Kolom

Ada "Korea" di Kampung Kita

Dedy Nurda - detikNews
Senin, 11 Jan 2021 15:17 WIB
Kampung Korea di Baubau
Kampung Korea di Baubau (Foto: Sitti Harlina/detikcom)
Jakarta -
Kaget saya bukan kepalang tatkala melihat sebuah unggahan dari sebuah akun Instagram yang cukup lama saya ikuti. Akun yang biasa menampilkan foto-foto bertema pariwisata dan budaya daerah itu kali ini memperlihatkan ada sesuatu yang "aneh" dan "sangat mengganggu" dengan wajah baru dari sebuah situs bangunan bersejarah yang cukup terkenal di daerah saya.

Mesjid Tuo Kayu Jao nama bangunan yang saya maksud itu. Masjid yang diperkirakan berumur lebih dari 400 tahun (berdiri tahun 1567), dengan arsitektur ala Minangkabau yang khas dengan atap lancip berbahan ijuk yang anggun meruncing tinggi, kini memiliki polesan "wajah baru" yang bagi saya, atau bahkan bagi beberapa orang lainnya, seperti yang tercermin dari beberapa komentar pedas yang muncul di posting-an itu, sulit untuk diterima.

Coba saja Anda bayangkan, kalau Anda memang sependapat dengan saya. Mesjid antik bercorak Minangkabau tempo doeloe, yang dipercaya sebagai mesjid tertua di tanah Minang (konon nomor dua tertua di Indonesia) yang masih berdiri utuh hingga saat ini, yang wajahnya selama ini memancarkan aura sakral, klasik, kharismatik, anggun dan berwibawa itu tiba-tiba halaman dan lingkungan sekitarnya "disulap" dan "diperindah" dengan aneka hiasan dan ornamen warna-warni oleh pihak-pihak berwenang daerah setempat, bak halaman sekolah "taman kanak-kanak".

Ada payung warna-warni, jembatan yang pagarnya diwarna-warni, halaman paving bloknya berwarna warni cerah menyolok mata, dan lain-lain perkakas warna-warni lainnya yang dibuat dengan mengatasnamakan "lebih Instagramable" sebagai alasan pembenar.

Entah apa maksudnya, saya sendiri ternganga menyaksikan, bukannya kagum apalagi bahagia, tapi malah tak percaya sekaligus kecewa. Dalam hati saya bertanya, apakah di antara hiasan-hiasan warna-warni itu juga ada simbol "love-love-an", simbol hati yang dirangkai bunga tempat para ABG ber-selfe ria di depan mesjid sambil memonyong-monyongkan bibirnya? Merintih hati saya...

Sebenarnya bukan kali ini saja saya merasakan hal yang serupa. Di tempat lain, masih di daerah saya, tepatnya di lokasi wisata yang sangat terkenal, yaitu kawasan Geopark Lembah Harau. Kawasan ini adalah sebuah kawasan wisata alam yang sangat terkenal dengan tebing-tebing batu cadasnya yang khas menjulang tinggi disertai dengan beberapa titik air terjun yang menawan, dan sering dijuluki sebagai "Grand Canyon"-nya Indonesia.

Keindahan alamnya sangat memukau bahkan sulit dicari tandingannya di negara ini. Dengan perpaduan alam yang indah menyatu dengan bangunan rumah penduduk berarsitektur Minang yang khas, sungguh memikat hati. Bahkan dalam salah satu pemberitaan beberapa media nasional beberapa waktu yang lalu, Lembah Harau ini dinobatkan sebagai salah satu lembah terindah di Indonesia.

Namun apa daya, sejak beberapa tahun ini teramat viral sebuah spot wisata yang persis berada di tengah-tengah kawasan cagar alam ini sebuah kompleks wisata yang dinamai "Kampung Eropa" dan "Kampung Korea".

Dari namanya bisa Anda bayangkan, di tengah-tengah perjalanan Anda menikmati bentangan alam Minangkabau yang berkarakter indah dan eksotik itu, tiba-tiba saja Anda bagai melewati "pintu ke mana saja" milik Doraemon, dan di hadapan Anda sudah ada "Menara Eiffel Paris", "Menara Miring Pisa Italia" atau "Tower Bridge" -nya London, dan juga rumah-rumah kuil ala Korea dan Jepang lengkap dengan "pohon sakura"-nya.

Setiap hari ratusan atau bahkan ribuan pengunjung masuk dengan mobil pribadi atau bus pariwisata. Jika beberapa tahun lalu wisatawan yang masuk ke kawasan Lembah Harau betul-betul disuguhi keajaiban dan keindahan pesona alami yang terbentang, kini malah teralihkan dengan suguhan artifisial yang jauh dari karakter dan budaya masyarakat aslinya sendiri.

Saya menghargai inovasi dan kreativitas dari investor yang berhasil menyulap lahan tidur bekas rawa yang tidak produktif di tengah-tengah lembah hijau itu. Namun konsep yang dihadirkannya tampak terasa sekali tak menyatu dengan kearifan dan budaya lokal Minangkabau yang sebenarnya tak kalah menarik dan menggiurkan untuk dijual.

Tak dipungkiri, di salah satu sudut kompleks wisata itu ada yang namanya "Kampung Minang" yang dibangun oleh investor dengan ciri khas arsitektur Rumah Gadang yang khas, namun gaungnya kalah jauh dari "kampung Eropa" dan "Kampung Korea" tadi. Pengunjung lebih tertarik bersesak-sesak antri berfoto di depan "Menara Eiffel" atau bergaya dengan pakaian Kimono dan payung kertas di bawah "pohon sakura" dengan latar belakang "kuil shaolin" dibandingkan daripada mesti berbaju "anak Daro" (pakaian pengantin Minang) di depan halaman Rumah Gadang.

Investor tadi tak bisa disalahkan sepenuhnya, karena mereka hanya mengikuti kehendak pasar; konsep-konsep idealis mesti mengalah pada realitas selera pasar. Dan memang pada kenyataannya harus diakui ada "sesuatu yang salah" dengan masyarakat kita sekarang.

Objek imitatif yang instan lebih diburu ketimbang yang natural. Demam Korea yang melanda dunia lewat drakor dan pop idol yang menjangkiti kaum ibu dan gadis remaja kini telah masuk sampai ke sudut-sudut kampung. Begitu juga dengan halusinasi liburan ke "Eropa" juga lebih diburu dari pada "berlibur ke desa" meskipun itu nyata. Apa hendak dikata?

Itulah fenomena yang kini yang banyak terjadi, bukan hanya di daerah saya saja di Sumatera tentunya. Bahkan di daerah lain, termasuk di tempat Anda yang membaca tulisan saya ini pun saya yakin hal serupa juga berlaku sama.

Saya pernah melihat sebuah foto objek wisata di Pulau Jawa yang membuat kembaran patung Singa Merlion, maskot kota Singapura di daerahnya. Padahal konon kabarnya, ditempat asalnya sendiri di Negeri Singa, patung maskot kota berkepala singa berbadan ikan itu sendiri bakal dirobohkan tak lama lagi. Hal ini terjadi karena lokasi tempat patung ini berada yaitu di Sentosa Island akan dipugar besar-besaran dalam proyek Sensoryscape, sebuah proyek pembangunan kembali kawasan wisata Singapura bagian selatan.

Di lain tempat, masih di daerah Jawa, saya juga pernah melihat (lihat fotonya saja, belum pernah ke sana), sebuah bangunan yang sepertinya di alun-alun kota atau mungkin juga sebagai batas kota, saya tak tahu persisnya. Bangunan yang saya maksud itu secara kasat mata sangat mirip bahkan bisa disebut sebagai imitasi dari gerbang Arc de Triomphe, gerbang kemenangan Napoleon Bonaparte atas perang melawan Austria di kota Paris.

Perasaan Asing

Rentetan contoh di atas menimbulkan perasaan aneh di dalam diri saya. Perasaan asing dan tersingkirkan di negeri sendiri, di kampung sendiri. Di sekeliling terlihat orang-orang lebih mengagumi "topeng"-nya daripada kebanggaan atas wajah asli mereka sendiri. Inikah hasil dari tiga perempat abad merdeka? Jelas nyata kita belum mampu lepas dari "penjajahan budaya". Jangankan merasa malu, parahnya lagi sebagian kita malah merasa bangga.

Berduyun-duyun orang mengejar kebanggaan semu yang hanyalah ilusi mereka sendiri, sementara itu mencampakkan potensi dan kekayaan budaya yang nyata telah ada dalam genggaman mereka sendiri.

Kini fenomena "korea-koreaan" bukan hanya suguhan di televisi lewat drama, musik, dan tari. Ia telah menyelinap jauh ke sudut negeri menyentuh segala aspek kebutuhan anak negeri tak terkecuali soal rekreasi. Seakan telah menjadi menu wajib atau bahkan sajian utama di beberapa lokasi objek wisata di negeri ini, menjadikan keindahan alam dan potensi budaya sendiri hanyalah sebagai pemanis dan pelengkap penderita saja.

Jika fenomena ini terus berlanjut dan tak ada yang berniat mengakhirinya, bukankah ini akan jadi semacam "bunuh diri" bagi dunia pariwisata kita?

Saya tak dapat membayangkan perasaan para wisatawan mancanegara yang terlanjur datang ke sini, bakal kecewa dan bingung. Jauh-jauh mereka datang dari negaranya dengan biaya yang tak murah dan pengorbanan yang tak mudah, berharap untuk melihat sesuatu yang autentik dan orisinal dari budaya negeri ini. Namun nyatanya mereka hanya menemukan lagi wajah "negeri" mereka sendiri dalam versi KW alias imitasi.

(mmu/mmu)