Obituarium

Jalan Sunyi Syekh Ali Jaber

Muhammad Yusuf El-Badri - detikNews
Jumat, 15 Jan 2021 14:30 WIB
Syekh Ali Jaber meninggal dunia pagi tadi karena sakit Kamis, (14/1). Syekh Ali Jaber  adalah ulama besar dan penghapal Al-Quran yang lahir di Madinah.
Syeikh Ali Jaber (Foto: pool)
Jakarta -

Pagi hari, Kamis (14/1) Syekh Ali Jaber dikabarkan berpulang ke haribaan Allah Sang Pemilik Alam. Pemilik nama lengkap Ali Saleh Muhammad Ali Jaber itu berpulang dalam usia 44 tahun, usia yang yang masih sangat muda untuk ukuran seorang ulama berpengaruh di Tanah Air.

Kepulangan Syekh Ali Jaber adalah kesedihan mendalam bagi umat Islam dan warga negara Republik Indonesia. Ia bisa dibilang sebagai ulama yang punya pendirian dalam hal berdakwah. Dakwahnya ditujukan untuk semua orang. Sebab yang menjadi fokus dakwahnya adalah ilmu dasar Islam; seputar bacaan dan hafiz Alquran, dan akhlak keseharian seorang muslim.

Ketika para penyeru Islam terbelah karena politik kekuasaan, terlibat sebagai juru kampanye dan berakhir pada saling membela dan mengejek elit politik, Syekh Ali Jaber memilih jalan sunyi. Ia menghargai pilihan setiap orang tentang politik. Ia bahkan tidak mau ditarik-tarik oleh dan untuk kepentingan praktis kekuasaan.

Sikap inilah yang menyebabkan Syekh Ali Jaber dicintai oleh setiap muslim Indonesia. Ia dikagumi tidak hanya oleh pendukung Jokowi, tapi juga pendukung Prabowo. Ia dicintai tidak hanya oleh pembela Anies Baswedan, tapi juga pembela Ahok. Syekh Ali Jaber dihormati tidak hanya oleh pendukung kekuasaan, tetapi juga oleh oposisi kekuasaan.

Sikap politik yang non-partisan itulah yang menyebabkan Syekh Ali Jaber dicintai semua kelompok tanpa tendensi politik dan kepentingan. Semua orang menjadi merasa kehilangan Syekh Ali Jaber ketika ia berpulang ke haribaan Tuhan.

Keteladanan

Syekh Ali Jaber sebagai pendakwah tidak sekadar untuk didengar petuahnya, dicintai karena keramahannya, tetapi ia juga sebagai ulama layak untuk diteladani sikapnya. Peristiwa paling berkesan bagi umat Islam dan bahkan warga Indonesia secara umum adalah ketika Syekh Ali Jaber memaafkan pelaku penusukan dirinya di acara pengajiannya di Lampung, 13 September 2020 lalu. Ia tidak berpikir panjang tentang siapa pelaku penusukan itu, kenapa ia ditusuk, dan apa motifnya.

Syekh Ali Jaber menerima penusukan itu sebagai takdir Tuhan semata tanpa perlu berpikir spekulatif. Padahal pada saat yang bersamaan puluhan provokasi di media sosial muncul untuk melakukan pembalasan dengan beragam tendensi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Di kemudian hari dalam sesi wawancara dengan Deddy Corbuzier terungkap bahwa Syekh Ali Jaber tidak hanya sekadar memaafkan pelaku, tetapi beberapa saat setelah penusukan terjadi, ia juga mencegah agar pelaku tidak dihakimi, dizalimi, dan bahkan diperlakukan seperti binatang.

Menurut Syekh Ali Jaber, kalau pelaku penusukan itu bersalah, biarlah itu menjadi wewenang kepolisian. Warga negara tidak berhak menghakimi warga negara lainnya dengan alasan apapun, walau pada penjahat sekalipun. Sebuah keteladanan paripurna dalam beragama.

Keteladanan ini agaknya sulit ditemukan di Indonesia akhir-akhir ini. Sebagian besar warga negara Indonesia telah telanjur punya tendensi politik kekuasaan yang berlebihan. Tak terkecuali umat Islam. Setiap tindakan didasarkan pada pembalasan dendam politik, sehingga kehidupan beragama kian kacau.

Terkadang publik kesulitan untuk memilah, mana sikap yang didasarkan pada ajaran Islam dan mana yang didasarkan pada premanisme. Lebih jauh karena tiadanya keteladanan umat tidak dapat membedakan mana ulama mana provokator, mana pendakwah, dan mana selebriti.

Kini ulama sang teladan itu telah meninggalkan umat Islam dan warga negara Indonesia. Tinggal wajah Islam yang disemainya sejak lama yang dapat kita lihat hingga hari-hari berikutnya.

Mengambil Jarak

Di antara banyak pendakwah, nama Syekh Ali Jaber salah satu yang amat sangat jarang dibincang karena pendapat yang disampaikannya. Dari video kajiannya yang beredar di media sosial dan televisi, Syekh Ali Jaber terlihat sangat memahami ragam perbedaan pendapat dalam Islam dan tradisi muslim Indonesia. Sehingga dalam dakwahnya ia mengambil jarak dan bersikap netral ketika membicarakan tema yang dapat memicu polemik dalam masyarakat.

Hal itu berbeda dengan beberapa pendakwah yang cenderung melontarkan tuduhan bidah, sesat, dan bahkan kafir pada sesama muslim hanya karena perbedaan pemahaman terhadap suatu tradisi. Sehingga keberadaannya menjadi kontroversial dan ancaman kerukukan umat beragama.

Syekh Ali Jaber meski berlatar belakang pendidikan Saudi Arabia, tepatnya Madinah, tetapi ia mampu hadir dengan wajah Islam yang moderat. Sebuah wajah Islam yang diterima oleh semua kalangan dan tidak tendensius melihat suatu tradisi masyarakat.

Walaupun mungkin ia menilai ada sesuatu yang keliru, tetapi masyarakat didekatinya dengan cara yang bijak tanpa menghakimi masyarakat dan tradisinya. Wajah Islam seperti inilah sesungguhnya yang diharapkan tumbuh subur di Indonesia demi masa depan Islam.

Muhammad Yusuf el-Badri mahasiswa Program Doktor Islamic Studies Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta

(mmu/mmu)