Kolom

Menimbang Sains di Tahun Vaksinasi

Damar Tri Afrianto - detikNews
Selasa, 12 Jan 2021 10:00 WIB
Foto ilustrasi: iStock
Jakarta -

Tahun 2020 yang baru saja berlalu bisa dikatakan tahun terberat dunia sains. Saat Covid-19 mulai menjadi pandemi di berbagai belahan negara, sains adalah salah satu jenis pengetahuan yang paling gigih dalam membaca virus tersebut dengan segala perangkat metodologinya. Cabang sains, antara lain virologi, pulmonologi, immunologi, epidemiologi, vaksinologi, dan ilmu sejenisnya mengemuka di ruang publik.

Metode saintifik menjadi satu-satunya tumpuan bagi kesamaan perilaku bagi banyak orang yang beragam serta menjadi dasar untuk merumuskan kebijakan publik, baik di tingkat lokal, nasional, maupun internasional. Sains semakin menunjukkan superiotasnya sebagai jenis pengetahuan.

Sains bukan hanya menghadapi virus, tapi juga situasi liminal dan kekhawatiran publik yang rentan dengan kekacauan sosial. Situasi tersebut menjadi momen bagi pihak-pihak yang ingin dan secara sengaja mendestruksi keadaan untuk berbagai kepentingan. Oleh karenanya sains tak luput dari negasi-negasi yang hadir dalam bentuk kebohohangan sains (science hoax).

Hoaks sengaja meminjam dan menunggangi nalar-nalar sains sebagai modal untuk memproduksi kebohongan. Melalui perangkat media sosial, hoaks secara masif mulai menggerogoti tubuh sains selayakanya virus, untuk menggiring publik pada realitas lain yang penuh dengan muatan politis. Berbagai macam wacana tentang Covid-19 mulai disuntikkan ke publik, mulai dari isu senjata biologis, teori konspirasi, dan berbagai macam berita tentang sains yang masih hitam-putih.

Nalar Ilmiah

Sains bekerja dengan pola yang terus sedang berlangsung, menggunakan nalar panjang, dan mengetengahkan falsifikasi. Dalam perkembangan metode keilmuan, prinsip falsifikasi berperan penting dalam memperkuat teori ilmiah karena sebagai pembuktian untuk mendsikualifikasi teori lain yang tidak relevan.

Gagasan falsifikasi pertama kali dikemukakan oleh Karl Popper dalam buku Conjectures and Refutations: The Growth of Scientific Knowledge. Pola sains yang seperti ini yang kerap kontradiktif di tengah masyarakat Indonesia yang lebih mengedepankan nalar instan.

Nalar instan tersebut mudah sekali menerima bentuk-bentuk produksi kebohongan atau hoaks. Pada saat itu belum ditemukannya obat atau vaksin terhadap virus tersebut menyebabkan sebagian orang lebih nyaman dengan wacana senjata biologis dan teori konspirasi yang lebih mudah dipahami. Nalar instan lebih menyukai berita teori konspirasi, senjata biologis, atau asumsi-asumsi yang membuat nyaman, ketimbang menunggu fakta sains dengan kerja pembuktian yang terus berlangsung dan membutuhkan waktu.

Kini vaksin telah di depan mata, tak bisa disangkal ini hasil kerja sains yang terus ikhtiar dengan perangkat metodologinya, trial and error. Perangkat sains dengan kerangka nalar panjang dalam rangka itu segenap upaya selalu dalam keadaan apa yang disebut 'ilmiah' yaitu menuju sesuatu yang dapat dipertanggungjawabkan.

Keampuhan vaksin yang akan didistribusikan ke masyarakat Indonesia tak lepas dari perangkat sains dan ilmiah dalam kerja pembuatannya. Kini tinggal melihat hasil dan akan terus dibenahi jika masih terdapat kekurangan; begitulah kerja sains yang tak pernah finish.

Berkaitan dengan tahun vaksin ini, masyarakat harus dibawa dalam kerangka 'keyakinan' bahwa vaksin adalah kerja sains dengan metodologi ilmiah. Nalar ilmiah ini yang harus ditumbuhkan pada sebagian masyarakat kita yang sudah terlalu lama bernalar instan. Nalar instan ini tak lain dibentuk dari media sosial yang menjadikan kita terbiasa dengan segala yang ringkas, padat, dan mudah dicerna.

Nalar instan inilah yang harus dihindari pada tahun vaksinasi pada 2021 ini. Nalar masyarakat harus dibawa pada nalar ilmiah dan juga kritis untuk menerima segala jenis berita yang beredar tentang sains terutama tentang vaksinasi. Oleh karena kita belajar dengan berpedoman pada unsur pengetahuan yang empiris, sistematis, objektif, dan verifikatif.

The Liang Gie (1987) dalam bukunya Pengantar Filsafat Ilmu menjelaskan, empiris artinya pengetahuan diperoleh berdasarkan pengamatan dan percobaan; sistematis artinya berbagai keterangan dan data yang tersusun sebagai kumpulan pengetahuan itu mempunyai hubungan yang teratur; objektif artinya ilmu pengetahuan itu bebas dari prasangka perseorangan dan kesukaan pribadi; analitis artinya pengetahuan ilmiah berusaha membeda-bedakan pokok soalnya dan peranan dari bagian-bagian itu; dan verifikatif artinya dapat diperiksa kebenarannya oleh siapapun.

Nalar ilmiah dengan berdomain pada unsur-unsur tersebut perlu segera disosialisasikan kepada masyarakat sebagai penangkal produksi hoaks tentang sains dan vaksin. Harapan utamanya, sains yang telah melahirkan vaksinasi ini tidak lagi ditunggangi oleh nalar instan yang berpotensi ke arah hoaks. Mengingat selama masih tinggi penggunaan media sosial, budaya hoaks tidak akan berhenti.

Damar Tri Afrianto pengajar Metodologi Riset di ISBI Sulawesi Selatan

(mmu/mmu)