Kolom

Pariwisata Sudah Tewas, Pemerintah Bisa Apa?

Romeyn Perdana Putra - detikNews
Kamis, 04 Feb 2021 13:08 WIB
Foto ilustrasi: kampanye pariwisata Indonesia 2000-2016
Jakarta -
Tahun 2021, jatuhnya pesawat Sriwijaya telah menjadi momen tewasnya pariwisata Indonesia. Tercatat seorang pekerja asing nomaden milenial di Bali pun "dicukuri" netizen dan kini harus pulang kampung ke negara asalnya. Sejak 20 tahun terakhir, pariwisata Indonesia terus menerus mengalami ancaman, tantangan, gangguan, dan hambatan.

Terhitung dari teror Bom Bali 1 dan 2, serangan dari ulah aktivitas manusia lainnya seperti penembakan Sarinah, demo rusuh karena pergolakan sosial politik hingga kecelakaan transportasi. Sebelum pandemi, Indonesia punya bencana alam (banjir, longsor, dan gempa hingga tsunami. Tapi pemerintah tetap bersikukuh untuk menjadikan kepariwisataan sebagai pendapatan negara dari sektor non migas.

Sebelum tahun 1990 sektor migas adalah primadona pendapatan dan belanja negara. Kebangkitan pariwisata dimulai setelah terpuruknya migas dan mulai jatuhnya harga-harga bahan bakar fosil. Tak kurang pemerintah pun menjual budaya, keindahan alam, dan keramahtamahan manusia Indonesia. Kebijakan ini bagian dari upaya pemerintah untuk mengusik masyarakat "petani marhaen" untuk mengejar kapital dan modal.

Pariwisata dijadikan salah satu motor penggerak anak muda untuk mencoba hidup lebih modern, berwawasan luas, dan bergaul secara global. Gaung "think globally, act locally" dianggap mantra terbaik untuk mengajak pemuda untuk memikirkan masa depan (baca: rumah, kendaraan, dan kesuksesan). Pemuda sukses dicita-citakan memiliki kendaraan dan pekerjaan dengan gaji tetap dan status "kerja" yang stabil dan permanen.

Sehingga dibuatlah kantong-kantong industri padat karya di kota-kota yang mendukung kepariwisataan. Penyerapan tenaga kerja melalui hotel, perusahaan penerbangan dan transportasi serta makanan-minuman memindahkan tenaga kerja dari desa ke perkotaan hingga keluar negeri. Sebagai negara berpenduduk terbesar nomor 4, jelas sekali bahwa Indonesia harus mengimbangi kemampuan iptek dengan keterampilan fisik sumber daya manusianya. Agar bonus demografis yang didengungkan para pakar dapat dimanfaatkan oleh generasi penerus dan terlepas dari belenggu stigma "bangsa kuli".

Mirip Kebun Durian

Industri pariwisata ini mirip dengan kebun durian. Panennya lama dan pohonnya mudah sekali terserang hama. Perubahan iklim dan serangan angin juga menyebabkan kebun durian tidak maksimal mentransformasikan putik menjadi buah manis ranum. Periode panennya pun tiap enam bulan, itu pun bila pohon berbuah sehat dan bebas gangguan. Kondisinya kini bagaimana?

Pariwisata Indonesia dulunya koma, kini bisa dibilang tewas dan harus dibangkitkan dari kubur. Bom Bali 2001, Tsunami 2006, dan serangan bom gereja telah menghancurkan pariwisata Indonesia. Ditambah jatuhnya pesawat komersial dalam kurun waktu hanya berjarak dua tahun. Siapapun menteri yang kini memegang tongkat kendali kementerian ini harus sabar menanti jerih payah kerja kerasnya berbuah durian manis dan berdaging tebal.

Kenapa harus dagingnya tebal? Karena daging buah durian hasil industri pariwisata biasanya berdaging tipis akibat konversi dolar. Pariwisata diharapkan mengucurkan hujan dolar di kota-kota pendukung kepariwisataan. Sejak diterpa SARS dan bencana ataupun kecelakaan transportasi sudah sepatutnya digali strategi coping agar yang tadinya mati suri atau mati total jadi pohon durian baru yang sehat dan membuahkan hasil.

Meniru Negara Tetangga

Tidak dapat disalahkan bahwa banyak negara kini membatasi pergerakan orang antarnegara. Apabila dikaitkan travel warning yang terjadi tahun 2000-2016 tidaklah terlalu besar dampaknya. Karena harga hotel bintang 5 sama dengan harga hotel melati di negara mereka. Membawa gaji satu bulan dari negara mereka bisa menghidupi mereka bak raja selama dua minggu.

Jadi ada semacam musuh besar pariwisata Indonesia yaitu penyebaran penyakit dan penyebaran ketakutan. Tapi keduanya akan hilang apabila kita menggunakan cerita "dangerously beautiful" (baca: come, its unbelievable value for money). Mantra ini sudah dua puluh tahun digunakan, perlu digali mantra baru.

Pandemi memerlukan mantra mutakhir seperti Singapura berkampanye "kangen jalan-jalan". Thailand tetap mengkampanyekan makanan khas mereka melalui jalur online. Malaysia mengkampanyekan bahwa negara mereka paling ketat soal pandemi. Namun Indonesia belum jelas berkampanye seperti apa dan bagaimana. Tiap aktor belum memiliki program jelas akan bagaimana menjalankan rencana strategis penanganan dampak pandemi Covid-19.

Kebangkitan pariwisata nasional dari sisi aktor pemerintah dalam dua tahun ke depan hanya memiliki dua strategi. Pertama, marketing nostalgia; kedua, peduli kesehatan. Setelah bertarung dengan Singapura, Malaysia, dan Thailand untuk mencapai 20 juta wisatawan mancanegara, Indonesia kini harus kembali menanam pohon durian baru dengan varietas unggul. Keunggulannya adalah tahan terhadap hama teror, usikan iklim, dan penyakit menular.

Varietas durian tahan banting ini tidak lagi mengandalkan wisatawan asing dan menarik masuknya dolar. Tapi pariwisata yang berakar rumput. Dia menggiatkan ekonomi pasar usaha kecil dan menengah. Tidak lagi padat karya atau menampung banyak tenaga kerja. Namun mengalirkan dana bergerak hingga ke desa-desa. Karena tuntutan Covid-19 saat ini memaksa kita untuk hidup merenggang dan harmonis dengan alam.

Pemanfaatan alam tanpa berhitung daya dukung dan daya tamping hanya akan berujung bencana model mutakhir seperti banjir dan longsor saat ini. Sebagai negara dengan ancaman gempa dan erupsi gunung api (ring of fire) sudah menjadi perhatian kita sejak dibentuknya satuan tanggap bencana hingga tingkat kabupaten/kota.

Namun pendekatan militeristik dalam tanggap bencana bukan promosi pariwisata yang benar. Mitigasi bencana pariwisata di Indonesia harus berwajah ramah dan mempesona layaknya keindahan alamnya.

Strategi kenangan dan nostalgia ini sudah diadopsi Singapura. Namun bukan tidak dapat dimodifikasi dan diterapkan dalam membangkitkan pariwisata nasional kita. Kangen Indonesia adalah sebuah ajakan semua aktor; akademisi tetap membangun semangat optimisme dalam jalur universitas dan lembaganya, bisnis tetap membuka usaha dan mengalirkan dana keuntungan 20 tahun yang lalu; community menggerakkan kantong-kantong kerajinan, usaha kuliner hingga merek lokal.

Yang paling penting adalah government dan media memiliki visi dan misi yang sama dalam bergerak. Selamat berjuang, insan pariwisata nasional!

(mmu/mmu)