasi, terjebak masa lalu dan gagap dalam mengikuti perkembangan dunia. Masih belum sadar? Lihatlah sekeliling Anda!

Bukankah perpustakaan kini layaknya kompleks pemakaman yang sepi? Bukankah loper-loper koran dan majalah di trotoar pinggir jalan kini tak ditemui lagi? Bukankah penjaja koran di lampu merah kini menghilang dan bertukar profesi? Bukankah toko penyewaan dan taman bacaan tak dikenal lagi? Bukankah majalah wanita yang isinya gosip recehan, resep masakan, zodiak mingguan, iklan baju dan bedak malam kini tak ada lagi?

Bukankah Tabloid Bola, Majalah Hai atau juga Album Donald Bebek sudah tak terbit lagi? Bukankah Harian Kompas yang dahulunya tebal 64 halaman, kini menyusut hingga bisa dihitung dengan jari?

Maka, cukup sudah! Kini adalah saat yang tepat bagi saya untuk memformat ulang lagi cita-cita mulia untuk jadi ayah yang baik seperti zamannya saya bocah dahulu. Sebuah update untuk menyesuaikan diri dengan "standar terbaru" agar masuk kriteria ayah bijaksana zaman terkini. Saya tak ingin, kelak di saat anak saya dewasa nantinya, mereka akan bercerita pada anak-anak mereka (yang tentunya itu cucu-cucu saya), tentang tragedi masa kecilnya sendiri.

Saya tak ingin mereka berkisah dan mengenang kisah hidup masa lalu mereka dengan beriba hati, bahwa mereka dahulu di waktu kecil hidupnya "menderita", karena oleh orangtua mereka (yaitu saya dan ibunya), mereka tak dibelikan perangkat gadget android lengkap keluaran terkini lengkap dengan pulsa dan kuota internet unlimited-nya.
Jangan sampai itu terjadi!

Dedy Rahmat Nurda, ST
ASN di Kota Payakumbuh

(mmu/mmu)