Kolom

Jack Ma dan Pertarungan Politik China

Fadjar Pratikto - detikNews
Jumat, 15 Jan 2021 15:10 WIB
Jack Ma menghilang dari pandangan publik. Sebelumnya pemilik Alibaba dan Ant Group itu mengkritik regulator China pada konferensi di Shanghai pada Oktober 2020.
Jack Ma (Foto: AP Photo)
Jakarta -

Para kapitalis akan menjual tali kepada kita; dengan tali itu kita akan menggantung mereka ~ Vladimir Lenin

Tekanan penguasa China Xi Jinping terhadap platform e-commerce Alibaba, Ant Group Co, dan sang miliarder Jack Ma telah menandai babak baru pertarungan elite politik China. Dimulai dengan penangguhan pencatatan saham perdana (IPO) di pasar modal Hong Kong dan Shanghai senilai 37 miliar dolar AS, dan kini otoritas China menginvestigasi antitrus pada perusahaan teknologi finansial itu.

Mereka dituduh menekan pesaing dengan monopoli dan merugikan konsumen. Semua produk deposit di platform Ant pun terancam dihapus, dan dianggap ilegal. Ini pukulan telak terhadap bisnis Jack Ma yang memiliki aset sebesar 37,3 miliar dolar AS.

Penundaan IPO Ant Group itu membuat kekayaan para taipan yang berada di baliknya ambyar, termasuk Jack Ma. Harta bersih Jack Ma dikabarkan anjlok hampir 3 miliar dolar AS. Saham Alibaba terjun bebas. Upaya berdamai dengan menawarkan ekuitas pun ditampik Xi. Kini Jack Ma menghadapi kemungkinan terburuk, dipenjara seperti Wu Xiaohui, pendiri Anbang Insurance Group, atau mati mengenaskan (digantung).

Geliat Aristokrat Merah

Ada yang menganggap kritikan Jack Ma soal sistem keuangan China yang kurang inovatif atau perkataannya yang "kasar" terhadap Xi Jinping sebagai alasan IPO Ant Group ditunda. Tapi bukan itu alasan yang utama. Xi tampaknya khawatir atas perkembangan bisnis Alibaba dan Ant Group yang semakin besar, berpotensi jadi ancaman bagi kekuasaannya. Lebih ditakutkan lagi, ada "aristokrat merah" faksi Jiang Zemin di belakang emperium bisnis Jack Ma.

"Aristokrat merah" istilah yang ditujukan pada para "pangeran" dan "putri" elite Partai Komunis China (PKC) yang berkuasa atau pernah jadi pejabat negara. Mereka terbiasa menikmati privilese, berpendidikan tinggi di universitas terkenal khususnya di Amerika dan mendapat kesempatan bekerja di multinational corporation, dan berbisnis dengan para miliarder globalis di Wall Street, New York. Sebagian memiliki United States Permanent Residence (Green Card).

Ada ratusan "pangeran" dan "putri" elite PKC sejak1990-an yang menikmati pengaruh orangtuanya di luar negeri. Mereka sengaja dipersiapkan untuk mengumpulkan kecerdasan dan memberi pengaruh di jantung ekonomi Amerika. Dengan mudah mereka memanfaatkan koneksi politik untuk menghasilkan banyak uang. Di dalam negeri, selama bertahun-tahun mereka menguasai CITIC, perusahaan investasi raksasa milik negara. Sektor ekuitas swasta yang berkembang di China juga dikendalikan mereka.

Saat ini para "aristokrat merah" berkumpul di bawah Jiang Mianheng (65). Mianheng putra pertama Jiang Zemin, mantan Presiden China yang dikenal sangat korup dan kejam dalam menganiaya pengikut Falun Gong dan muslim Uighur. Mianheng merupakan pendiri Grace Semiconductor dan pengendali di balik layar sejumlah perusahaan telekomunikasi, seperti China NetCom.

Anaknya, Jiang Zhicheng lebih suka berbisnis di bursa saham. Lewat Zhicheng ini pula menurut pengusaha China di pengasingan, Guo Wengui, harta gelap kakeknya (Jiang Zemin) sebesar 1 triliun dolar AS dicuci separuhnya di luar negeri. Pada 2010, Zhicheng mendirikan firma ekuitas pribadinya, Boyu Capital. Pada 2012, Boyu bersama CITIC dan CBD Capital membantu Alibaba membeli kembali semua saham yang dimiliki Yahoo. Saat itu Boyu menginvestasikan 400 juta dolar AS di Alibaba.

Saat Alibaba go public di New York pada 2014, Zhicheng mendapat keuntungan lebih dari 2 miliar dolar AS. Ia juga merebut keuntungan opsi saham yang tidak dipublikasikan dari Alibaba. Selain itu, Zhicheng juga mengambil alih Alipay setelah dipisahkan dari Alibaba. Ia penetrasi lebih dalam dengan memiliki saham Ant Grup. Saham SoftBank sebesar 32,4% di Alibaba yang kini mau dilepas pun sudah diincar mereka.

Jadi Alibaba dan Ant Group Co sebetulnya adalah "jubah putih" dari "aristokrat merah" faksi Jiang yang tak puas dengan kepemimpinan Xi dan mengincar kekuasaannya. Mereka ingin membalas perlakuan Xi yang selalu menyudutkan mereka dengan isu pemberantasan korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan. Sasarannya orang kepercayaan Jiang seperti Bo Xilai dan Zhou Yongkang, mantan anggota Komite Tetap Politbiro PKC yang selama ini tak tersentuh hukum.

Bisa Terjungkal

Clive Hamilton dan Mareike Ohlberg dalam bukunya Hidden Hand: Exposing How The Chinese Communist Party Is Reshaping The World (2020) menilai pengaruh PKC melalui "aristokrat merah" di Wall Street sangat diperhitungkan. Penempatan mereka dan janji akses ke pasar keuangan China yang luas telah menjadi jalan pengaruh utama. Para elite finansial di sana bersuka-cita memanfaatkan kesempatan itu untuk mendobrak hambatan sistim keuangan dan penetrasi pasar ke China.

Setelah sekian lama menjalankan bisnis, faksi Jiang pada dasarnya telah mengendalikan semua saluran Wall Street untuk berbisnis dengan China. Jika ada investor asing yang ingin berbisnis di China, maka harus melewati pintu mereka. Kedekatannya dengan para globalis inilah yang ditakuti oleh Xi Jinping. Keputusannya menunda IPO Ant Group yang didukung globalis berhasil menekan kekuatan ekonomi-politik besar di balik bisnis Jack Ma.

Meski Xi Jinping telah berkuasa sejak 2012; kekuatannya tidak sehebat yang dibayangkan. Ia dan penguasa sebelumnya Hu Jintao gagal membasmi tuntas faksi Jiang di tubuh PKC. Dalam beberapa tahun terakhir, karena hubungan China dengan AS yang memburuk dan pandemi global virus yang tak terkendali, konflik antarfaksi di Zhongnanhai menjadi lebih keras. Jika Xi tidak hati-hati, dia bisa terjungkal.

Bagi globalis, Xi Jinping tak bisa dikendalikan sepenuhnya. Sudah lama mereka tak suka dengan gaya kepemimpinan Xi yang dianggap tak bersahabat. Mereka lebih suka berkolusi dengan faksi Jiang yang memang memiliki jaringan luas di luar negeri, khususnya Amerika Serikat. Putra Joe Biden, Hunter juga berhubungan bisnis dengan "aristokrat merah" hingga sempat muncul isu suap dalam pemilu AS. Kalaupun Biden jadi presiden AS, posisi Xi Jinping sebenarnya akan lebih terancam. Para globalis pasti akan memperkuat tekanannya untuk mempercepat suksesi di China, mengakhiri kekuasaan seumur hidup Xi Jinping.

Fadjar Pratikto pemerhati Tiongkok

(mmu/mmu)