Kolom

Islam, Vaksin, dan Peradaban

Muhammad Yusuf El-Badri - detikNews
Jumat, 29 Jan 2021 11:15 WIB
Australia Setujui Penggunaan Vaksin Pfizer. Kapan Warga Mulai Divaksin?
Foto ilustrasi: ABC Australia
Jakarta -

Pandemi virus Korona atau Covid-19 sudah satu tahun berlalu. Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) jumlah kasus terpapar virus Korona di 223 negara per 16 Januari mencapai 91,8 juta jiwa, dengan 1,9 juta di antaranya meninggal dunia. Sedang kasus di Indonesia kini telah menembus angka satu juta, dengan mencapai 882 dengan 25 ribu lebih meninggal dunia.

Akibat pandemi ini pengangguran, tingkat kemiskinan, angka putus sekolah meningkat, ekonomi negara-negara di dunia merosot tajam, sistem pendidikan, dan sosial menjadi tak menentu. Intinya dunia lumpuh total oleh virus Korona. Bila dilihat perkembangan demi perkembangan yang terjadi barangkali orang akan berpikir dunia seakan kiamat karena roda kehidupan tersendat-sendat. Bahkan sebagian mati total.

Keputusasaan masyarakat dunia berangsur hilang ketika banyak negara dilaporkan pada Juni 2020 tengah berlomba-lomba mencarikan solusi (vaksin) agar kehidupan segera normal kembali. Pada Juni itu paling tidak 120 laboratorium di seluruh dunia sedang mengembangkan vaksin. Hingga Oktober 2020 WHO melapor 10 vaksin masuk dalam uji coba terakhir. Negara-negara pengembang vaksin itu adalah negara dengan ideologi sekuler, kapitalis dan komunis, dan berpenduduk minoritas muslim. Negara utamanya adalah Amerika Serikat, China, dan Rusia.

Pertanyaannya yang penting dijawab saat ini adalah di mana posisi Islam atau peran penting umat Islam ketika dunia sedang lumpuh dan membutuhkan pengobatan untuk seluruh manusia penduduk bumi? Dan bagaimana dengan klaim Islam sebagai rahmat bagi sekalian alam?

Vaksinasi

Satu per satu negara di dunia, baik di Eropa, Amerika, hingga Timur Tengah sudah mulai melakukan vaksinasi. Di Indonesia vaksinasi dimulai sejak 13 Januari yang ditandai penyuntikan vaksin pada Presiden Joko Widodo dan beberapa pejabat penting lainnya. Vaksin yang digunakan oleh Indonesia berasal dari China, Amerika Serikat, Hong Kong, Prancis, dan Belgia.

Tidak hanya Indonesia, negara-negara Islam lain seperti Arab Saudi, Mesir, Malaysia, Qatar, dan negara lainnya yang berpenduduk mayoritas muslim dapat dipastikan mengimpor vaksin dari negara-negara yang diatur dengan cara non-Islam. Negara-negara yang diatur dengan nilai-nilai berbasis Islam atau negara yang dihuni mayoritas umat beragama Islam nyaris tak mampu menemukan dan memproduksi vaksin untuk menyelamatkan jutaan nyawa manusia yang sedang terancam oleh penyakit menular.

Kegagalan tersebut menunjukkan bahwa umat Islam masih belum mampu menghadirkan wajah Islam sebagai agama rahmat yang menyelamatkan alam semesta. Dalam konteks pandemi ini, umat Islam gagal menjadikan Islam sebagai penyelamat kehidupan manusia. Optimisme atau harapan hidup manusia abad ke-21 ini justru dihadirkan oleh negara-negara yang oleh umat Islam sering disebut sebagai kafir dan anti Tuhan.

Masih Tertinggal Jauh

Tidak adanya negara berpenduduk muslim mayoritas yang terlibat dalam penemuan vaksin menunjukkan bahwa peradaban Islam masih tertinggal jauh dibanding peradaban Eropa, Barat, dan China. Dengan demikian reformasi Islam yang sudah berlangsung lebih dari dari satu abad masih harus terus digalakkan kembali.

Integrasi Islam dan sains, Islam, dan ilmu-ilmu modern harus menjadi menjadi perhatian utama umat Islam dunia bila Islam tidak ingin hanya sebagai pengekor dunia Eropa dan Barat. Kesempatan untuk berpikir terbuka dan maju mesti diberi ruang demi kemajuan Islam itu sendiri. Tanpa adanya ruang keterbukaan terhadap dunia dan sains, umat Islam hanya akan menjadi kelompok yang tidak pernah diperhitungkan dalam kehidupan dunia.

Oleh sebab itu, umat Islam harus mampu dan perlu bekerja lebih keras untuk membuktikan Islam sebagai agama rahmat dan penyelamat kehidupan. Tanpa kerja keras dan bukti nyata dari umat Islam, klaim Islam sebagai agama rahmat akan menjadi bahan tertawaan belaka. Benar kata Sayyid Ahmad Khan (1817-1898), seorang reformis Islam asal India, bahwa tanpa menguasai ilmu modern umat Islam akan semakin terdegradasi.

Muhammad Yusuf el-Badri mahasiswa Program Doktor Islamic Studies Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta

(mmu/mmu)