Jeda

Berhenti Menyanjung Hari Kemarin

Ahmad Rafsanjani - detikNews
Minggu, 07 Feb 2021 11:34 WIB
Seorang perempuan sedang berpikir untuk mengerjakan pekerjaannya sekarang atau nanti.
Foto ilustrasi: Thinkstock
Jakarta -

Ketika Isaac Newton masih remaja, ilmuwan kebanggaan Inggris itu menunda menyatakan isi hatinya pada Victory, anak gadis dari keluarga tempat Newton tinggal selama menempuh pendidikan di London. Selain karena tidak berani, Newton beralasan ingin berkonsentrasi untuk belajar. Padahal, Victory jelas juga menyukainya. Sampai kemudian Victory menikah dengan orang lain, Newton tidak pernah mengungkapkan hasrat cintanya. Dan bahkan tetap membujang hingga akhir hayatnya.

Ilustrasi di atas bukan menggambarkan fenomena masifnya orang-orang jenius yang kesepian, tapi lebih mengenai tingkah laku menunda yang terkadang menjadi kebiasaan hidup kita. Apa yang dilakukan oleh Sir Isaac Newton tersebut, yakni menunda sesuatu, pasti pernah juga kita alami. Menunda belajar sampai kita harus "kebut semalam" sebelum ujian. Menunda mengungkapkan isi hati pada orang yang kita sayangi. Menunda meminta maaf atau menolong orang lain di saat yang tepat. Menunda menghentikan bad habit yang katanya terlihat keren, seperti merokok, mengkonsumsi narkotika, atau begadang tanpa melakukan apa-apa.

Manusiawi

Menunda adalah manusiawi. Don Marquis, seorang penyair Amerika, menyebut penundaan sebagai "seni manusia dalam menyanjung hari kemarin." Namun, di balik sisi manusiawi dari tingkah laku menunda, ada juga yang disebut sebagai penunda kronis. Dalam istilah psikologi populer, penunda kronis dikenal mengidap chronic procrastination atau the tomorrow syndrome.

Menunda kronis bukan sikap menunda seperti biasa, tetapi karakter kepribadian atau kebiasaan yang melekat pada salah satu ruang mental kita. Karakter ini dapat mengakibatkan perasaan tidak puas, berpeluang merusak hubungan sosial, menghancurkan cita-cita ataupun membuat kita kerap merasa bersalah. Intinya, karakter mental ini menjebak kita di tempat yang sama, tanpa kemajuan dan pertumbuhan.

Jika kita menyempatkan waktu untuk diri sendiri, dan kemudian berusaha mengevaluasi diri, maka kira-kira akan seperti apakah gejala-gejala penunda kronis tersebut? Frank J. Bruno melalui buku tematiknya Psychological Symptoms membantu kita mengidentifikasi hal-hal spesifik yang mencirikan seorang penunda kronis. Menurut Dr Bruno, penunda kronis suka bekerja tergesa-gesa di detik-detik terakhir. Mereka seperti senantiasa dikejar-kejar oleh deadline, dan seakan tidak memiliki cukup waktu dalam melakukan setiap hal. Mereka juga kerap melakukan tingkah laku yang menghamburkan waktu, mengkhayal dan berharap tanpa melakukan sesuatu.

Penunda kronis tinggal dalam mimpi yang malas dengan kepala penuh rencana yang tidak realistis, tetapi tanpa melakukan apa-apa. Seringkali mereka sekadar berbicara dan memikirkan sesuatu tanpa segera bertindak. Gejala lainnya, penunda kronis merasa sangat terbebani dengan tanggung-jawab dan sulit menikmati aktivitas-aktivitas rekreasional. Kebiasaan menunda mengakibatkan semua pekerjaan harus dilakukan sekarang juga, di hari yang pendek dengan tugas yang menumpuk.

Gejala sekaligus akibat terburuk dari habit ini adalah ketidakmampuan dalam mencapai prestasi penting dalam hidup. Dengan tidak melakukan sesuatu secara benar dalam waktu yang cukup, atau tidak melakukannya sama sekali, maka banyak kesempatan untuk berkembang yang akan terbuang. Seperti ilustrasi Sir Isaac Newton di atas, yang tidak pernah mencoba langkah pertama, merasa terlambat ketika gadis pujaannya menikah, dan akhirnya tidak pernah menikah sama sekali. Sesuatu yang membuatnya menjadi ilmuwan brilian, tapi kesepian, hingga tutup usia pada 20 Maret 1727.

Tindakan Penting

Jika gejala yang disebutkan di atas sepertinya menjadi bagian dalam diri kita, maka memulai untuk mengenali dan menghentikan kebiasaan menunda tersebut adalah tindakan yang penting. Sebelum nantinya kita menyesal dan melewatkan banyak hal-hal menarik dalam hidup.

Yang paling mendesak dalam mengendalikan kebiasaan menunda, seperti disarankan oleh James R. Sherman dalam buku Stop Procrastinating, adalah bertindak tanpa banyak bicara. Terlalu banyak bicara, merencanakan, atau mempertimbangkan secara berlebihan dapat menghabiskan energi psikologis kita.

Ketika mengerjakan sesuatu, kita akan lebih efektif dengan menggunakan pendekatan tugas (task oriented), bukan waktu (time oriented). Rangkaian dan keberhasilan pekerjaan kita diukur serta dikendalikan berdasarkan tugas yang harus kita kerjakan, bukan waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut.

Selain itu, penerapan Premack's Principle juga dapat dicoba oleh para penunda kronis. Prinsip ini dapat diterjemahkan dalam bentuk saran: tempatkan tugas yang tidak menyenangkan (kerja) sebelum tugas yang menyenangkan (bermain). Dengan melakukan tugas yang sulit, akan menarik tingkah laku kita ke tingkatan yang lebih tinggi.

Dalam banyak hal di hidup ini, kita sebaiknya menetapkan tujuan yang realistis dan dapat dikelola dengan menyenangkan. Ini karena tujuan yang begitu tinggi dapat membuat kita kerap menunda, atau menunggu hingga kita 'merasa' memiliki kemampuan memadai untuk melakukannya. Lagi pula, kita juga jarang sekali mencapai tujuan yang tinggi hanya dalam satu kali lompatan saja.

Bagian Tersulit

Bagian tersulit bagi penunda kronis adalah keluar dari wilayah "aman"-nya. Karena, kebiasaan menunda seringkali terjadi pada tugas-tugas atau sesuatu yang baru, yang memungkinkan munculnya kecemasan dan ketakutan akan kegagalan. Semisal masuk ke dalam lingkungan baru, mencoba pekerjaan atau kebiasaan-kebiasaan baru, menyatakan cinta pada gadis keren di sekolah, hingga mengungkapkan pendapat di depan banyak orang.

Untuk mengatasi hal yang satu ini, Dr Bruno menegaskan bahwa kita terjebak dalam paradigma "yang meminta kita untuk mengatasi kecemasan dulu, baru kemudian bertindak.". Padahal, jika kita mulai bertindak sebelum merasakan cemas, kita akan menemukan bahwa tindakan itu akan mengurangi kecemasan dan membangun kepercayaan diri kita. Sehingga, sesekali bertindaklah terlebih dahulu, baru berpikir dan merasakannya.

Dengan melakukan ini, kita mungkin akan terkejut bahwa kita dapat menemukan kualitas diri (atau talenta tersembunyi) kita secara sederhana; melalui suatu tindakan yang kita lakukan. Kita belajar dengan mempraktikkannya. Dan bahkan, hasil dari pola tingkah laku ini dapat membantu kita dalam mengenali diri, yang biasanya disebut sebagai self-discovery.

Bagaimanapun, sama seperti kebanyakan terapi tingkah laku instan yang marak belakangan ini, mengubah kebiasaan menunda kronis menjadi sangat bergantung pada diri kita. Keberhasilan mengubah kebiasaan buruk sebagian besar terletak pada kemampuan untuk memanfaatkan energi swa-bantu (self-help) kita. Bagaimana kita menolong diri sendiri, mengendalikan dan mengarahkan hidup kita menjadi jauh lebih baik. Karena lawan terberat yang mesti kita taklukkan terlebih dahulu adalah diri kita sendiri.

Ahmad Rafsanjani pekerja sosial, people development enthusiast


(mmu/mmu)