Sentilan Iqbal Aji Daryono

Ketika Bu Guru Sibuk Memviralkan Muridnya

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Selasa, 19 Jan 2021 16:19 WIB
Kolomnis - Iqbal Aji Daryono (Ilustrator: Edi Wahyono/detikcom)
Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Edi Wahyono)
Jakarta -

Seorang anak laki-laki usia kelas 1 atau 2 SD, berseragam Pramuka, tampak kebingungan sambil setengah menangis. Dia diminta gurunya menghitung 5 x 3. Anak itu bingung. Sekali waktu dia menjawab "Sebelas!", kali lain menjawab "Ti...ga..." dengan ragu-ragu.

"Ini di tangan kananmu ada lima, di tangan kirimu ada lima, di jidatmu ada lima lagi. Ayo, dihitung lima kali tiga itu lima, ditambah lima, ditambah lima," begitu kata Mbak Guru sambil terkekeh-kekeh geli.

Si anak bingung lagi, lalu menangis lagi. Di belakangnya, puluhan meja-kursi di kelas tampak kosong, kemungkinan semua temannya sudah pada pulang. Anak yang bingung menghitung itu pun sudah menggendong tas punggungnya, tapi ditahan oleh Mbak Guru karena belum selesai menuntaskan tugas menghitung 5 x 3.

Si anak sepertinya sudah putus asa, dan mau keluar kelas menyusul teman-temannya. Tapi Mbak Guru lagi-lagi menahannya, sambil melakukan satu hal yang agaknya paling penting dalam tugas pedagogisnya: memegang HP sambil mengarahkan kamera ke wajah muridnya yang berleleran air mata. Tentu, sambil sesekali tertawa.

Video itu saya temukan sedang ramai di Twitter. Di bawah unggahan video itu ada banyak komentar. "Lima satunya ilang ke manaaaa?"; "Pulang dulu to Leeee!"; "Itu yang di jidatmu gak kelihatan po lima-nya hahaha!"; "Ruweeet, ruwettt!"

Saya tercenung. Kemudian muncul pertanyaan kecil yang sangat teknis di kepala saya, yaitu kenapa Mbak Guru itu tidak meletakkan saja HP di tangannya, lalu mengambil kerikil atau lidi atau apa, jumlahnya 15 biji, lalu membaginya jadi 5 dan 5 dan 5 lagi, kemudian meminta muridnya itu menghitung satu per satu kerikil-kerikil itu?

Dalam bayangan saya yang tidak pernah jadi guru ini, dan yang sangat bloon dalam matematika ini, langkah semacam itu cukup mudah dipahami. Lima dikali tiga adalah lima biji kerikil yang digenggam jadi satu, jumlahnya ada tiga genggam. Seperti itu, bukan?

Belum lama berselang, saya pun terpaksa menjadi guru matematika untuk anak saya yang kelas 5. Anak perempuan saya itu tak kunjung paham dengan FPB dan KPK (kelipatan persekutuan terkecil, bukan Komisi Pemberantasan Korupsi). Saya sendiri sudah lupa, atau memang dulu tak pernah paham dengan materi pelajaran yang satu itu. Tapi kemudian saya mencarinya di Youtube, dan ketemulah penjelasannya.

Akhirnya, saya menderetkan kelipatan-kelipatan dari tiga bilangan, berjajar-jajar panjang sekali. Sampai kemudian ketemulah satu bilangan yang sama untuk ketiganya, dan menjadi bilangan kelipatan "persekutuan". Anak saya paham, saya sendiri pun jadi lebih paham, dan kami berdua bahagia selamanya.

Maka, saya agak heran, kenapa Mbak Guru lebih suka memegang kamera HP alih-alih mengambil kerikil-kerikil? Bukankah bagi si murid menghitung kerikil akan lebih mudah dimengerti daripada membayangkan lima titik di jidatnya sendiri?

Saya tidak punya informasi kapan video itu diambil. Bisa baru saja, atau sudah produk lama. Tapi mari bayangkan suasana kita pada hari-hari ini. Kita sudah cukup lama, hampir setahun penuh, terjebak dalam situasi yang menyebalkan. Segenap tugas kehidupan yang sewajarnya dijalankan secara maksimal terpaksa dilakukan dalam mekanisme kompromis berupa sistem daring.

Saya tahu, ada banyak hal yang dapat diadaptasikan. Toh, tak sedikit wilayah aktivitas yang justru lebih efektif jika dijalankan secara jarak jauh. Misalnya aneka jenis pertemuan dan diskusi, pekerjaan-pekerjaan berbasis online, dan sebagainya. Tetapi, ternyata beberapa hal tetap menanti sentuhan suasana perjumpaan antarmanusia, dalam interaksi-interaksi yang lebih "bernyawa". Dunia pendidikan salah satunya.

Beberapa kawan saya yang berprofesi guru pun mengkhawatirkan soal-soal begitu. Betul bahwa materi-materi pelajaran yang bersifat kognitif bisa ditransfer dari guru kepada murid, sebisa-bisanya. Namun, bagaimana dengan pendidikan karakter? Karakter adalah wilayah yang so human. Ia bisa diajarkan secara maksimal hanya jika ada interaksi dan komunikasi yang juga maksimal, dan interaksi serta komunikasi yang maksimal rasa-rasanya cuma akan tercapai melalui perjumpaan.

Karena itulah, para orangtua murid dan para guru sendiri menyimpan kerinduan akan kembalinya sekolah tatap muka, di tengah situasi pandemi yang masih saja tak jelas juntrungannya. Dan, dalam suasana galau begini, bisa-bisanya malah tersebar video seorang guru yang lebih suka memviralkan kekurangan muridnya, daripada berjuang keras membuat muridnya mengerti sesuatu yang tak kunjung dipahaminya.

Tenang, Saudara! Saya tahu pasti, Mbak Guru yang saya ceritakan di atas itu sama sekali bukan representasi para guru di Indonesia. Ia cuma kasus, atau oknum kalau istilah Orba-nya. Dan saya yakin dia pun bukan sejenis guru yang jahat atau sejenis itu. Ia cuma kurang sensitivitas, dan bisa jadi merupakan salah satu tipe saja dari "korban suasana".

Namun, dari situ kita bisa melihat bahwa apa yang saya sebut "suasana" itu telah sangat menguasai kita. Selama bulan-bulan pahit yang kita lalui belakangan ini, ke-daring-an telah begitu menyatu dengan alam bawah sadar kita. Apa yang semula kita rencanakan sebatas sebagai sarana, malah kemudian terlalu menubuh bersama diri kita.

Maka, seorang kawan lain bercerita bagaimana sarana belajar daring membuat banyak muridnya dilaporkan terjebak candu game online, bahkan terseret video-video porno yang (ternyata) sangat mudah ditonton di akun-akun Twitter. Kendali yang tak mudah atas akses informasi (karena HP dan internet sudah dipegang sehari-hari) membuat banyak anak ibarat ular-ular kobra yang berhamburan lepas dari sarangnya.

Dan, hari-hari minim kontrol di tengah situasi serba daring ini telah dengan sangat drastis menggeser alam pikiran siapa saja. Mulai murid, gurunya, dan kita semua.

Maka, tak usah heran-heran amat melihat para pejabat publik lebih sibuk mengurusi konten akun medsosnya, mengisinya dengan aksi-aksi viralable, ketimbang menjalankan kewajibannya dalam pengelolaan kepentingan publik yang menjadi tanggung jawabnya. Sebelum pandemi, dunia daring memang telah menguasai kita, tapi pasar konstituen daring selama pandemi semakin menggiurkan saja.

Bedanya, para pejabat dan tokoh publik mana pun memang membutuhkan amplifikasi atas secuil sisi diri mereka. Ada sisi gelap, ada sisi terang, sebagaimana layaknya manusia biasa. Nah, yang mereka viralkan tentu saja sisi-sisi terangnya, atau sisi gelap yang dibikin seolah-olah terang. Hasilnya adalah persepsi dominan di mata publik luas: si tokoh akan lebih dikenal karakter terangnya, sedangkan sudut gelapnya berhasil disembunyikan entah di mana.

Tapi bagaimana dengan seorang anak yang diviralkan? Sisi apanya yang diviralkan?

Beruntung sekali jika ada anak ajaib yang menjadi objek amplifikasi saat dia sedang berada dalam performa terhebatnya. Tapi bagi anak-anak dari jenis yang bingung dengan perkalian 5 x 3, dia akan lebih dikenal sebagai anak bego, dengan intelegensi kurang, dan sulit diharapkan. Lalu video itu tersebar luas, merayap cepat di lini masa, menerobos sekat-sekat grup Whatsapp dan Telegram, lalu ditonton oleh kedua orangtuanya, teman-temannya, tetangga-tetangganya. Kemudian hancurlah kepercayaan dirinya, dan potensi dia yang sesungguhnya akan nyungsep nun di bawah sana.

Ah, mungkin saya cuma lebay dan sok-heroik. Tapi kalau naluri untuk bikin konten viral memang jadi godaan bagi siapa saja, rasanya lebih pas kalau jangan sekali-kali mengambil kelemahan anak-anak sebagai materinya. Itu pamali terbesar.

Kalau masih saja keinginan untuk viral itu sulit ditahan, mending main Tiktok saja. Goyang-goyang dikit, viral. Goyang-goyang dikit, viral.

Iqbal Aji Daryono bapak dua anak, tinggal di Bantul

(mmu/mmu)