Kolom

Menyongsong Kebangkitan Kedua NU

Jamal Ma'mur Asmani - detikNews
Minggu, 31 Jan 2021 13:04 WIB
Warga Nahdlatul Ulama (NU) dihimbau untuk menjaga ketertiban dan keamanan Pemilu 2019. Ketua umum PBNU, KH Said Aqil Siradj mendoakan tokoh NU berhasil dalam Pemilu.
Foto: Eko Sudjarwo
Jakarta -

Ahad, 31 Januari 2021, Nahdlatul Ulama (NU) berusia 95 tahun. Usia yang tidak muda lagi karena mendekati satu abad. Lima tahun lagi, NU akan berusia satu abad, yaitu pada 31 Januari 2026. Lima tahun ke depan, NU diharapkan mampu melakukan akselerasi program strategis sehingga tepat pada peringatan satu abad nanti NU akan mengalami nahdlah tsaniyah (kebangkitan kedua) dalam aspek-aspek strategis yang selama ini dicita-citakan warga NU, yaitu dalam bidang pendidikan, ekonomi, kesehatan, politik kebangsaan, kebudayaan, dan sosial kemasyarakatan.

Dalam aspek pendidikan, NU diharapkan mampu melahirkan lembaga pendidikan unggul berkaliber nasional dan internasional. Gebrakan tokoh pendidikan NU, yaitu Prof. Asep Syaifuddin Chalim yang mampu melahirkan lembaga pendidikan berkualitas tinggi dan dalam waktu dekat akan membuka lembaga pendidikan kelas internasional yang menampung pelajar dari berbagai Negara menjadi pelajaran penting bagi NU untuk mampu meningkatkan kualitas lembaga pendidikannya menuju level nasional dan internasional. Pengembangan sumber daya manusia, sarana prasarana, kekuatan finansial, relasi, dan dukungan masyarakat sangat penting bagi akselerasi kualitas lembaga pendidikan.

Selama ini, keunggulan distingtif NU dalam bidang pendidikan adalah pesantren. Menurut Nurcholis Madjid (1997), pesantren lembaga genuine Indonesia. Jika tidak ada penjajahan, maka universitas yang ada akan bernama Universitas Tebuireng, Universitas Krapyak, Universitas Termas, Universitas Asembagus Situbondo. Meskipun ada penjajahan, namun pesantren tetap mampu bertahan dan bahkan memberikan kontribusi besar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Azyumardi Azra (1997) menyatakan, kreativitas dan inovasi pesantren menghadapi gempuran transformasi dunia pendidikan global. Transformasi pendidikan global meniscayakan perubahan fundamental kurikulum yang mengubah visi misi pendidikan. Pesantren dalam merespons dinamika global ada yang konsisten dengan pola salaf (tradisional), khalaf (modern), dan tengah-tengah antara salaf dan khalaf.

Pertumbuhan pesantren dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yang sangat signifikan dari segi kuantitas (Zamakhsyari Dhofier, 1994). Realitas inilah yang harus disyukuri bangsa Indonesia karena pesantren terus mengawal eksistensi bangsa ini bersama elemen yang lain mulai pra kemerdekaan, kemerdekaan, pasca kemerdekaan dan sampai sekarang.

Melihat fakta ini, pesantren harus didinamisasi secara kompetitif, baik kurikulum, sumber daya manusia, sarana prasarana, kekuatan finansial, dan relasinya, sehingga mampu meningkatkan kualitas secara akseleratif sehingga mempunyai reputasi keilmuan nasional dan global. Ulama-ulama besar lahir dari pesantren, seperti KH. Bisri Mustafa, KH. MA. Sahal Mahfudh, KH. Maimoen Zubair, KH. Tholhah Hasan, KH. A. Hasyim Muzadi, KH. A. Mustafa Bisri, dan KH. Said Aqil Siradj.

Pesantren punya modal sosial yang besar untuk meningkatkan kualitasnya sehingga menjadi lembaga pendidikan level nasional dan internasional yang disegani karena karya-karya besarnya yang dikonsumsi dunia. Al-Azhar Mesir adalah lembaga pendidikan yang diakui dunia dari dulu sampai sekarang. Pesantren di Indonesia harus berusaha semaksimal mungkin berada selevel Al-Azhar sehingga para pelajar dari berbagai manca negara berbondong-bondong ingin belajar di pesantren.

Pesantren menjadi destinasi pendidikan dunia. Cita-cita besar ini bukan sesuatu yang mustahil karena pesantren terbukti menjadi lembaga pendidikan yang mampu survive di tengah kompetisi global yang sangat ketat.

Dalam aspek ekonomi, NU diharapkan mampu memberikan kontribusi riil kepada warga NU dalam berbagai bentuk program yang merakyat. Hal ini bukan pekerjaan ringan sehingga membutuhkan perjuangan semua pihak untuk merealisasikannya. Lembaga Amil Zakat Infak Sedekah Nahdlatul Ulama (Lazisnu) diharapkan menjadi ujung tombak kebangkitan ekonomi NU karena filosofi Lazisnu adalah dari warga oleh warga dan untuk warga.

Lazisnu menghimpun dana dari warga NU, dikelola oleh warga NU dan diperuntukkan untuk warga NU. Lazisnu yang selama ini dijadikan contoh adalah Sragen yang berhasil menghimpun dana sekitar Rp 7 miliar pada 2018 yang digunakan untuk program konsumtif (santunan fakir-miskin-anak yatim) dan produktif (beasiswa pendidikan dan usaha-usaha ekonomi strategis).

Namun ada contoh yang lebih inspiratif, yaitu Lazisnu desa Nanggerang Cicurug Sukabumi Jawa Barat. Lazisnu level ranting (desa) ini mempunyai anggota 1500 orang yang setiap hari memasukkan uang 500 rupiah. Hasil dari penghimpunan ini mampu digunakan untuk membangun Klinik Kesehatan NU yang dimanfaatkan untuk pengobatan gratis bagi 1500 anggotanya. Lazisnu ini juga menanggung biaya kematian sampai tujuh hari.

Selain itu, program Lazisnu ini adalah memberikan bantuan tetap per bulan kepada orang-orang yang membutuhkan, seperti orang yang lanjut usia, menanggung biaya listrik tempat ibadah (masjid dan musala), melakukan penghijauan lingkungan, dan merintis usaha-usaha produktif yang bermanfaat bagi masyarakat dalam jangka panjang (Amin Sudarsono, 2017).

Keberhasilan Lazisnu Nanggerang ini membuat banyak lembaga yang memberikan suntikan dana untuk program usaha produktif, seperti Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Artinya, jika sebuah lembaga berdaya dan menunjukkan kualitas tinggi, banyak lembaga yang ingin memberikan bantuan dan bekerja sama dalam melaksanakan program yang positif dan konstruktif. Kader-kader muda NU harus berbondong-bondong membangkitkan Lazisnu.

Dalam aspek kesehatan, NU masih jauh tertinggal. Belum banyak balai kesehatan atau rumah sakit yang berhasil didirikan NU. Ddalam aspek ini dibutuhkan soliditas tim yang bergerak secara simultan dan kolektif untuk mendirikan klinik kesehatan atau rumah sakit yang menjadi rujukan warga NU dalam bidang kesehatan.

Berbagai syarat administrasi, infrastruktur, sumber daya manusia, finansial, dan relasi menjadi faktor utama yang harus dipenuhi untuk mendirikan klinik kesehatan dan rumah sakit yang standar dan kompetitif. Studi banding kepada lembaga yang bonafid dalam pengelolaan rumah sakit sangat penting dalam konteks ini sehingga rumah sakit yang didirikan sesuai ekspektasi publik.

Dalam konteks politik kebangsaan, NU sejak dulu sampai sekarang dan masa yang akan datang selalu berada di garda depan yang mengawal Pancasila, Binneka Tunggal Ika, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Undang-Undang Dasar 1945 yang menurut KH. Maimoen Zubair disingkat dengan PBNU (KH. A. Mustafa Bisri, 2019).

Pendiri NU, Hadlratussyaikh KH. M. Hasyim Asy'ari sudah meletakkan fondasi yang kokoh yang menyelaraskan paham keislaman dan kebangsaan dalam satu pemikiran dan gerak yang padu. Doktrin hubbul wathan minal iman (cinta tanah air termasuk bagian dari iman) menjadi doktrin yang efektif membangun nasionalisme religius pada rahim NU sehingga ulama, santri, dan umat Islam Indonesia terbangun kokoh paham kebangsaannya yang bersumber dari ajaran dan nilai Islam (Said Aqil Siradj, 2018).

Trilogi ukhuwwah NU, yaitu ukhuwwah Islamiyah (persaudaraan antarumat Islam), ukhuwwah wathaniyah (persaudaraan antarsesama warga Negara), dan ukhuwwah insaniyah (persaudaraan antarsesama anak manusia) yang dicetuskan Rais Am Syuriyah PBNU, yaitu KH. Achmad Shiddiq meneguhkan relasi lintas sektoral bangsa Indonesia yang faktualnya memang pluralistik yang terdiri dari berbagai macam agama, ras, etnis, suku, dan antar golongan.

Kebangkitan NU di bidang pendidikan, ekonomi, kesehatan, dan politik kebangsaan menjadi dambaan dan cita-cita besar NU yang keberhasilannya ditunggu bangsa ini karena keberhasilan NU menjadi keberhasilan bangsa ini. Bangsa ini yang selalu diuntungkan dengan pemikiran dan pergerakan NU yang konsisten mengokohkan paham keislaman dan kebangsaan yang moderat, toleran, seimbang, dinamis, dan progresif.

Semoga Harlah NU ke-95 ini menjadi daya dobrak untuk menggapai nahdlah tsaniyah sehingga tepat pada satu abad nanti, prestasi-prestasi besar NU menjulang tinggi ke angkasa yang membawa manfaat besar bagi warga NU dan bangsa Indonesia dan bahkan dunia secara keseluruhan. Dengan tekad besar, semangat pantang menyerah, dan terus berusaha sepanjang hayat masih di kandung badan, cita-cita besar akan menjadi kenyataan.

Jamal Ma'mur Asmani aktivis NU, alumnus PPWK Lakpesdam PBNU,dDosen IPMAFA Pati

(mmu/mmu)