Kolom

Banjir Kalsel: Melihat Kebenaran "Pesan Leluhur"

Muhammad Bulkini - detikNews
Rabu, 03 Feb 2021 12:10 WIB
Bencana alam banjir besar melanda Pulau Borneo tepatnya di Kalimantan Selatan. Sepekan sudah, beginilah potret wilayah yang terdampak tersebut.
Banjir Kalsel (Foto: Bayu Prtama S/Antara)
Jakarta -

"Keladi hutan yang disimpan di rumah akan mengundang datangnya banjir besar," begitu sebuah pesan beredar di dunia maya dengan mengatasnamakan leluhur Suku Banjar. Pesan tersebut beredar di saat banjir menggenangi 11 dari 13 kabupaten/kota di Kalimantan Selatan (Kalsel). Dan kebetulan, sebelum banjir ini datang, warga Kalsel sedang ramai-ramainya memelihara keladi di rumah.

Saya tidak tahu apakah pesan itu benar-benar pesan leluhur, yang jelas pesan tersebut ramai dikomentari netizen. Ada yang menyebut itu hanya sebuah mitos, perkataan ngawur, hingga kepercayaan yang menyimpang. Tapi tunggu dulu, saya kok melihat kebenaran di dalamnya.

Begini. Sebelum banjir besar itu datang, Jalan Ahmad Yani Kilometer 6 hingga 8 di Kertak Hanyar, Kabupaten Banjar menjadi pasar dadakan tanaman hias. Kala itu, keladi jadi primadona. Deretan keladi dengan berbagai rupa tersaji di lapak-lapak mereka. Mulai dari harga puluhan ribu hingga jutaan rupiah.

Ramainya pengunjung terlihat pada hari libur. Terlebih pada pagi harinya, kawasan itu selalu macet lantaran banyaknya pembeli. Dan setelah banjir datang, kawasan itu tetap ramai dengan kemacetan. Namun bukan lagi karena pembeli keladi, tapi karena air setinggi lutut yang kemudian menggenangi.

Itu baru satu pasar, saya kira ratusan pasar di Kalsel juga bernasib sama.

Mari menengok ke belakang. Jauh sebelum "demam keladi", Kalsel juga pernah "demam batu" --yang sebenarnya menjadi tren nasional. Batu akik yang tidak berharga atau tidak terlalu berharga, tiba-tiba bisa bernilai tinggi. Dia jadi buah bibir di warung kopi, hingga buah tangan para pejabat berdasi.

Tentu saja, banyak orang yang kemudian melihat peluang itu untuk mencari rezeki. Pasar-pasar kemudian dipenuhi dengan penjual batu. Gunung-gunung dikeruk. Warga menjadi kalap. Dan puncaknya di Kalimantan, "Red Borneo" ditemukan.

Batu berwarna pink itu sangat diminati. Harganya meroket. Penjualannya merambah ke luar pulau. Bukan main. Banyak orang yang kaya mendadak karenanya.

Namun layaknya demam, suhu penjualan naik-turun, dan kembali normal --kalau tidak mati. Hingga saat ini, Red Borneo tak terdengar lagi.

Dari dua demam di atas, saya kira Anda mulai memahami apa yang saya lihat di balik "pesan leluhur" tersebut. Ramainya warga yang memelihara keladi di rumahnya adalah bagian dari budaya konsumtif yang berlebihan. Latah dengan tren yang sedang berkembang di masyarakat.

Sehingga kita bisa memahami, keladi bukan pemicu datangnya bencana, melainkan penanda akhir datangnya bencana.

Coba Anda pikirkan, jika keladi yang tak berharga saja Anda angkut ke rumah, bagaimana mungkin Anda bisa meninggalkan barang berharga yang nilainya lebih tinggi dari satu keladi?

Kayu ulin misalnya, anggrek, satwa, biji besi, nikel, timah, batu bara, emas, intan, dan barang bernilai tinggi lainnya yang terkandung di hutan-hutan pegunungan Meratus. Saya tidak tahu apa lagi yang tersisa di pegunungan sana, selain kenangan. Kenangan bahwa kita dulu pernah punya pegunungan yang berselimut hutan sebagai penyangga kehidupan.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebut penurunan luas hutan alam (tutupan DAS Barito) selama periode 1990 sampai dengan 2019 sebesar 62,8 persen. Penurunan terbesar terjadi selama 1990-2000, yakni sebanyak 55,5 persen.

Dari data tersebut Anda tentu tahu bahwa pemimpin daerah terus berganti selama itu. Dan nasibnya tidak terlalu berubah. Kaum elite tetap menambang atas nama perusahaan. Kaum menengah ke bawah menjadi penambang liar. Kalangan bawah, menambang batu akik dan mengangkut tanah merah. Dan begitu seterusnya.

Peran para "haji batubara" dalam hal ini besar dalam mengundang bencana. Namun saya tidak hanya menyalahkan mereka. Sebab banyak di antara kita yang bermental sama dengan mereka. Hanya saja, kita tidak memiliki kesempatan. Andai kita berada di posisi mereka, mungkin perilaku kita tak ada ubahnya. Buktinya, batu akik dan keladi saja kita habisi hanya untuk meraup harta.

Sadar atau tidak, ini adalah kesalahan berjamaah. Hutan digunduli, kayu, satwa, hingga semua yang ada di perut buminya dijual. Dan sekarang, tanaman seremeh keladi juga dihabisi.

Maka benar kata pesan itu, "Keladi hutan yang disimpan di rumah akan mengundang datangnya banjir besar." Sebab, hutan dan segala isinya hanya tinggal kenangan.

Muhammad Bulkini tinggal di Banjarmasin

(mmu/mmu)