Kolom

Mengakhiri Salah Paham Wisata Halal

Ahdi Riyono - detikNews
Jumat, 22 Jan 2021 11:15 WIB
Mahasiswa Pecinta Danau Toba menggelar aksi tolak wisata halal.
Kesalahpahaman tentang wisata halal di masyarakat berujung demo penolakan (Foto: Budi Warsito)
Jakarta - Meskipun pandemi COVID-19 telah menghantam dunia pariwisata kita, industri wisata halal merupakan potensi besar. Potensi yang besar itu dapat kita lihat dari dua hal; pertama, pertumbuhan industri halal dunia terus meningkat. Pada 2018 konsumsi halal dunia mencapai USD 2,2 triliun dan diperkirakan akan mencapai USD 3,2 triliun pada 2024. Bahkan pertumbuhannya tidak hanya di negara-negara mayoritas muslim, melainkan juga di beberapa negara non muslim.

Kedua, potensi populasi muslim dunia yang mencapai 2,2 miliar juta jiwa menjadi pasar yang besar dalam industri halal global. Indonesia sendiri memiliki penduduk dengan mayoritas muslim, yaitu 87,2% dari jumlah keseluruhan populasi, atau sekitar 229 juta jiwa. Indonesia sangat berpotensi menjadi pemain bisnis industri halal

Fakta tersebut sangat menguntungkan Indonesia, jika kita dapat memanfaatkan peluang besar itu. Sayangnya, potensi besar tersebut ternyata belum dikelola secara maksimal. Sebagai bukti, industri halal di negeri kita ini masih sangat tertinggal bila dibandingkan dengan beberapa negara lain, seperti Malaysia, Korea Selatan, Thailand, dan Australia.

Malaysia saja sudah memiliki 20 kawasan industri halal untuk mendukung keberhasilan promosi wisata negerinya. Sedangkan Indonesia baru memiliki dua kawasan industri halal dalam negeri, Kawasan Modern Cikande Indrustrial Estate di Serang, Banten dan Safen Lock Halal Industrial Park di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.

Keterlambatan Indonesia dalam pengembangan industri dan wisata halal disebabkan dua faktor. Pertama, infrastruktur seperti jalan, transportasi, serta fasilitas publik yang lain. Faktor ini sebaiknya segera mendapatnya perhatian pemerintah agar daya saing Indonesia dapat meningkat. Kedua, literasi wisata halal masyarakat.

Jika kita cermati munculnya pro dan kontra tentang wisata halal disebabkan kurangnya literasi wisata halal di tengah masyarakat kita. Sebagai contoh, kita dengar ada celetukan penolakan di Bali, Toba, dan NTT. Mereka beralasan bahwa pariwisata sudah lama dikembangkan berbasis budaya lokal. Sehingga tidak perlu label wisata halal.

Dari alasan tersebut jelas menunjukkan adanya kesenjangan informasi yang diperoleh masyarakat tentang wisata halal. Buktinya, wisata halal masih dipahami seolah-olah bentuk islamisasi pariwisata, padahal tidak sama sekali. Konsep wisata halal sebetulnya universal, sehingga dapat diterima oleh semua kalangan agama, masyarakat budaya, dan pemerintah.

Definisi dan Cakupan

Kalau kita membaca beberapa literatur yang membahas wisata halal, kita akan dapat informasi yang cukup jelas. Wisata halal yang juga dikenal dengan istilah halal-friendly tourism atau Islamic tourism adalah segala macam kegiatan, produk, dan pelayanan pariwisata yang sesuai dengan nilai-nilai dan ajaran Islam.

Meskipun demikian, ada pihak yang menganggap bahwa istilah halal tourism dan Islamic tourism memiliki perbedaan pengertian. Hal itu terkait dengan faktor motivasi kunjungan dan tempat destinasi.

Istilah halal tourism itu berkenaan dengan pelayanan ramah muslim di semua destinasi wisata, dan tidak ada hubungannya dengan motivasi keagamaan tertentu. Sedangkan, Islamic tourism (baca: wisata religi) motivasi keagamaan sangat menonjol, destinasi wisatanya pun hanya tempat-tempat tertentu dan terkait dengan ritual atau sejarah perkembangan agama. Tujuannya juga untuk membangkitkan budaya dan menyebarkan nilai-nilai Islam.

Dalam industri hospitalitas, wisata halal harus mencakupi beberapa hal, yaitu makanan dan minuman halal, tempat ibadah yang mencukupi, fasilitas hotel, dan sikap positif pelaku bisnis. Pariwisata halal menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan muslim. Bagi mereka, kebutuhan rekreasi dan bersantai bersama keluarga yang sesuai dengan ajaran agama adalah hal faktor yang sangat penting.

Kurangnya literasi wisata ini tentunya akan berdampak buruk dan dapat merugikan dunia pariwisata kita sendiri. Karena wisatawan muslim terutama dari negara-negara Timur Tengah akan enggan berkunjung ke negara kita jika informasi yang mereka dapatkan tentang Indonesia tidak ramah muslim. Tentu ini akan tambah memukul industri pariwisata dalam negeri kita.

Literasi dan Strategi

Pemerintah perlu menjembatani supaya kesenjangan literasi tidak menjadikan kesalahpahaman ini terus terjadi. Singkatnya, guna mengembangkan wisata halal dan menarik sebanyak-banyak wisatawan dari negara-negara muslim perlu dilakukan usaha peningkatan literasi wisata halal dengan menerapkan beberapa strategi.

Pertama, perlunya penggunaan cara-cara komunikasi persuasif pada masyarakat pelaku pariwisata. Sebagai contoh penyiaran iklan layanan masyarakat dengan tema wisata halal di berbagai media baik offline maupun online dengan menggunakan media sosial yang ada. Pemerintah juga bisa bekerja sama dengan pihak swasta untuk mempromosikan wisata halal. Misalnya dengan perusahaan maskapai penerbangan dan perusahaan transportasi darat dengan menggunakan slogan-slogan yang menggugah kesadaran.

Kedua, dengan melibatkan perguruan tinggi. Pemerintah dapat mengajak perguruan tinggi untuk melakukan pengabdian kepada masyarakat (PKM) tematik; pendampingan dan pemberdayaan masyarakat dalam pengembangan pariwisata halal. Dengan itu, diharapkan literasi masyarakat meningkat. Dan, akhirnya dapat menerima konsep wisata halal yang memang dicanangkan oleh pemerintah.

Ketiga, pemasaran wisata halal dengan menyelenggarakan event-event khusus yang ramah terhadap wisatawan muslim. Juga, memberikan layanan informasi pelayanan halal di brosur, peta, dan buku perjalanan wisata yang sebaiknya ditulis dalam berbagai bahasa yang akrab bagi wisatawan, antara lain bahasa Arab, Inggris, dan Indonesia agar mereka merasa puas dan punya pengalaman indah saat kunjungan.

Sebagaimana hasil penelitian Dwi Suhartanto dkk dengan tajuk Tourism experience in Halal Tourism: What leads to loyalty dalam Jurnal Current Issues in Tourism menyatakan peran masyarakat pada destinasi pariwisata sangat penting. Sikap yang ramah, sambutan yang baik, serta sikap positif terhadap wisatawan muslim adalah kunci sukses dalam bisnis wisata halal. Hal itu ditunjukkan dengan wisatawan akan berniat untuk melakukan kunjungan lagi dan merekomendasikan kepada kolega dan keluarganya untuk mengunjungi destinasi yang sama.

Pengembangan wisata yang ramah terhadap wisatawan muslim (baca: wisata halal) diharapkan dapat mengembalikan kesuksesan pariwisata Indonesia. Untuk itu. pariwisata Indonesia perlu melakukan transformasi dalam hal pelayanan, prasarana, dan regulasi.

Ahdi Riyono Sekretaris Pusat Studi Budaya LPPM Universitas Muria Kudus, Jawa Tengah

(mmu/mmu)