Kolom

Siap-Siap Asesmen Nasional 2021

Retno Winarni - detikNews
Kamis, 28 Jan 2021 15:17 WIB
Selamat tinggal ujian nasional (Mindra Purnomo/detikcom)
Selamat tinggal ujian nasional (Ilustrasi: Mindra Purnomo/detikcom)
Jakarta -
Seorang guru sekaligus penulis buku dari penerbit terkemuka menulis sebuah status di media sosialnya. Sang guru mempromosikan buku barunya yang membedah Asesmen Kompetensi Minimum (AKM). Tentu sembari meyakinkan bahwa buku itu perlu hadir untuk membekali guru bersiap menghadapi AKM. Alasannya, tipe soal AKM mirip dengan PISA yang penuh konsep bernalar dan analitis yang membutuhkan pemikiran matang dan latihan.

AKM merupakan bagian dari Asesmen Nasional. Asesmen Nasional meliputi tiga hal yaitu AKM, Survei Karakter, dan Survei Lingkungan Belajar. AKM mengujikan penguasaan kompetensi literasi membaca dan literasi numerasi. Survei Karakter mengukur sikap, nilai, keyakinan dan kebiasaan yang mencerminkan karakter siswa. Sedangkan Survei Lingkungan Belajar mengukur kualitas berbagai aspek input dan proses belajar mengajar di kelas maupun tingkat sekolah.

Asesmen Nasional tidak mengevaluasi capaian siswa secara individu, tetapi mengevaluasi dan memetakan sistem pendidikan berupa input, proses, dan hasil. Potret layanan dan kinerja tiap sekolah dari hasil Asesmen Nasional ini kemudian menjadi cermin untuk bersama sama melakukan refleksi mempercepat perbaikan mutu pendidikan nasional.

Menurut rencana, Asesmen Nasional akan diselenggarakan pada Maret sampai dengan Agustus 2021. Asesmen Nasional akan dilaksanakan secara bergantian di tiap jenjang sekolah. Untuk jenjang SMP, SMA, dan Paket A, B, C menurut rencana dilaksanakan sekitar Maret-April. Sedangkan untuk SD direncanakan Agustus. Benarkah guru perlu membekali diri dengan buku bedah soal AKM? Atau perlu pembimbingan khusus dengan mengikuti bimbingan belajar?

Saya punya pandangan yang berbeda tentang persiapan yang perlu dilakukan untuk menghadapi Asesmen Nasional. Ibarat perjalanan menuju ke puncak gunung, Asesmen Nasional 2021 adalah awal perjalanan. Di awal perjalanan tak perlu tergesa-gesa ingin segera sampai ke puncak. Kekuatan fisik dan mental dibuat senyaman mungkin. Bekal belum perlu dikeluarkan. Buku bedah soal AKM dan bimbel adalah bekal yang dibawa siswa ke puncak.

Asesmen Nasional yang dilaksanakan setelah tahun 2021 adalah Pos 2, Pos 3, dan seterusnya hingga mencapai puncak yang diharapkan. Perlu strategi dan persiapan yang matang selama perjalanan menuju puncak tersebut. Perlu pengenalan medan hingga tidak tersesat dan menerapkan ilmu survival selama perjalanan.

Bagi guru, salah satu bekal menghadapi Asesmen Nasional adalah pemahaman tentang Asesmen Nasional itu sendiri. Pemahaman ini bisa didapatkan melalui Program Bimbingan Teknik (Bimtek) Guru Belajar Seri AKM. Program ini disusun dengan memadukan tahapan dan pendekatan modular yang memfasilitasi peserta melakukan personalisasi pembelajaran. Program bertujuan membekali guru pengetahuan dan pemahaman tentang Asesmen Nasional.

Program Bimtek diselenggarakan dengan sistem daring dan guru bebas mengatur jadwal sesuai kesibukan masing masing, dalam beberapa tahap dengan materi yang bisa diselesaikan secara mandiri oleh masing masing peserta.

Dalam video yang diunggah di Youtube dalam rangka pembukaan Bimbingan Teknik AKM, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim dengan tegas menyampaikan bahwa Asesmen Nasional 2021 tidak memerlukan persiapan-persiapan khusus maupun tambahan-tambahan khusus yang justru akan menjadi beban psikologis.

Nadiem meminta agar pihak sekolah lebih fokus dalam mempersiapkan logistik guna pelaksanaan Asesmen Nasional mendatang. Khususnya, bagi sekolah yang telah memiliki infrastruktur sehingga dapat membantu sekaligus menjadi tuan rumah bagi sekolah lain.

AKM dilaksanakan berbasis komputer dan bersifat adaptif. Jika siswa menjawab dengan benar, maka akan dilanjutkan dengan soal yang lebih kompleks. Sebaliknya jika siswa menjawab salah, maka soal berikutnya adalah soal yang lebih sederhana. Maka jelas tidak diperlukan jawaban yang harus selalu benar. Jadi tak perlu repot mengajari siswa menjawab dengan benar secara cepat dan berpacu dengan waktu seperti yang diajarkan di bimbingan belajar.

"Bahan yang akan diujikan tidak bisa dipelajari melalui bimbingan belajar, karena asesmen ini hanya menguji nalar siswa," jelas Mendikbud.

Wajib dipahami pula, berbeda dari Ujian Nasional, yang menjadi peserta AKM bukan siswa pada kelas akhir tiap jenjang, tetapi siswa kelas V, VII, dan XI. AKM juga tidak mengevaluasi seluruh siswa tetapi hanya siswa yang dipilih secara acak. Pemilihan kelas V, VII, dan XI adalah konsep assessment of learning yang mengukur proses pembelajaran, Hal ini untuk mendorong guru dan sekolah melakukan tindak lanjut perbaikan mutu pembelajaran setelah mendapat hasil laporan Asesmen Nasional.

Dalam pandangan saya, sosialisasi pelaksanaan AKM kepada orangtua siswa yang terpilih mengikuti perlu dilakukan dalam kerangka informasi program dan dukungan moral bagi putra-putrinya. Perlu pula disampaikan, orangtua tak usah heboh menyisihkan biaya untuk bimbingan belajar apalagi di masa pandemi Covid-19 yang membutuhkan kecerdasan finansial untuk melaluinya.

Orangtua tidak perlu melakukan persiapan apa pun untuk putra-putrinya. Sebab tidak semua jenjang pendidikan akan mengikuti AKM. Tidak semua siswa terpilih mengikuti AKM Apalagi hasil AKM tidak ditujukan kepada individu siswa tetapi kepada sekolah. Hasil AKM juga bukan dalam angka seperti Ujian Nasional.

Dari penjelasan di atas jelas kiranya mengarahkan siswa untuk mengikuti bimbingan belajar adalah hal yang kurang tepat. Alih-alih mengikuti bimbingan belajar AKM, akan lebih bermanfaat bagi siswa mengikuti kegiatan pengembangan diri di bidang seni, keterampilan, olahraga, dan berorganisasi yang akan sangat berguna bagi masa depannya.

Demikian pula buku-buku yang membedah soal-soal AKM, jika dipandang dari sisi positif adalah usaha penerbit buku untuk mencari peluang pasar pada guru, orangtua, dan siswa yang memiliki "kelonggaran" finansial, dan bukan kebutuhan primer.

Sesungguhnya yang perlu dipersiapkan untuk menghadapi Asesmen Nasional adalah pemahaman mengenai tujuan dan manfaatnya, serta implikasinya pada perubahan praktik dan strategi pembelajaran di kelas. Hasil Asesmen Nasional 2021 dimaksudkan sebagai peta awal mutu sistem pendidikan. Asesmen Nasional tidak akan digunakan untuk mengevaluasi kinerja sekolah maupun daerah, dan tidak ada konsekuensi bagi sekolah maupun siswa.

Jika benar-benar ingin berperan dalam perbaikan mutu pendidikan nasional, maka menggunakan hasil laporan Asesmen Nasional 2021 untuk memperbaiki praktik dan strategi pembelajaran di kelas seperti yang telah disosialisasikan oleh Kemendikbud adalah pilihan terbaik. Dengan perbaikan tersebut sekolah, guru, siswa, dan orangtua telah menjadi bagian dari reformasi pendidikan.

Retno Winarni Guru SMA Negeri Kerjo Karanganyar, alumni Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta

(mmu/mmu)