Kolom

Panggilan Sejarah NU untuk Keislaman dan Keindonesiaan

Arwani Thomafi - detikNews
Minggu, 31 Jan 2021 12:06 WIB
Sekjen PPP Arwani Thomafi
Foto: PPP
Jakarta -

Nahdlatul Ulama (NU) tanggal 31 Januari ini, merujuk penanggalan masehi, genap berusia 95 tahun. Yang artinya, lima tahun lagi, organisasi yang didirikan para ulama Indonesia ini akan berusia satu abad.

Keberadaan NU tidak dapat dilepaskan dari Islam dan Indonesia. Kedua entitas itu pula yang menjadi latar garis perjuangan organisasi kemasyarakatan NU. Berbagai momentum penting perjalanan republik ini, kontribusi dan peran NU menjadi yang menentukan.

Simak saja dawuh Hadrotus Syaikh KH Hasyim Asy'ari dalam Muktamar ketiga NU pada 28-30 September 1928 di Surabaya menyampaikan garis besar perjuangan NU. Sejumlah hal prinsip tersebut yakni persatuan bangsa untuk mengusir musuh, persaudaraan untuk menumbuhkan kebersamaan, kedaulatan untuk kemakmuran dan konsep ahlussunnah wal jamaah untuk landasan ber-Islam yang benar (ahlul haqqi wa thoifatul haqqi adz dzohiroh).

Keempat garis besar perjuangan NU tersebut dalam praktik negara modern telah menjadi pedoman dalam berbangsa dan bernegara di tengah keragaman masyarakat Indonesia hingga kini.

Situasi yang sama juga muncul saat perdebatan tentang legitimasi dari sebagian kelompok Islam di Indonesia yang tidak setuju dengan penetapan Presiden Soekarno. Silang kata antara elemen umat Islam tentang argumentasi syar'i terhadap Presiden Soekarno.

Lagi-lagi, peristiwa tersebut menegaskan sikap dan komitmen posisi NU terhadap keislaman dan keindonesiaan. Melalui pendapat dan argumentasi hukum KH Baidhowi Lasem yang cukup populer 'Soekarno Huwal Waliyyul Amri Al-Dioruri Bisy Syaukah (Soekarno adalah Presiden RI yang sah karena darurat)', perdebatan mengenai legitimasi Soekarno sebagai Presiden RI tak lagi muncul khususnya di kalangan umat Islam.

Pendapat KH Baidhowi Lasem pada tahun 1952 itu kembali disampaikan dalam Munas alim ulama NU pada tahun 1954 di Cipanas dan dikukuhkan sebagai pernyataan resmi organisasi dalam Muktamar ke-20 NU pada tahun 1954 di Surabaya.

Berbagai penggalan sejarah atas peran dan kontribusi NU dalam perjalanan bangsa ini semakin menegaskan eksistensi dan peran organisasi yang didirikan di Surabaya ini. Benang merah yang dapat ditarik tak lain mengenai komitmen NU terhadap keislaman dan keindonesiaan yang senantiasa harus dikontekstualisasikan seiring perubahan dan tantangan zaman dari masa ke masa.

Kontekstualisasi dan Tantangan

Tantangan dan perubahan zaman menuntut kontekstualisasi perjuangan terhadap persoalan yang dihadapi bangsa dan masyarakat Indonesia. Karena setiap zaman ada masalahnya, dan setiap masalah ada zamannya. Karena itu, garis kuat perjuangan NU di bidang keislaman dan keindonesiaan membutuhkan kontekstualisasi yang disesuaikan dengan kebutuhan zaman.

Langkah pertama yang harus dirumuskan tak lain berupa identifikasi persoalan dan tantangan yang dihadapi bangsa dan masyarakat Indonesia. Identifikasi national interest ini penting dilakukan supaya arah perjuangan lebih fokus dan tidak salah sasaran.

Tantangan kebangsaan semakin kompleks di tengah fenomena post truth dan populisme yang melanda di dunia global, tak terkecuali di Indonesia, perlu dicermati dengan seksama. Poin ini menjadi tantangan serius baik bagi negara maupun kelompok masyarakat sipil, tak terkecuali NU untuk memastikan jalinan dan rekatan kebangsaan tetap terkonsolidasi dengan baik.

Di saat yang bersamaan, fenomena tersebut juga merambah terhadap cara memahami agama dan bagaimana mempraktikkannya. Walhasil, ketegangan di tengah masyarakat dengan latar agama menjadi persoalan tersendiri. Di poin ini, peran NU dan ormas-ormas keagamaan lainnya memiliki signifikansinya.

Persoalan makin kompleks jika dikaitkan dengan wabah COVID-19 yang sejak sepuluh bulan dihadapi dunia yang telah mengubah berbagai tatanan masyarakat. Seperti diungkap Klaus Schwab dan Thierry Malleret (2020) COVID-19 telah mengubah sedikitnya lima sektor penting di tengah publik yakni economic reset, societal reset, geopolitical reset, environmental reset, dan technological reset.

Atas dasar tersebut, identifikasi persoalan yang saat ini perlu menjadi perhatian NU dan seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) yakni pertama, memastikan agama menjadi bagian solusi atas persoalan kebangsaan di Indonesia. Spirit beragama menjadi energi penting dalam menyelesaikan ragam persoalan kebangsaan. Karena itu, upaya mempertentangkan agama dan negara tak lagi relevan dimunculkan.

Dengan cara ini, kekhawatiran terhadap ancaman paham keagamaan yang insubordinat dari prinsip-prinsip universal dapat dipastikan tak lagi muncul. Terlebih, keberadaan paham Ahlussunnah wal jama'ah yang dianut NU memiliki relevansi untuk menghadirkan beragama yang memegang prinsip tasamuh, tawazun, dan ta'adul. Beragama yang berada di tengah, tidak ke kanan dan tidak pula ke kiri.

Kedua, persoalan sosial-ekonomi yang menjadi efek serius dari pandemi COVID-19 ini harus digotong bersama-sama seluruh pemangku kepentingan. Tentu tak hanya negara, namun kalangan masyarakat sipil seperti NU yang memiliki andil dan peran yang signifikan.

Penguatan warga negara seperti ketersediaan akses lapangan kerja, akses pangan, akses pendidikan, akses kesehatan, akses lingkungan yang sehat menjadi agenda yang makin mendesak dicarikan jalan keluar terlebih imbas pandemi ini. NU dengan jejaring dan sumber daya yang dimiliki dapat mengambil peran strategis bersama elemen lainnya untuk bersama-sama menyelesaikan persoalan yang penting ini.

Optimis Menyambut Usia Satu Abad

Lima tahun menjelang satu abad usia NU, telah menampilkan wajah yang segar, adaptif dan tetap kokoh dalam memegang tradisi. NU yang selama ini diasosiasikan oleh pihak luar NU sebagai organisasi tradisional, kini telah berubah.

Pemanfaatan platform digital dalam menyiarkan gerak NU, ulama dan para aktivisnya melalui diseminasi informasi di bidang keagamaan, kebangsaan, dan kenegaraan telah menjadikan NU cukup mudah dijumpai oleh masyarakat di dunia maya.

Sejalan dengan itu, sumber daya manusia (SDM) NU atau nahdliyin baik yang tergabung dalam pengurus NU, badan otonom NU, maupun warga NU yang tidak menjabat di struktur kepengurusan telah menyebar ke berbagai sektor di ruang publik. Sebut saja sektor pemerintahan, profesional, akademisi, politisi dan berbagai profesi yang bersentuhan dengan publik lainnya. Diaspora kader NU ini merupakan berkah yang harus disyukuri bersama-sama.

Berlimpahnya kader NU yang tersebar di berbagai sektor ini merupakan dampak dari ekspansinya kader NU di berbagai lembaga pendidikan baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Baik di lembaga pendidikan keagamaan maupun lembaga pendidikan nonkeagamaan.

Harus diakui, wajah baru NU ini tidak terlepas sikap adaptif para kiai dan ulama NU dengan perkembangan zaman. Ditambah lagi, melimpahnya kader NU mulai dari generasi X (lahir 1965-1976), generasi Y atau generasi internet (lahir 1977-1997), serta sebagian generasi Z (next generation) (lahir 1998 - kini) (Don Taspott, 2009) yang lahir dari rahim kader NU yang saat ini mewarnai ruang publik baik di lembaga negara maupun lembaga swasta.

Sumber daya manusia yang dimiliki NU ini merupakan 'bonus demografi' yang dimiliki NU dalam menyongsong satu abad NU lima tahun mendatang. Maka, tak ada kata lain selain NU sangat optimis dalam menyongsong usia satu abad. Dalam konteks ini, panggilan sejarah NU dalam keislaman dan keindonesiaan yang dimulai sejak lahirnya 95 tahun silam hingga saat ini tak lekang oleh waktu. Selamat harlah ke-95 NU, semoga Allah meridai setiap perjuangan dan ikhtiar.

Arwani Thomafi, Sekjen PPP

(fhs/ega)