Kolom

Cerita Corona Masuk Desa

Prima Ardiansah - detikNews
Rabu, 27 Jan 2021 17:10 WIB
Warga melintas di depan spanduk penutupan jalan masuk Desa Kalasan, Sleman, DI Yogyakarta, Senin (30/3/2020). Sejumlah desa atau perkampungan di Kota dan Kabupaten di DI Yogyakarta memberlakukan akses satu pintu masuk dengan menutup sejumlah jalan untuk mengurangi aktivitas warga sebagai upaya mencegah penularan COVID-19. ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah/aww.
Foto: Hendra Nurdiyansyah/Antara
Jakarta -

"Le, tetangga desa ada yang meninggal gara-gara Covid, sekarang istrinya lagi diisolasi."

Begitulah Ibu mengingatkan supaya saya di rumah saja, pokoknya jangan ke mana-mana, keluar boleh, tetapi cuma kalau perlu banget saja. Anggapan kalau di desa lebih aman daripada di kota sekarang berbalik sudah. Beberapa kali saya mendengar tetangga desa dan penduduk desa meninggal gara-gara Corona.

Sejak Senin, 18 Januari lalu, kota tinggal saya Trenggalek dan kota kecil sekitarnya kembali ke zona merah lagi. Zona merah di Jawa Timur kini bukan milik kota-kota besar seperti Surabaya, Sidoarjo, atau Malang. Sekarang sudah bergeser ke kota kecil seperti Trenggalek, Ponorogo, Madiun, Nganjuk, Magetan, dan Ngawi.

Padahal kabupaten yang saya sebut barusan mayoritas penduduknya bermata pencaharian sebagai peternak dan petani. Mereka bukan pekerja kantoran yang bisa menanggalkan kewajibannya di kantor dan melakukan pekerjaannya di rumah. Petani dan peternak memiliki jadwal harian yang padat dan tidak bisa ditinggal.

Seorang petani harus ada setiap hari untuk tanamannya, misalnya saja seperti saat musim tanam seperti sekarang. Mereka harus ada di sawah untuk menabur benih, lalu menjaganya supaya tidak ludes dimakan tikus. Ketika benih sudah siap tanam, mereka harus menancapkannya di sawah satu persatu, belum lagi kalau ada hama seperti keong sawah, mereka harus rajin memungut satu persatu supaya tidak gagal tanam.

Sebagai anak petani, saya tahu persis semua yang dilakukan orangtua saya, belum lagi ketika ada hama seperti wereng menyerang. Mereka harus turun ke sawah menyelesaikan pokok permasalahan.

Sedangkan peternak, mereka harus memastikan pakan ternaknya tersedia setiap hari, sekalian memberikan pakannya. Sebut saja peternak kambing, jika mereka tidak bisa menyediakan stok makanan berkarung-karung yang harganya mahal, mereka harus rela mencari ramban atau rumput gratis di ladang sehari-hari. Pilihan mencari pakan sendiri tentu merupakan pilihan mayoritas.

Bagaimana kalau satu hari saja para peternak atau petani ini kena Corona dan diharuskan isolasi mandiri? Siapa yang akan membersihkan keong sawah tadi, siapa yang akan mencarikan makan kambing tadi? Bisa saja Anda berpikir untuk meminta bantuan orang, tetapi mohon dipikir ulang, dari mana mereka bisa bisa membayarnya? Pendapatannya saja pas-pasan.

Dengan keadaan masyarakat seperti itu, tentu sangat runyam jika Corona sampai masuk ke pelosok desa. Seperti desa saya misalnya, anjuran pemerintah untuk memakai masker setiap hari agaknya sukar untuk diterapkan.

Tidak seperti orang kota yang mayoritas pendatang dan bekerja di tempat yang jauh dari tempat tinggalnya, orang desa mayoritas adalah penduduk asli yang sudah berpuluh tahun tinggal. Tempat kerjanya, maksud saya sawah dan tempat cari pakan ternaknya, juga tidak jauh dari tempat tinggalnya. Sehingga mayoritas akan abai dengan kewajiban memakai masker dan menjaga jarak. Lha setiap hari dari sebelum pandemi sampai sekarang ketemunya juga orang-orang itu saja kok.

Rasa curiga tetangga terkena Corona agaknya hampir tidak ada. Ketidakdisiplinan itu juga tidak didukung oleh sistem peneguran yang baik. Berbeda dengan kota yang bisa menerjunkan polisinya yang berlimpah kemanapun. Di desa tidak demikian, polisi hanya beroperasi di jalan besar atau jalan utama, jalan desa, apalagi yang pelosok nyaris tidak tersentuh. Yang ada mungkin cuma poster himbauan saja.

Yang bikin saya jengkel lagi, pemerintah juga tidak memberikan aturan yang ketat di desa. Masih banyak keluarga yang berani mengadakan hajatan pernikahan, masih mengundang tamu pula. Jelas-jelas kerumunan ini melanggar protokol kesehatan.

Sebetulnya hal yang paling saya khawatirkan adalah sistem kesehatannya. Di kabupaten saya misalnya ada pasien dengan saturasi oksigen menurun tidak mungkin hanya dirawat di ruang isolasi biasa, jika misal pasien jatuh ke kondisi yang lebih buruk lagi dan memerlukan Ventilator. Satu-satunya tempat terdekat yang punya ICU Ventilator Covid adalah RSUD Tulungagung, bukan di Trenggalek.

Hal ini jauh berbeda dengan keadaan di Surabaya yang punya rumah sakit dengan ICU Ventilator jauh lebih banyak. Maka, memang tidak banyak yang bisa dilakukan kepada pasien di kota-kota kecil. Sampai sekarang, yang bisa dilakukan memang hanya berdoa; berdoa supaya para penduduk desa yang harus bekerja setiap hari dan minim fasilitas kesehatan ini selalu dijauhkan dari marabahaya Corona.

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana kalau sistem kesehatan benar-benar hancur di kota kecil seperti tempat tinggal saya.

Prima Ardiansah calon dokter

(mmu/mmu)