Kudeta Demokrat, Untuk Siapa?

Tony Rosyid - detikNews
Rabu, 03 Feb 2021 11:47 WIB
AHY di acara wisuda akademi Demokrat (Gibran Maulana-detikcom)
Foto: SBY dan AHY (Gibran Maulana-detikcom)
Jakarta -

Pertemuan Moeldoko, ketua Staf Kepresidenan (KSP) dengan sejumlah kader aktif dan eks kader Demokrat bocor. Kabarnya, pertemuan itu di hotel Aston lantai 28 pada tanggal 27 Januari lalu. Konsolidasi eks kader ke sejumlah pengurus aktif Demokrat di daerah pun ketahuan. Banyak laporan yang masuk ke DPP Demokrat sehingga muncul kesimpulan bahwa ada upaya sistematis yang sedang dilakukan untuk mengkudeta ketua umum Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Yakin atas info dan datanya, Demokrat kirim surat ke istana. Intinya, minta klarifikasi.

Kenapa kirim surat ke istana? Kalau itu ulah Moeldoko, kenapa harus melibatkan Presiden? Apakah ini sinyal bahwa Presiden terlibat? Karena surat dari Demokrat, tentu atas perintah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Sebagai mantan jenderal dan dua periode jadi presiden, SBY tentu tak asal kirim surat, tanpa data dan perhitungan.

Ada yang menganalisis, kudeta Ketua Umum Demokrat karena adanya kabar bahwa partai besutan SBY ini mau dukung Anies di pilpres 2024. Kabar lain mengatakan bahwa Demokrat menjalin hubungan intensif dengan Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah, yang terlihat sedang berupaya keras, sungguh-sungguh dan sekuat tenaga untuk menggeser nama Puan Maharani dalam konstalasi pilpres 2024. Puan Maharani dianggap ganjalan utama bagi Ganjar di PDIP jika ingin nyapres atau nyawapres.

Apakah Moeldoko berambisi jadi ketua partai Demokrat? Bisa iya, bisa tidak. Kalau benar tuduhan Demokrat bahwa Moeldoko sedang konsolidasi untuk kudeta di partai Demokrat, mungkin bukan untuk Moeldoko. Dalam track recordnya, Moeldoko tak pernah terlihat punya ambisi sebagai pimpinan partai, apalagi calon presiden.

Boleh jadi Moeldoko hanya bertugas menyiapkan kapal besar untuk seseorang yang namanya sedang disembunyikan. Seseorang yang butuh kendaraan untuk bisa tetap eksis di dunia politik kedepan setelah nanti tak punya lagi posisi dan jabatan. Siapa dia?

PDIP sesungguhnya partai yang lebih seksi jika ingin melakukan kudeta. Partai besar yang tiga kali menjadi pemenang pemilu. Partai banteng ini lebih menggiurkan kalau mau diambil alih. Tapi, banteng terlalu kuat. Peluangnya kecil untuk kudeta ketua umumnya, Megawati Soekarno Putri.

Lalu, apakah di Demokrat ada peluang untuk dikudeta? Kenapa tidak PPP, PAN, PKB atau PKS? Mungkin, orang yang disiapkan jadi ketua umum tidak punya back ground keislaman yang memadai. Sehingga, tidak cocok kalau memimpin partai Islam.

Di setiap partai, selalu ada barisan kelompok sakit hati. Orang-orang yang kecewa, tidak diakomodir atau dibuang oleh partai. Jika partai melemah, maka kelompok sakit hati ini biasanya akan mengkonsolidasikan diri dengan penguasa untuk ambil alih partai tersebut. Hanya kolaborasi dengan penguasa, kudeta partai bisa berjalan mulus. Sebab, yang bisa keluarkan SK adalah penguasa. Dalam hal ini, Kemenkumham.

Konflik di PPP dan PAN dimenangkan oleh kelompok yang pro penguasa. Apakah Demokrat selemah PPP dan PAN?

SBY mantan presiden dua periode, berlatar belakang militer dengan pangkat Jenderal, punya kekuatan logistik dan jaringan internasional. Disamping Demokrat sendiri yang masih cukup besar perolehan suaranya, yaitu 7,77 persen. Ini menjadi tak mudah bagi siapapun untuk melakukan kudeta. Entah jika istana betul-betul serius ingin menggulingkannya. Siapapun penguasa, ia selalu punya kekuatan untuk memaksakan kehendaknya.

Tony Rosyid, Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

(mae/mae)