Kolom

Menakar Optimisme Bisnis Perhotelan 2021

Dadang Darmansyah - detikNews
Kamis, 04 Feb 2021 15:30 WIB
Foto ilustrasi: dok. detikcom
Jakarta -
Resesi ekonomi dan krisis kesehatan masih melanda dunia termasuk Indonesia. Pertumbuhan ekonomi nasional masih mengalami kontraksi. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi nasional kuartal III/2020 tercatat masih mengalami kontraksi sebesar 3,49 persen. Hal ini menandai Indonesia memasuki fase resesi ekonomi, setelah pada kuartal II/2020 mengalami kontraksi terdalam dengan 5,32 persen.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memprediksikan pertumbuhan ekonomi kuartal IV di level nasional masih terkontraksi di angka 2 persenan. Sementara prediksi Bank Indonesia (BI), pertumbuhan ekonomi di kuartal IV tahun 2020 masih terkontraksi di angka satu persenan.

Jawa Barat sebagai provinsi penyangga ekonomi nasional juga mengalami hal yang sama. Menurut data BPS, laju pertumbuhan ekonomi Jawa Barat pada kuartal II/2020 mengalami kontraksi 5,98 persen. Sedangkan di kuartal III/2020 masih mengalami kontraksi dengan 4,08 persen. Meskipun kondisi ekonomi masih resesi, namun indikasi ke arah perbaikan mulai terlihat. Pertumbuhan ekonomi yang mulai membaik meningkatkan optimisme pelaku usaha di tahun 2021 meskipun pandemi Covid-19 belum berakhir. Berharap di kuartal I/2021 pertumbuhan ekonomi sudah beranjak positif sebagai sinyal adanya pemulihan ekonomi.

Salah satu sektor yang paling terdampak akibat pandemi yakni sektor pariwisata khususnya perhotelan dan restoran/rumah makan. Ketua Tetap Hubungan Industrial Kadin Indonesia, Soeprayitno pada Agustus 2020 menyatakan lebih dari 1600 hotel di Indonesia tutup akibat pandemi covid-19. Dalam kesempatan lain Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) sekaligus Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi B. Sukamdani menyebutkan ada sekitar 2000 hotel dan restoran yang tutup dengan menelan kerugian sekitar Rp 40-45 triliun rupiah.

Tingkat okupansi hotel akibat pandemi menurun drastis. Data BPS menggambarkan Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang dan non bintang di Jawa Barat mengalami keterpurukan. Di awal tahun 2020, pada Januari TPK tercatat sebesar 45,96 persen. Sejak kasus pertama Covid-19 melanda Indonesia di awal Maret, TPK Maret mengalami penurunan drastis ke angka 28,73 persen. Puncak terendahnya dicapai oleh TPK April hanya sebesar 8,02 persen.

Penurunan okupansi hotel ini juga disebabkan karena menurunnya tren kunjungan wisatawan mancanegara dan domestik. Namun pasca pemberlakuan era new normal, bisnis dunia perhotelan mulai menggeliat. Hal ini terlihat dari angka TPK yang sudah mulai membaik. Rilis BPS mencatat angka TPK November 2020 sudah menyentuh angka 41,31 persen. Meskipun angka ini belum mencapai okupansi hotel terbaik yang pernah mencapai angka 56,67 persen pada 2018.

Para pelaku bisnis perhotelan membagi perjalanan bisnis mereka menjadi tiga fase. Pertama, fase sebelum datang pandemi Covid-19 yaitu sebelum Februari 2020. Pada fase ini pelayanan berjalan normal (normal servicing).

Kedua, fase antara Maret dan Juni 2020 setelah pandemi Covid-19 melanda Indonesia. Pada fase ini para pelaku bisnis perhotelan melakukan strategi bertahan dengan mengelola bisnis di tengah krisis. Pelaku bisnis hotel mulai mengoptimalkan penjualan berbagai produk-produk hotel. Di antaranya frozen food, ready to eat food, dan produk lainnya dengan mengoptimalkan strategi pemasaran. Termasuk mengurangi cost leadership untuk tetap bertahan di masa krisis.

Ketiga, fase antara Agustus hingga akhir 2020. Semua hotel berlomba mengoptimalkan momentum dengan membuat paket-paket yang atraktif. Di antaranya seperti program staycation, safecation, wedding, tunangan dengan mengimplementasikan protokol kesehatan Covid-19 secara ketat. Upaya ini dilakukan untuk merawat pelanggan secara maksimal agar bisnis bisa tumbuh dan tetap bertahan.

Kontribusi sektor pariwisata sangat penting terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Pemerintah menaruh perhatian besar terhadap pemulihan ekonomi di sektor pariwisata terutama pada 2021. Kebijakan pemulihan dengan mengembangkan aspek 3A dan 2P, yakni Atraksi, Aksesibilitas, Amenitas, serta Promosi dan Partisipasi pelaku usaha swasta. Pulihnya sektor ini akan memulihkan pula bisnis penyangganya yakni perhotelan dan restoran/rumah makan.

Dalam publikasi Produk Domestik Bruto (PDB) Trwulanan, BPS melaporkan pada triwulan I/2020, kontribusinya terhadap PDB mencapai 2,80 persen. Pandemi Covid-19 telah menekan kontribusi sektor ini menjadi 2,28 persen di triwulan II/2020.

Beberapa strategi yang dilakukan oleh pelaku bisnis perhotelan agar tetap tumbuh pada 2021 di antaranya; pertama, menambah investasi dengan aktivitas online. Konsumen bisa memilih dan memesan layanan hotel sesuai tarif dan fasilitas yang diinginkan hanya melalui smartphone mereka. Bagaimanapun pandemi Covid-19 menjadi katalisator proses digitalisasi.

Kedua, alokasi anggaran iklan yang bisa memberikan high impact opportunity. Anggaran iklan yang efisien tapi memberikan dampak keuntungan optimal. Ketiga, mengkombinasikan pemasaran dan pencitraan melalui aktivitas daring dan luring. Keempat, berorientasi kepada customer retention. Meningkatkan penjualan dengan memuaskan konsumen agar kembali menggunakan layanan hotel yang sama.

Memperhatikan indikasi membaiknya pertumbuhan ekonomi melahirkan secercah harapan pelaku bisnis perhotelan pada 2021. Ditambah dengan modal pergerakan penduduk Indonesia yang besar mencapai 270,20 juta jiwa di tingkat nasional dan Jawa Barat khususnya dengan 48,27 juta jiwa. (Sensus Penduduk, September 2020). Diperkuat dengan prediksi pemulihan ekonomi 2021, bisnis di bidang perhotelan optimis bisa kembali pada kondisi yang lebih baik.

Di tengah bayang-bayang perpanjangan PSBB, mau tidak mau pelaku bisnis perhotelan dipaksa untuk membuat strategi pemasaran baru di masa krisis agar tetap bisa survive. Pelaku bisnis ini harus bisa melihat perubahan perilaku konsumen di era krisis. Adaptif terhadap perubahan yang ada, tetap produktif, lebih kreatif, dan inovatif dalam meningkatkan pelayanan dan kepuasan kepada konsumen.

(mmu/mmu)