Kolom

Lokasi Permukiman dan Risiko Banjir

Pendi Tri Sutrisno - detikNews
Rabu, 03 Feb 2021 14:34 WIB
Kondisi terkini banjir di Desa Kedungdowo Kecamatan Kaliwungu, Kudus, Rabu (3/2/2021).
Banjir di Kedungdowo, Kaliwungu, Kudus, Jawa Tengah (Foto: Dian Utoro Aji/detikcom)
Jakarta -

Rentetan peristiwa banjir yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia akhir-akhir ini memberikan dampak kerugian yang cukup besar. Kerugian berupa materi ditaksir cukup banyak, bahkan kerugian akibat korban jiwa juga terjadi. Hal tersebut menjadikan kita hendaknya semakin waspada terhadap kemungkinan terjadinya banjir, mengingat curah hujan dan kondisi meteorologi ekstrem sedang terjadi.

Sebagai contoh peristiwa banjir di Kalimantan Selatan awal tahun 2021 ini, yang terjadi akibat hujan turun dengan intensitas cukup tinggi di wilayah tersebut dan sekitarnya. Penyebab banjir tentunya bukan hanya faktor curah hujan yang besar, melainkan juga termasuk faktor-faktor lain seperti kurangnya ruang terbuka hijau untuk resapan air, saluran air yang tersumbat, dan pola sanitasi sampah yang kurang baik. Beberapa faktor tersebut bukan tidak mungkin dapat memicu terjadinya banjir.

Terlebih jika kondisi di bagian hulu sudah jarang ditemukan hutan hujan tropis yang fungsi utamanya adalah sebagai penangkap dan penyerap air hujan yang turun. Selain peran pemerintah dalam penanganan banjir, perlu adanya peningkatan pemahaman masyarakat terhadap ancaman bahaya dan risiko banjir. Kewaspadaan dan kesadaran masyarakat akan terjadinya banjir sudah dalam kepentingan yang mendesak, terutama terkait dengan pengetahuan dan pemahaman mengenai lokasi tempat tinggal di dalam suatu sistem DAS.

DAS atau Daerah Aliran Sungai adalah suatu kawasan fisik permukaan bumi yang menentukan ke mana arah aliran dan terakumulasinya air yang ada. Air hujan yang turun di permukaan bumi akan terakumulasi pada suatu sistem pengumpulan air ke sungai utama dari sungai-sungai kecil yang ada, dengan batas berupa igir pegunungan yang ada di sekelilingnya. Pengertian sederhana tersebut dapat dipahami sebagai definisi Daerah Aliran Sungai (DAS).

Tentunya berbagai macam penggunaan lahan, ekosistem alam, flora dan fauna, hingga demografi kependudukan di dalam suatu sistem DAS akan saling mempengaruhi. Dengan demikian, lokasi permukiman padat penduduk menjadi objek penting yang harus dikenali kaitannya dengan antisipasi dan kewaspadaan terhadap terjadinya banjir. Ketika masyarakat mampu memahami lokasi dimana mereka tinggal, maka langkah-langkah preventif maupun represif terhadap banjir dapat dilakukan dengan tepat.

Satu Sistem

Lokasi tempat tinggal masyarakat dalam satu sistem DAS begitu penting untuk dipahami. Terutama kaitannya dengan bentuk tindakan yang tepat dalam antisipasi terjadinya banjir. Suatu sistem DAS sering dibagi menjadi bagian DAS sebagai suatu fungsi yaitu bagian hulu, tengah, dan hilir. Bagian hulu DAS pada dasarnya berfungsi sebagai kawasan konservasi, kawasan tangkapan air, dan giliran pertama dalam sistem DAS untuk meresapkan air hujan ke dalam tanah.

Ancaman bahaya di bagian hulu DAS biasanya tidak lepas dari adanya lereng yang curam, kerapatan vegetasi yang rendah, serta aliran air di permukaan tanah akibat infiltrasi rendah yang dapat memicu terjadinya banjir bandang, tanah longsor, dan gerakan tanah berlumpur. Jika terdapat permukiman penduduk di area hulu DAS ini, masyarakat setempat perlu waspada. Sebaiknya sudah siap dengan tindakan pencegahan maupun langkah penyelamatan jika tanda-tanda bahaya tersebut mulai terjadi.

Lain halnya jika permukiman penduduk berada pada bagian tengah DAS. Kondisi topografi mulai bervariasi menuju ke datar, walaupun masih sering dijumpai lereng yang bergelombang. Kewaspadaan masyarakat yang tinggal di kawasan permukiman bagian tengah DAS dapat dimulai dengan menggali informasi apakah di bagian hulu DAS terjadi hujan. Bukan tidak mungkin bagian hulu terjadi hujan dan di bagian tengah tidak.

Langkah pencegahan terjadinya banjir di permukiman bagian tengah DAS dapat dilakukan dengan penyediaan ruang terbuka hijau untuk meresapkan air hujan dan ruang terbuka biru untuk menampung air hujan dan memanfaatkannya agar tidak langsung mengalir menuju ke sungai. Air hujan yang langsung menuju ke sungai akan semakin cepat meningkatkan volume dan debit air sungai sehingga akan terakumulasi dengan cepat menjadi aliran yang cukup deras menuju ke hilir DAS.

Pemahaman masyarakat yang tinggal di bagian hilir DAS terhadap bahaya banjir kiriman dari bagian hulu dan tengah DAS perlu ditingkatkan. Selain menggali informasi terkait dengan adanya curah hujan yang tinggi pada kawasan di atasnya, masyarakat juga dapat merencanakan kawasan permukimannya dengan berbagai langkah preventif maupun represif. Mulai dari mengenali ketinggian tempat tinggalnya dibanding dengan tempat lain, mengenali karakteristik tanah yang mudah ataupun sulit meresapkan air, menyediakan ruang peresapan air, dan juga menentukan jalur evakuasi tercepat jika terjadi banjir. Upaya tersebut ditempuh agar risiko kerugian akibat banjir dapat diminimalisasi.

Pendi Tri Sutrisno alumni Fakultas Geografi UGM, konsultan Pemetaan dan Manajemen Lingkungan

(mmu/mmu)