Kolom

Joe Biden, Nasionalisme, dan Supremasi Global Amerika

Jannus TH Siahaan - detikNews
Kamis, 21 Jan 2021 16:33 WIB
Pengamat Pertahanan dan Geopolitik, Dr Jannus TH Siahaan (Foto: dok. Istimewa)
Foto: Pengamat Pertahanan dan Geopolitik, Dr Jannus TH Siahaan (Foto: dok. Istimewa)
Jakarta -

Jika mengikuti kategori umum yang berkembang di Gedung Putih antara globalis dan nasionalis, maka kaki kanan dan sepertiga kaki kiri Joe Biden ada di dalam kategori globalis dan dua pertiga sisa kaki kirinya bisa dikategorikan nasionalis. Ya, begitulah Joe Biden. Satu kategori tak cukup baginya.

Posisi tersebut setali tiga uang dengan posisi ideologi politiknya yang "centerist" di dalam Partai Demokrat. Biden berada pada posisi tengah, antara sayap kiri yang dikomandani Bernie Sanders dan sayap liberal pengikut Bill Clinton (Clintonian Liberal Wing). Dengan kata lain, Biden hanya sedikit lebih ke tengah dibanding Barack Obama, Presiden Amerika Serikat sebelum Donald Trump. Karena itu, tidak salah juga jika ada yang mengatakan bahwa pemerintahan Joe Biden kini akan menjadi pemerintahan Obama tanpa Barack Obama

Sepertiga kaki kiri yang diletakkan di posisi nasionalis, boleh jadi adalah jawaban Joe Biden atas menguatnya sayap konservatif radikal, yang terbukti 70 juta lebih masih bergairah mencoblos Donald Trump pada pemilihan Presiden November tahun lalu.

Di mata Joe Biden, khusus terkait dengan kebangkitan China yang lalai disikapi dengan tepat oleh Obama, Donald Trump ada benarnya.

Terbukti sebagaimana pandangan Trump bahwa melemahnya daya saing investasi Amerika di hadapan China, membuat miliaran Dollar justru terbang ke negeri Tirai Bambu. Perusahaan-perusahaan besar meninggalkan Amerika menuju China atas nama upah murah. Walhasil, terjadi penurunan penyerapan tenaga kerja di Amerika Serikat di satu sisi dan meningkatkan impor dari China di sisi lain, karena sebagian impor tersebut dilakukan oleh perusahaan Amerika yang memindahkan investasinya ke China.

Untuk menjawab realitas itu, Biden harus tetap menggelorakan semangat nasionalisme ekonomi dengan menyiapkan paket investasi dalam negeri yang sangat besar, terutama untuk mengembalikan posisi Amerika Serikat di dalam rantai pasok domestik dan global, menyempurnakan Affordable Care Act (Obamacare) atau hukum pelayanan kesehatan federal, mengutamakan pengadaan barang produksi dalam negeri di lembaga-lembaga pemerintahan, menggenjot investasi teknologi 5G dalam negeri, meningkatkan anggaran pemerintah federal dalam proyek-proyek ekonomi hijau, dan seterusnya.

Dalam bahasa Joe Biden, menguatkan ekonomi dalam negeri adalah modal utama untuk tetap bertahan menjadi pemain besar di kancah internasional.

Para analis menyandingkan visi besar Biden ini dengan apa yang telah dilakukan oleh Franklin Delano Roosevelt (FDR) pasca Great Depression dan selama perang dunia kedua. Bahkan dari sisi nominal anggaran yang direncanakan Biden untuk diajukan kepada kongres, visi Joe Biden digadang-gadang melampaui (go beyond) FDR.

Sementara dari sisi politik luar negeri, tak ada keraguan bahwa Biden adalah seorang globalis sejati yang akan mengutamakan institusi-institusi koalisi Amerika untuk mengembalikan superioritas negeri Paman Sam di kancah global. Bendera NATO dipastikan akan kembali berkibar di Eropa dan siap berhadapan dengan agresivitas Vladimir Putin. Aliansi Quadrilateral Asia akan semakin dikokohkan antara Amerika, Australia, Jepang, dan India, untuk membendung China. Lalu, Amerika akan kembali mencari celah-celah strategis menjadi pemain utama dalam institusi mondial semacam PBB, WTO, WHO, JPCOA Iran, dan Paris Accord

Dengan begitu, Biden akan bermain di dua kaki, antara kepentingan politik dan pertahanan Amerika Serikat dengan kepentingan korporasi-korporasi transnasional berbendera Amerika dan aliansinya. Faktor inilah yang membuat Biden menunjuk Tony Blinken di posisi Sekretaris Negara (Secretary of State). Ini boleh jadi menjadi berita yang menyebalkan tentunya bagi Bernie Sanders dan Elizabeth Warren.

Praktis, Tony, yang akan kental berada di bawah nasehat-nasehat Michèle Flournoy, akan menjadi pembatas yang tegas bagi Joe Biden, agar tidak terlalu "tilting" ke kiri. Blinken adalah penasehat Joe Biden selama di komite "foreign policy" Senat, lalu menjadi National Security Advisor untuk Joe Biden saat menjabat wakil presiden di kepemimpinan Obama dari 2011 sampai 2013, dan menjadi Deputy Secretary of State dari tahun 2015-2017.

Kemudian setelah Trump masuk Gedung Putih, Blinken mendirikan kantor lobby, WestExec, di mana kliennya kebanyakan adalah Big Tech Company, termasuk Google, dan beberapa startup surveillance technology dari Israel. Beberapa case-nya di firm tersebut pernah diungkap media. Jadi, Tony Blinken adalah simbol nyata dari seorang Biden yang globalis dan penyambung lidah konglomerasi, yang akan menahan Joe Biden tetap berdiri sebagai "seorang centerist." Dengan demikian, penunjukan Blinken adalah bahasa simbol Joe Biden kepada Bernie Sanders, AOC, dan Elizabeth Warren, yang sangat kontra pada Big Company.

Apakah Biden akan menorehkan kesuksesan seperti Franklin D. Roosevelt, yang lebih banyak menghabiskan waktu di atas kursi roda atau justru sebaliknya? Mari kita tunggu. Yang jelas, antara Joe Biden dan FDR, sama-sama dianugerahi kekurangan yang terus mereka lawan sepanjang hidup dan karir mereka. FDR Presiden ke-32 Amerika Serikat terjangkit sindrom polio sejak umur sangat muda, sementara Biden sudah sejak dari kecil berhadapan dengan trauma bully karena sindrom susah bicara (gagap) yang dideritanya. Dan kini di tahun yang sangat berat di tengah terpaan pandemi global dan resesi dunia, Amerika Serikat kembali dipimpin oleh orang yang dikaruniai kekurangan seperti halnya Presiden FDR yaitu Joseph Robinette Biden Jr atau populer dengan panggilan Joe Biden, sebagai Presiden ke-46 Amerika Serikat.

Dr Jannus TH Siahaan, Pengamat Pertahanan dan Geopolitik

(mae/mae)