Kolom

PDIP dan Revitalisasi Sungai Ciliwung

Eva K Sundari - detikNews
Minggu, 10 Jan 2021 17:54 WIB
Dinas Sumber Daya Air Jakarta Selatan melakukan pengerukan lumpur di Sungai Ciliwung, Kampung Melayu, Jumat (11/12).
Foto: Ari Saputra
Jakarta -

Air adalah Darahku/ Sungai adalah Nadiku/ Maritim adalah Kebudayaanku ~ yel di Konggres Sungai Indonesia

Di akhir Konggres Sungai Indonesia (KAI) pertama tanggal 26-30 Agustus 2015 di Banjarnegara yang dibuka oleh Puan Maharani selaku Menko PMK, telah disepakati bahwa revitalisasi sungai harus dilakukan semua pihak dengan strategi gotong royong. Konggres itu berhasil menyatukan 4 unsur sekaligus yaitu Tokoh-tokoh pemerintah, bisnis, akademisi kampus, dan komunitas sungai untuk berhenti saling menyalahkan dan mau bermusyawarah mencari langkah-langkah kongkret untuk merevitalisasi sungai.

Serangan pandemi Covid 19 di awal 2020 sempat mendatangkan pesimisme penyelenggara atas peluang keberlanjutan KAI kelima setelah berhasil menyelenggarakan KAI keempat pada tanggal 21-24 Maret 2019 yang lalu di Bumi Perkemahan Cibubur. Harapan muncul ketika PDIP pada peringatan ultahnya yang ke-48 tahun menjadikan program revitalisasi Sungai Ciliwung sebagai agenda politik partai. Ini melegakan, karena upaya revitalisasi sungai yang menjadi misi KAI tidak terhenti oleh pandemi dan bahkan berdampak lebih kuat jika dilaksanakan PDI Perjuangan.

Sebagai negara maritim yang 60% wilayah nya terdiri dari lautan, Indonesia akan terdampak juga oleh krisis kelangkaan air tawar dunia yang diperkirakan akan terjadi tahun 2030. Kelangkaan air tawar akan terjadi terutama di Pulau-pulau Jawa, Sulawesi, Bali, dan NTT yang sebagian besar disebabkan oleh turunnya lahan basah hingga 50% sejak 1970 (WWF, 2016).

Lemahnya Ketahanan Air di Indonesia bisa dilihat pada sungai-sungai yang tercemar di Indonesia termasuk Sungai Ciliwung yang dijadikan pusat kegiatan perayaan ulang tahun PDI Perjuangan pada Hari Minggu, 10 Januari 2020. Tercemarnya sungai adalah wajah bangsa, cermin kekacauan kebijakan tata ruang, peradaban rendah masyarakat (buang sampah ke sungai), perilaku koruptif pabrik-pabrik dan perilaku miskin budaya perspektif hidup tuna masa depan.

Kemiskinan perspektif masa depan tersebut melanda semua pihak termasuk para kader PDI Perjuangan di eksekutif, legislatif maupun di struktur organisasi yang hidup di sepanjang Sungai Ciliwung. Jadi, agenda PDI Perjuangan untuk merevitalisasi Ciliwung sebenarnya juga upaya PDI Perjuangan untuk mentransformasi keadaan internal partai agar kelak berkapasitas untuk melakukan transformasi eksternal yaitu negara, bangsa bahkan dunia.

PDI Perjuangan sesungguhnya juga sedang menjawab tantangan kebangsaan dan dunia terhadap peran partai politik sebagai agen perubahan sosial melalui usulan gagasan progresif yang operasional. Ini merupakan langkah maju PDI Perjuangan untuk masuk pada isu substansi demokrasi yaitu perbaikan kesejahteraan rakyat sambil terus berupaya menata prosedur demokrasi.

Momentumnya tepat karena PDI Perjuangan adalah partai pemenang di berbagai pemilu dan elektabilitasnya selalu tertinggi sehingga menjadikan diri sebagai "musuh" yang harus dikalahkan adalah pilihan yang cerdas dan tepat. Tantangan-tantangan internal dimenangkan untuk memperkuat peluang bagi perbaikan kapasitas dan kualitas PDI Perjuangan untuk memenangkan kontestasi dengan partai-partai lainnya.

Kepemimpinan yang kuat dan tingkat disiplin kader yang tinggi merupakan modal besar PDI Perjuangan untuk mentransformasi diri menjadi akselerator untuk menemukan penyelesaian konkrit berbagai permasalahan rakyat. Untuk mentransformasi Indonesia agar lebih pro lingkungan diperlukan peran-peran akselerator yang berfungsi sebagai poros yang menggerakkan semua sumberdaya bangsa bergerak menuju tujuan tersebut.

Adanya presiden dan ketua DPR dari PDI Perjuangan sepatutnya menjadi modal agar gagasan PDI Perjuangan untuk menciptakan gerakan revitalisasi sungai-sungai mudah terwujud. Realitas bahwa pemerintahan di tingkat propinsi dan daerah juga banyak dipegang kader-kader banteng, sangat memungkinkan agar gagasan progresif dari DPP PDI Perjuangan ini dilaksanakan secara simultan dari bawah ke atas (bottom up) dan dari atas ke bawah( top down).

Revitalisasi sungai adalah kepentingan semua dan setiap orang. Siapapun akan sulit menolak ajakan PDI Perjuangan untuk merevitalisasi sungai-sungai yang tercemar karena manfaatnya untuk semua orang, semua makhluk yang sedang dan kelak hidup di daratan yang membutuhkan air tawar untuk keberlangsungan hidup mereka.

Namun demikian, semua potensi tersebut akan percuma jika tidak ada gagasan yang disusun beserta target-target keluaran (output) yang terukur. Beberapa output tersebut sudah akan diwujudkan dalam perayaan ultah pada Minggu (10/1), misalnya aktivitas membersihkan sungai, penanaman pohon sepanjang bantaran sungai, dan penanaman bibit bunga teratai di beberapa titik.

Ada satu lagi problem substansial untuk revitalisasi sungai yaitu menyatukan berbagai otoritas penanggungjawab sepanjang bantaran sungai dari hulu ke hilir dalam satu platform revitalisasi. Para pemimpin daerah yang berasal dari berbagai parpol merupakan tantangan tersendiri untuk mau diajak bekerja sama dalam satu platform di masa era otonomi daerah dan hasil pemilihan langsung seperti saat ini.

Adanya satu platform yang sama harus pula bersifat terukur perubahannya misalnya berisi target yang harus dipenuhi sebagaimana dalam strategi SDGs yang taktik pencapaiannya diserahkan kepada masing-masing pemerintah daerah sepanjang DAS Ciliwung. Isu daerah yang penting berikutnya adalah terkait aspek keberlanjutan program yang biasanya harus diamankan di RAPBD masing-masing daerah. Tanpa menyertakan aspek ini ke dalam platform, revitalisasi yang berkarakter multi-years tidak akan bisa diwujudkan.

Isu keberlanjutan program revitalisasi Sungai Citarum terkait pula dengan adanya kebijakan Nasional tentang tata ruang yang diperlukan juga untuk menyelesaikan berbagai masalah lingkungan lainnya. Semoga PDI Perjuangan sudah menyiapkan gagasan solid terkait beberapa hal di atas ke dalam kertas kerja berisi platform yang komprehensif untuk revitalisasi Sungai Ciliwung dan sungai-sungai penting lainnya di Tanah Air.

Jika peran akselerator PDI Perjuangan terkait revitalisasi sungai Ciliwung dan sungai-sungai yang lain berhasil dilaksanakan, maka berbagai bentuk entitas/sektor kehidupan yang "tercemar" lainnya bisa juga dilakukan. Pengangguran, korupsi, kekerasan seksual, intoleransi, perlindungan PRT juga membutuhkan peran akselerator PDI Perjuangan melalui strategi gotong royong.

Akhir kata, selamat mengembangkan kepribadian nasional seperti bunga teratai kepada PDI Perjuangan di usia ke-48 tahun. Tumbuh dengan akar menancap di lumpur dasar sungai, menjaga ketersediaan air demi keberlangsungan kehidupan bangsa. PDI Perjuangan mengajak mencintai lingkungan sebagai wujud patriotisme dan nasionalisme.

Eva K Sundari Direktur Institut Sarinah, anggota SC Konggres Sungai Indonesia (KAI)

(mmu/mmu)