Kolom

Tren Gowes dan Penataan Kota

Kumalawaty Sundari - detikNews
Jumat, 22 Jan 2021 10:41 WIB
Peminat gowes yang meningkat memenuhi jalanan ibu kota (Foto: istimewa)
Jakarta -

Dari hari ke hari pengguna sepeda di Jakarta semakin meningkat; Pandemi yang menebarkan ketakutan dalam penggunaan transportasi umum merupakan salah satu pemicu yang kuat. Jumlah pesepeda di Jakarta meningkat tajam, sekitar 10 kali lipat selama pembatasan sosial berskala besar (PSBB), bukan hanya sekadar untuk berolahraga sambil mandi matahari, melainkan juga untuk menjangkau tempat kerja ataupun beraktivitas sehari-hari.

Sayangnya, tren gowes ini malah menjadikan wajah ibu kota semakin muram yang tampak dari semrawutnya tatanan kota ini dengan berseliwerannya sepeda di mana-mana tanpa disertai kebijakan transportasi yang tepat. Seolah masyarakat dibiarkan saja beria-ria dengan tren baru ini ,dan Jakarta penampakannya semakin jauh dari kota modern yang berkelas.

Semakin Sibuk

Di satu sisi, olahraga yang digalakkan untuk menangkal virus Corona ini juga mengakibatkan bersemangatnya orang-orang turun ke jalan untuk bersepeda sambil menikmati sinar mentari. Namun, di sisi lain kota ini terlihat semakin sibuk dengan jalan-jalan yang dipenuhi oleh sepeda yang tidak hanya berada di jalur sepeda yang terbatas, melainkan tanpa takut sedikit pun mereka menerobos bagian tengah jalan, seolah mereka patut dihormati oleh pengguna jalan lainnya.

Sebuah terobosan positif saat pemerintah membuat jalur khusus sepeda di sepanjang Jalan Sudirman-Thamrin, tetapi animo masyarakat untuk bersepeda yang sangat tinggi tidak lagi dapat terbendung sehingga keterbatasan jalur yang ada memaksa mereka untuk menyatu dengan jalan di mana terdapat banyak kendaraan; tidak peduli risiko kecelakaan yang menghantui mereka.

Perluasan ruas jalur khusus sepeda tetap saja tidak dapat mencukupi kebutuhan masyarakat yang akhir-akhir ini gemar bersepeda. Selain itu, seringkali mereka yang hanya ingin sekadar bersenang-senang saja, mengabaikan aturan berkendara sehingga pengemudi kendaraan di ibu kota yang terkenal tidak sabaran bisa jadi menyenggolnya atau menabraknya jika para pesepeda itu dianggap mengganggu kelancaran lalu lintas.

Jika sesungguhnya tren gowes ini muncul lebih deras sebagai bagian dari cara membangun imunitas tubuh terhadap virus Corona, bukankah lebih baik pemerintah memutar otak bagaimana caranya mengedukasi masyarakat agar merasa nyaman berolahraga di rumah? Entah dengan membuat acara televisi mengenai gerakan-gerakan olahraga di rumah yang asyik dengan instruktur-instruktur olahraga ternama atau menciptakan kanal Youtube khusus tentang berbagai variasi olahraga yang dapat dilakukan di ruang yang terbatas sehingga mereka yang bersepeda di jalan adalah orang-orang yang benar-benar mencintai olahraga ini, bukan sekadar ikut-ikutan hingga mengabaikan keselamatan diri sendiri di jalan atau mengganggu ketertiban berlalu lintas.

Jika bersepeda sudah menjadi kebutuhan, sedangkan jumlah jalan sangatlah terbatas, saya pikir bukanlah masalah lebih sehat karena gemar bersepeda lagi yang hendaknya didengungkan, melainkan bagaimana masyarakat mengerti bahwa penggunaan kendaraan pribadi tidaklah semenarik ketika kita berpergian ke mana-mana dengan menggunakan sepeda.

Namun, edukasi mengenai bersepeda secara aman juga perlu digalakkan, mulai dari bagaimana agar masyarakat tertib menggunakan jalur khusus yang tersedia, tidak seenaknya menggunakan jalan raya apalagi tanpa pelindung khusus, sehingga perlahan-lahan mereka yang sudah merasa nyaman dengan kendaraan pribadinya mulai berpikir untuk beralih ke sepeda jika memang benar angka kecelakaan penggunaan sepeda di jalan raya bisa ditekan semaksimal mungkin sampai titik nol.

Penambahan jalur khusus sepeda tanpa diikuti dengan mengerti bagaimana mobilitas masyarakat selama ini malah akan menambah beban jalan sehingga kemacetan tak dapat dihindari dan sepeda bisa menjadi identik dengan moda transportasi yang rawan kecelakaan.

Terpinggirkan

Kejahatan yang tinggi di ibu kota juga ternyata tak luput menyerang pesepeda, terutama yang sendirian dan berada di tempat sepi di luar jam sibuk. Begal sepeda merupakan ancaman bagi pesepeda yang memang gemar berolahraga dan serius untuk menjadikannya sebagai kendaraan pribadi yang mengantarnya ke mana pun.

Sayang sekali jika animo masyarakat yang sudah sedemikian besar harus runtuh sepenuhnya karena ketiadaan jaminan di kota ini akan rasa aman dalam bersepeda, apalagi kalau masyarakat sudah mengerti pentingnya beralih ke sepeda, bukan sekadar sebagai pencegahan terhadap virus Corona.

Penataan kota yang semakin terlihat "asal" menjadikan pesepeda bagaikan terpinggirkan begitu saja, padahal tidak sedikit yang mempunyai tujuan baik dan dapat memperoleh manfaat semaksimal mungkin dari kegemarannya itu, lebih dari sekadar mengikuti tren yang hanya memenuhi jalanan ibu kota tanpa disertai dengan disiplin dalam berkendara sehingga ujung-ujungnya merugikan diri sendiri dan orang lain.

Saya berharap pemerintah memelihara antusias masyarakat yang tidak lagi berpikir bahwa kendaraan pribadi adalah segalanya dalam menjalankan mobilitas mereka dengan membuat peraturan-peraturan yang melindungi hak pesepeda di jalan, sehingga orang banyak tidak lagi menganggap mereka sebagai penganggu karena irama kota besar ini yang sangat cepat.

Tren gowes yang naik akibat kecemasan masyarakat terhadap virus Corona memang dapat menaikkan jumlah pesepeda dalam waktu singkat, tetapi perlu dipikirkan juga, kecintaan terhadap olahraga itu sendiri tentu jauh melebihi semangat di tengah pandemi yang suatu saat akan berakhir yang berarti masa depan sepeda sebagai moda transportasi ideal juga diragukan.

(mmu/mmu)