Sentilan Iqbal Aji Daryono

Autokritik untuk Harmoni Sosial

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Selasa, 02 Feb 2021 19:00 WIB
Kolomnis - Iqbal Aji Daryono (Ilustrator: Edi Wahyono/detikcom)
Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Edi Wahyono)
Jakarta -

Bulan lalu, saya dan kawan-kawan selesai menjalankan rangkaian lima pekan kegiatan mentoring bersama sebuah lembaga lintas iman. Peserta yang kami dampingi berlatar warna-warni, dari beragam etnis dan keyakinan, dan materi pendampingannya pun terkait kreasi konten digital untuk kampanye kebhinnekaan.

Selama kegiatan tersebut, saya menemukan bahwa masalah-masalah yang mengganggu kehidupan bersama ada di banyak entitas budaya dan entitas keyakinan (ya iyalah!). Namun, yang diam-diam membuat saya terkesan adalah bagaimana banyak peserta menuliskan konten yang menurut saya keren, yaitu autokritik.

Autokritik yang saya maksudkan itu sesederhana bagaimana seorang peserta dari Indonesia Timur yang Kristen mengkritik sikap institusi gereja di sana dalam menghadapi suatu isu besar, peserta dari Indonesia Barat yang muslim mengkritik arogansi beberapa kelompok Islam, dan sebagainya. Poinnya, mereka tidak gencar menyerang "orang lain", tetapi lebih fokus untuk mengoreksi kelompok sendiri.

Itu tampaknya simpel saja. Namun sayangnya, di level masyarakat luas, tidak semua orang peduli soal itu, dan sulit memahami bahwa perubahan sosial lebih memungkinkan untuk dicapai tanpa gejolak besar jika yang dijalankan adalah mekanisme autokritik.

Sebenarnya, ini logika kepantasan komunikasi yang bukan cuma menyerempet soal keyakinan saja. Ambil contoh, kasus yang baru saja bikin ribut lini masa, tentang pendengung yang melontarkan celetukan kepada seorang tokoh politik, dan ujungnya si pendengung dituduh bersikap rasis. Juga seorang pengguna medsos lainnya yang mengejek ciri fisik sang tokoh politik dengan ejekan yang jelas-jelas merendahkan harkat kemanusiaan.

Kontan, kejadian-kejadian semacam itu memicu konflik keras. Sebab yang muncul bukan lagi sebatas hantaman satu orang atas satu orang lainnya, melainkan satu orang melawan satu kelompok besar masyarakat yang merasa punya kesamaan karakter fisik dengan orang yang dihina tadi (sementara si penghina berciri fisik beda dengan mereka).

Ini mengingatkan saya akan kejadian tujuh tahun silam, ketika di sebuah acara televisi seorang pelawak senior melemparkan candaan yang mengejek sebuah nama marga Batak. Saya memang pernah mendengar dengan telinga kepala sendiri betapa candaan yang sama biasa dilontarkan oleh kawan-kawan Batak yang saya kenal. Masalahnya, si pelawak itu beretnis Jawa, bukan Batak, dan dia menjadikan satu marga Batak sebagai candaan. Terang saja kemarahan teman-teman beretnis Batak seketika meledak, dan itu sangat wajar dan sangat bisa dimaklumi.

Tapi coba bandingkan jika celetukan itu muncul dari satu kelompok yang sama. Atau biar gampang, saya pakai contoh diri saya sendiri. Saya orang Jawa, dengan kulit sawo matang sedikit gelap karena terpapar panasnya tumpukan persoalan hidup, dengan kultur Jawa yang bisa Anda bayangkan seperti apa. Ketika saya menertawakan tradisi Jawa saya sendiri, misalnya, mungkin saja ada orang Jawa yang marah sama saya. Tapi jelas celetukan saya itu sulit diposisikan sebagai ujaran SARA. Lha wong saya sendiri orang Jawa, kok.

Atau contoh lain, soal golongan. Saya warga Muhammadiyah, lahir dan dibesarkan dalam kebiasaan beragama ala Islam-Muhammadiyah. Ketika dulu saya pernah menulis tentang betapa orang-orang Muhammadiyah itu serius-serius, sering tegang dan kurang lucu, memang banyak yang marah sama saya sambil menuduh saya menghina Muhammadiyah. Tapi kemarahan itu berubah menjadi sebatas omelan dan gerundelan dongkol saja, begitu ada yang memberikan kesaksian bahwa mendiang bapak saya dulu memang selama puluhan tahun aktif di Muhammadiyah, dan sangat Muhammadiyah sampai ke tulang sumsumnya.

Dengan pemahaman psikologi-komunikasi seperti itulah, sungguh mengherankan kenapa banyak orang masih memakai logika kacau, semacam, "Kenapa soal aturan memakai jilbab di sekolah negeri justru yang meributkan malah orang-orang Islam sendiri? Tapi waktu dulu ada larangan berjilbab yang juga di sekolah negeri, mereka yang mengaku muslim itu justru tampak lebih banyak diamnya? Mereka mengaku Islam tapi tindakannya memusuhi Islam!"

Sebentar, sebentar. Saya selalu menggunakan analogi begini. Saya melihat anak perempuan saya suka berpakaian semaunya saat keluar rumah. Pakai kaos yang sudah kekecilan, celana lusuh asal sambar, rambut pun tidak disisir. Ketika saya mengingatkan anak saya agar lebih pantas dalam berpenampilan demi menghormati orang lain dan demi martabat dirinya sendiri, apakah itu artinya saya membenci anak saya dan memusuhi anak saya? Tentu tidak, kan? Begitu lho cara mikirnya.

Dalam konteks protes soal jilbab tadi, saya sepakat seratus persen bahwa setiap tindakan opresif kepada keyakinan, di ruang publik tempat semua orang bebas mengekspresikan keyakinannya, wajib dilawan. Namun, dalam sebuah masyarakat yang sangat plural dan rentan memunculkan gesekan-gesekan, kita tidak bisa asal "membela kebenaran" sambil menghadap-hadapkan diri secara frontal antarkelompok. Itu berbahaya, dan berpotensi menjauhkan kita dari kemaslahatan kehidupan bersama.

Akan jauh lebih taktis jika setiap kelompok membiasakan diri berkaca, melihat secara lebih teliti masalah-masalah yang ada dalam diri mereka, lalu jika muncul masalah dalam diri mereka ya autokritik langkahnya. Tentu saja ini hal yang mesti ditradisikan bersama-sama, oleh setiap golongan, dalam spirit saling menjaga satu sama lain, jika semuanya sungguh-sungguh punya tujuan untuk membangun kehidupan yang damai tenteram berdampingan selamanya.

Anda sepakat, bukan? Masak tidak sepakat?

"Lho, kata siapa semuanya sungguh-sungguh kepingin hidup berdampingan, Bro? Banyak yang maunya hidup sendiri kok, tidak mau ada orang lain bersama mereka. Atau kalau bersama-sama ya kelompok mereka yang harus mendominasi dan berkuasa seutuhnya!"

Oalah, ada yang begitu ya. Wah, ya repot sih kalau memang begitu.

Iqbal Aji Daryono penulis, tinggal di Bantul

(mmu/mmu)