Kolom

Syekh Ali Jaber, Sriwijaya Air, dan "Sobat Ambyar": Tiga Renungan

Xavier Quentin Pranata - detikNews
Jumat, 15 Jan 2021 13:25 WIB
Makam Syekh Ali Jaber
Foto: Hanif/detikcom
Jakarta -

Tahun 2021 ini dibuka dengan berbagai macam duka. Jatuhnya pesawat Sriwijaya Air dan meninggalnya Syek Ali Jaber, seorang yang dikenal sejuk dalam membawakan materi dakwahnya, membuat orang berduka. Pada malam hari setelah meninggalnya dai yang populer di berbagai stasiun televisi nasional ini pada jam 8:30 pagi saya menyaksikan pemutaran perdana film Sobat Ambyar yang didedikasikan untuk Didi Kempot yang berpulang pada 5 Juni 2020 lalu.

Sendirian, malam itu saya menyaksikan film yang disutradarai oleh Charles Gozali dan Bagus Bramanti ini. Meskipun saya bukan tipe orang yang gampang baper toh hati saya terhanyut juga oleh film yang judul internasionalnya Heartbreak Club tersebut. Harap maklum, film ini memang terinspirasi oleh Didi Kempot, sang maestro lagu Jawa yang legend dengan julukan Godfather of Broken Heart. Mungkin saya terbawa suasana Indonesia yang sedang berduka sehingga kesedihan Jatmiko (diperankan dengan penuh penghayatan oleh Dede Satria) yang dibuat patah hati oleh Saras (dimainkan dengan apik oleh Denira Wiraguna) membuat saya yang tidak baperan menjadi baper.

Dari jatuhnya pesawat Sriwijaya Air, wafatnya Syekh Ali Jaber, dan pemutaran perdana film Sobat Ambyar, kita bisa memetik tiga pelajaran kehidupan yang sungguh layak kita renungkan dan jalani. Pertama, dengan kemajuan teknologi di bidang kedokteran, kita bisa merancang kapan anak kita dilahirkan, tetapi kita tidak akan pernah tahu kapan kita dipanggil pulang.

Pada 2020 lalu ada beberapa sahabat saya yang melahirkan anak-anak yang sungguh mereka tunggu. Namun, pada tahun yang sama beberapa sahabat lain dipanggil Tuhan baik karena virus Corona maupun penyebab alami. Jadi, jika kita bisa melewati tahun lalu dengan baik, kita masih diberi kesempatan oleh Sang Khalik untuk hidup lebih baik lagi pada tahun ini.

Saya senang dengan ungkapan yang mengatakan, "Hari ini harus lebih baik dari kemarin dan hari esok harus lebih baik dari hari ini." Frasa "lebih baik" ini bukan hanya standar kehidupan yang naik level, tetapi kualitas hidup jasmani-rohani yang lebih baik.

Salah satu contoh yang bisa kita jadikan refleksi diri adalah Pilpres 2019 dan Pilkada 2020. Kita prihatin bahwa setelah sekian lama, masih banyak orang yang tidak bisa move on atas kekalahan jagoannya. Perilaku para pendukung Donald Trump yang menerobos Gedung Capitol karena terpicu oleh twit-twit presiden yang kontroversial ini menunjukkan betapa buruknya orang yang sudah dikuasai emosi.

Salah satu kalimat bijak Syekh Ali Jaber adalah bahwa kita boleh saja berbeda pandangan, tetapi jangan menjadikannya permusuhan. Istilah "cebong" dan "kampret" yang masih sering kita dengar menunjukkan keengganan kita untuk melupakan apa yang telah di belakang kita dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapan kita.

Kedua, jangan sampai kita terbelenggu oleh masa lalu yang membelenggu kaki kita kita menuju masa depan, melainkan menjadikan masa lalu sebagai pelajaran untuk tidak mengulang kesalahan yang sama dan melangkah dengan lebih mantap. Banyak spekulasi yang kita baca di media massa, baik cetak maupun elektronik, yang menduga-duga penyebab jatuhnya pesawat nahas itu, baik dari kalangan awam maupun pengamat penerbangan. Usaha untuk mencari penyebab jatuhnya pesawat memang penting untuk mengetahui apakah itu karena cuaca, human error, atau kegagalan mesin.

Sambil menunggu hasil analisis black box yang sudah ditemukan, jangan berprasangka buruk lebih dulu seperti pesawat sudah uzur (lebih dari 26 tahun), kurangnya perawatan karena lama tidak terbang sampai pilot yang mungkin saja melakukan kesalahan. Siapa tahu faktor dari luar, cuaca buruk misalnya, yang membuat pesawat itu jatuh. Sebagus-bagusnya produk dan seterampil apa pun pilot yang mengemudikan pesawat, jika cuaca begitu buruk, bisa saja pesawat jatuh. Bisa juga karena sebab lain yang kita tidak ketahui.

Seorang sahabat saya, pilot lulusan Amerika Serikat pernah mengatakan kepada saya bahwa kalau sudah berada di udara, kita sulit menduga apa yang bakal terjadi. Bukankah hilangnya pesawat Malaysia Airlines MH370 sampai sekarang masih diselimuti misteri sehingga menciptakan teori konspirasi?

Ketiga, berpulangnya orang-orang yang berkontribusi besar terhadap kemanusiaan selalu meninggalkan kesedihan yang mendalam. "Dakwahnya yang sejuk juga mewujud dalam laku keseharian Syekh Ali Jaber. Pesan-pesan persaudaraannya pun bergaung sampai ke para pemeluk agama lain." Begitu tulisan media nasional menanggapi kepergian dai kharismatis ini. Bukan hanya Mahfud MD dan Deddy Corbuzier yang merasa kehilangan, Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) Pendeta Gomar Gultom pun berkata, "Bangsa kita kehilangan seorang tokoh agama yang memiliki integritas mumpuni."

Belum lagi keluarga dan para sahabat korban Sriwijaya Air sehingga muncul gerakan nasional dengan tagar "Pray for Sriwijaya Air" menjadi trending topic di Twitter. Artinya, keluarga atau bukan, sahabat atau tidak kenal sama sekali, jatuhnya korban menimbulkan simpati yang mendalam dari banyak kalangan, khususnya jika korban dikenal mempunyai karakter dan sikap bermasyarakat yang baik dan berdampak positif, baik secara lokal, regional, nasional, maupun global.

Saat diminta untuk memberikan pesan terakhir di Podcast Deddy, Syekh Ali Jaber berkata, setiap ada ortu yang mengatakan anaknya ingin menjadi seperti beliau, dengan rendah hati beliau katakan, "Jangan menjadi seperti saya, tetapi yang lebih baik dari saya." Maksudnya indah; kita perlu meneladani sikap seorang yang baik dan tidak mengikuti hal yang sebaliknya.

Kembali ke berpulangnya Syekh Ali Jaber, jatuhnya pesawat Sriwijaya Air, dan film Sobat Ambyar untuk mengenang Didi Kempot, saya teringat ucapan St. Paul yang sungguh luar biasa: "Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah." Nah, buah apa yang kita sediakan, bahkan wariskan, bagi generasi sekarang dan generasi yang akan datang?

Xavier Quentin Pranata kolumnis

(mmu/mmu)