Kolom

Evaluasi Pembangunan Manusia di Masa Pandemi

Heru Kusharjanto - detikNews
Senin, 25 Jan 2021 14:26 WIB
Petugas PPSU Bukit Duri menyelesaikan pembuatan mural yang berisi pesan waspada penyebaran virus Corona di kawasan Bukit Duri, Jakarta, Senin (31/8/2020). Mural tersebut dibuat agar meningkatkan kepatuhan masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan saat beraktivitas karena masih tingginya angka kasus COVID-19. Jumlah kasus harian Corona di DKI Jakarta pada minggu 30 Agustus 2020 memecahkan rekor dan menembus lebih dari 1.100 kasus per hari.
Mural waspada Covid-19 (Foto: Agung Pambudhy)
Jakarta -

Manusia adalah muara dari seluruh proses pembangunan karena pembangunan dilakukan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia itu sendiri. Menurut United Nations Development Programme (UNDP), tujuan utama dari pembangunan adalah menciptakan lingkungan yang memungkinkan bagi rakyatnya untuk menikmati umur panjang, sehat, dan menjalankan kehidupan produktif.

Dalam laporan Global Human Development Report pada 1990, UNDP memperkenalkan konsep pembangunan manusia sebagai paradigma baru model pembangunan. Pembangunan manusia dirumuskan sebagai perluasan pilihan bagi penduduk yang dapat dilihat sebagai proses upaya ke arah perluasan pilihan dan sekaligus sebagai taraf yang dicapai dari upaya tersebut yang diukur menggunakan Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

IPM menjelaskan bagaimana penduduk dapat mengakses hasil pembangunan dalam memperoleh pendapatan, kesehatan, dan pendidikan. IPM dihitung dari tiga dimensi pembangunan manusia yang paling mendasar, yaitu umur panjang dan hidup sehat (a long and healthy life), pengetahuan (knowledge), dan standar hidup layak (decent standard of living).

Dimensi umur panjang dan hidup sehat digambarkan oleh Usia Harapan Hidup pada saat lahir (UHH). Dimensi pengetahuan diukur menggunakan indikator Rata-rata Lama Sekolah (RLS) dan Harapan Lama Sekolah (HLS). Standar hidup yang layak digambarkan oleh pengeluaran per kapita riil disesuaikan, yang ditentukan dari nilai pengeluaran per kapita dan paritas daya beli (purchasing power parity).

Berdasarkan rilis yang disampaikan Badan Pusat Statistik (BPS), capaian IPM Indonesia pada 2020 tercatat sebesar 71,94. Dalam satu dekade ini, pembangunan manusia di Indonesia terus mengalami kemajuan yaitu meningkat dari 66,53 pada 2010 menjadi 71,92 pada 2019. Selama periode tersebut, IPM Indonesia rata-rata tumbuh sebesar 0,87 persen per tahun dan meningkat dari level sedang (60≤IPM<70) menjadi level tinggi (70≤IPM<80) sejak 2016.

Akibat pandemi Covid-19, capaian IPM pada 2020 hanya mampu tumbuh sebesar 0,03 persen. Bahkan jika dilihat per provinsi, dari 34 provinsi di Indonesia, tercatat ada 10 provinsi mengalami kemunduran pembangunan manusia; capaian IPM sedikit menurun dibandingkan 2019. Kemunduran capaian IPM ini terutama dipengaruhi oleh menurunnya daya beli masyarakat akibat Covid-19 sehingga menyebabkan pengeluaran per kapita riil penduduk lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.

Umur Panjang dan Hidup Sehat

Banyaknya tambahan kasus Covid-19 setiap harinya mau tidak mau menimbulkan rasa khawatir. Penambahan kasus Covid-19 tentu menyebabkan semakin penuhnya kapasitas fasilitas kesehatan. Selain itu kejadian kematian akibat Covid-19 pun tidak sedikit. Banyaknya kematian akan mempengaruhi tingkat harapan hidup manusia.

Harapan hidup saat seseorang menderita sakit secara umum berkurang. Usia harapan hidup (UHH) yang digunakan untuk menghitung IPM merupakan rata-rata perkiraan banyak tahun yang dapat ditempuh oleh seseorang selama hidup yang dihasilkan dari lifetable.

Selama periode 2010 hingga 2020, UHH telah meningkat dari 69,81 pada 2010 menjadi 71,47 pada 2020, atau rata-rata tumbuh sebesar 0,24 persen per tahun. Pada 2020, seiring dengan terjadinya pandemi Covid-19, UHH Indonesia mengalami perlambatan dengan hanya tumbuh 0,18 persen.

Pengetahuan

Selama masa pandemi Covid-19, proses belajar dari rumah atau secara daring mulai diterapkan sejak diterbitkannya Surat Edaran Mendikbud No. 4 Tahun 2020 tertanggal 24 Maret 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Darurat Penyebaran Covid-19. Pelaksanaan pembelajaran daring tentu banyak sekali tantangannya, apalagi belum ada kurikulum yang disesuaikan akibat pandemi Covid-19.

Dari sisi sarana dan prasarana, pembelajaran daring mungkin akan berjalan dengan baik untuk wilayah perkotaan yang identik dengan sarana dan prasarana teknologi yang memadai. Tapi tidak untuk wilayah pedesaan; masih banyak wilayah yang belum terjangkau sinyal internet, juga banyak masyarakat yang tidak memiliki ponsel untuk mengakses internet. Tidak mengherankan jika pembelajaran daring susah untuk dilaksanakan di seluruh wilayah Indonesia.

Di samping itu pembelajaran daring juga merupakan hal yang baru dalam dunia pendidikan di Indonesia. Selain susahnya pelaksanaan, yang perlu menjadi perhatian juga terkait hasilnya. Pembelajaran daring yang diterapkan bisa jadi tidak optimal dan berdampak negatif, seperti adanya potensi murid putus sekolah dan terpaksa bekerja, terjadi penurunan kualitas pendidikan, serta angka kekerasan terhadap anak dan pernikahan dini meningkat.

Jika dikaitkan dengan dimensi pengetahuan pada IPM, pandemi Covid-19 ini akan berpengaruh pada HLS penduduk usia 7 tahun dan RLS penduduk usia 25 tahun ke atas. Meskipun HLS dan RLS mampu tumbuh pada 2020, tetapi pertumbuhannya melambat jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. HLS dan RLS mampu tumbuh masing-masing sebesar 0,23 persen dan 1,68 persen.

Standar Hidup Layak

Berbeda dengan UHH dan RLS yang masih mampu tumbuh, standar hidup layak mengalami penurunan indeks. Standar hidup layak direpresentasikan oleh indikator pengeluaran riil per kapita yang disesuaikan (harga konstan 2012). Pengeluaran per kapita riil penduduk Indonesia mencapai nilai Rp 11,01 juta pada 2020, sedikit menurun dibandingkan dengan 2019 (Rp 11,30 juta). Penurunan daya beli masyarakat terutama disebabkan oleh penurunan pendapatan rumah tangga akibat pandemi yang melanda sejak Maret 2020.

Melihat perkembangan pembangunan manusia yang diukur dengan IPM, terlihat bahwa pandemi Covid-19 sangat mempengaruhi capaian pembangunan manusia di Indonesia. UHH dan RLS masih mampu tumbuh di tengah goncangan pandemi Covid-19, walaupun pertumbuhannya melambat. Sementara pengeluaran per kapita penduduk paling terkena dampaknya; angkanya mengalami penurunan. Hal ini juga sejalan dengan angka kemiskinan Indonesia 2020 yang semakin meningkat akibat menurunnya daya beli atau konsumsi masyarakat.

Tantangan pembangunan manusia pada 2021 masih akan sama seperti pada 2020. Merujuk pada kondisi awal 2021, pandemi Covid-19 juga belum menunjukkan ada tanda-tanda penurunan jumlah kasus positif Covid-19. Justru jumlah kasus positif Covid-19 cenderung meningkat. Di awal Januari 2021 beberapa kali tercipta rekor baru jumlah kasus positif Covid-19 dalam satu hari. Seperti yang terjadi pada 7 Januari; jumlah kasus positif Covid-19 mencatatkan rekor baru yaitu tercatat sebesar 9.321 orang. Sehari kemudian tercatat rekor baru lagi yaitu 10.617 orang kasus positif Covid-19, dan pada 13 Januari tercatat 11.278 orang positif Covid-19.

Walaupun vaksinasi Covid-19 sudah dimulai sejak 13 Januari, tetapi butuh waktu lama untuk vaksinasi seluruh warga Indonesia. Pemerintah menargetkan vaksinasi akan selesai dalam waktu 12 bulan. Jika benar itu terjadi, berarti vaksinasi baru akan selesai pada awal 2022. Tentu pandemi Covid-19 ini akan mempengaruhi capaian pembangunan manusia di bidang kesehatan, pendidikan, dan juga standar hidup layak penduduk Indonesia. Patut ditunggu apakah tahun ini capaian pembangunan manusia yang dihitung melalui IPM nanti akan mampu tumbuh positif atau justru mengalami penurunan.

(mmu/mmu)