Kolom

2021 Soros Bergerak lagi!

AM Hendropriyono - detikNews
Senin, 11 Jan 2021 06:37 WIB
Jenderal (Purn) Hendropriyono (Mantan Kepala BIN),
AM Hendropriyono (Foto: Muhammad Ridho/detikcom)
Jakarta - Gerakan ini merupakan proyek yang paling penting baginya, sebagai warisan kepada dunia. Dalam usia 90 tahun, George Soros bertekad untuk terus menebar liberalisme, walau mungkin kelak harus dari liang kuburnya.

Dengan dana 1 miliar USD pada November 2020 yang baru lalu, Soros membentuk OSUN (Open Society University Network), untuk menghancurkan nasionalisme.

Soros juga telah mempersiapkan Bard College New York di AS dan Central European University di Vienna Austria, untuk penghayatan filsafatnya di seluruh dunia. Bangladesh dan Taiwan dibuat sebagai pancangan kaki gerakannya di Asia.

Sebagai sasaran, direncanakan para akademikus yang hidup sengsara dan merasa tertindas secara politik atau ekonomi. Spekulan kapitalis yang lihay ini, menunjuk Lord Mark Brown sebagai Ketua baru Yayasan yang membidangi proyek 2021-nya. Proyek anti nasionalisme tersebut juga bertujuan federalisasi Eropa dan liberalisasi sistem peradilan dunia.

Nasionalisme kita mengutamakan keamanan dan kesejahteraan bersama, dengan saling asah, asih dan asuh dalam kehidupan yang toleran terhadap perbedaan suku, ras, golongan dan agama. Sementara, liberalisme Soros mengutamakan kepentingan bangsanya, Amerika Serikat (AS), yang kapitalistik dan kepentingan individu untuk bebas bersaing dan memiliki hak yang sama dengan kita, bahkan di negara kita sendiri.

Pada 1997 George Soros telah menghajar sistem keuangan Thailand melalui Quontum Fund, yang dua bulan kemudian berimplikasi langsung terhadap Indonesia. Ekonomi kita dulu runtuh dari indikator pertumbuhan yang +6% menjadi -13%. Penderitaan rakyat yang sangat pahit itu tidak ingin kita alami lagi.

Penjajahan filsafati tersebut berimplikasi langsung pada realitas ekonomi. Karena itu, ia menyebut filsafatnya sebagai refleksitas, yang intinya bahwa pelaku pasar tergantung pada persepsinya terhadap realitas bukan sebaliknya.

Soros bahkan menyebut nama orang-orang yang bisa dihubungi untuk rencananya tersebut. Kita berharap tidak ada oknum individu ataupun LSM yang tega berkhianat kepada bangsanya sendiri Indonesia.

Hanya dengan mendalami secara akademik dan menghayati serta mengamalkan Pancasila, konstruksi sosial kita tentang nasionalisme akan cukup tangguh menghadapi gempuran Soros tersebut.

Jenderal (Purn) Abdullah Mahmud (AM) Hendropriyono Guru Besar Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN) dan Sekolah Tinggi Hukum Militer (STHM) (mae/mae)