Kolom

Lahirnya Para "Influencer" Dakwah

Maria Fauzi - detikNews
Jumat, 08 Jan 2021 13:06 WIB
Ngaji yuk huruf dzal
Foto: 20Detik
Jakarta - Bagi beberapa kawan perempuan saya, media sosial tidak hanya dijadikan sarana untuk saling berinteraksi tapi juga untuk ngaji, khususnya di platform Facebook dan Instagram. Timeline medsos mereka isinya tak lain hanya kajian dan kajian. Eh, sesekali juga jualan sih.

"Kita bisa menggunakan sosial media untuk apa saja, tapi bukankah lebih baik jika digunakan untuk hal-hal positif, seperti share kajian dan berdakwah?" begitu terang salah satu kawan saya yang aktif sekali mengunggah berbagai kajian di berandanya. Tak hanya itu, ia pun rajin membuat status yang isinya tentang berbagai macam amalan dan juga quote quote keagamaan. Komplet. Seperti masuk kelas pelajaran agama.

Ya, belakangan ini kita menyaksikan meningkatnya religiusitas masyarakat tak hanya dalam kehidupan nyata sehari-hari, namun juga di dunia maya. Islam menjadi bagian penting dalam menjawab kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Ayat-ayat Alquran dan hadis menjadi rujukan populer dalam merespons hal-hal baru. Tidak afdal rasanya tanpa mencari legitimasi dari teks-teks keagamaan, serasa hidupnya tak kafah.

Maka tak heran jika seseorang kerapkali dianggap mendalami ilmu agama hanya karena beberapa cuitan dan postingannya di media sosial yang sifatnya religius. Cara shortcut seperti ini semakin menambah aktor-aktor baru dalam wacana keagamaan. Publik tak lagi peduli dengan latar belakang keilmuan seseorang; asal viral, banyak follower, dan menyajikan konten-konten religius bisa dipastikan seseorang tersebut akan mudah menjadi selebgram dakwah.

Eh, satu lagi, perihal jaringan. Ini juga tak kalah penting. Mari kita tengok jaringan influencer dakwah yang tergabung dalam kajian bekennya Felix Shiauw, Husain Assadi, dan aktivis muda (eks) HTI lainnya dalam program mereka "Yuk Ngaji". Nama-nama baru yang muncul ini tak kalah pamor dengan para pentolannya.

Dari jaringan itulah lahir selebgram dakwah baru yang mulai mengisi ruang keagamaan anak muda muslim perkotaan. Sebut saja Hawaariyyun. Pemuda yang terinspirasi dari penulis Tere Liye ini mengaku menggunakan inisial Hawaariyyun untuk akun dakwahnya. Alih-alih mengklaim diri sebagai pendakwah atau mubalig, ia lebih gemar menggunakan istilah "influencer dakwah". Mengapa? Ya, karena bebannya tidak berat.

Mereka cukup menampilkan kehidupan sehari-hari nan religius dan saleh sebagai muslim yang ideal. Biasanya para "mikro-seleb" ini tampil dengan menggunakan gambar, video, ataupun blog untuk menampilkan dirinya sebagai paket bermerk (branded packages) kepada pengguna media sosial. Dari sinilah terjalin engagement yang lebih erat dengan pengguna sosmed. Apalagi personal branding-nya dikaitkan dengan aktivitas dakwah, pasti laris manis.

Hawaariyyuun menjadi sosok ideal pemuda hijrah yang banyak diikuti kaum milenial dan Generasi Z. Tak hanya terampil memproduksi konten-konten dakwah yang ciamik, ia juga berhasil mem-branding dirinya sebagai influencer dakwah populer yang marak diperbincangkan akhir-akhir ini.

Lain Hawaariyyuun lain lagi Fuad Naim. Selebgram hijrah dari jaringan "Yuk Ngaji"—nya Felix Shiauw ini menyebarkan konten-konten dakwah untuk K-Popers atau bahasa yang dipakai adalah para Hallyu. Ia juga menulis sebuah buku dengan judul Pernah Tenggelam yang berisi tentang perjalanan hijrahnya dari yang sebelumnya mengidolakan K-Pop dan drama Korea kemudian beralih mengidolakan Nabi Muhammad.

Dari seleb dakwah perempuan muncul nama Wafiq Malik. Wafiq merupakan seleb hijrah yang juga banyak diikuti oleh muslimah muda pengguna aktif media sosial. Sebagai influencer dakwah ia kerap mengunggah foto-foto dirinya yang bercadar dan disertai kisah-kisahnya ketika memutuskan untuk berhijrah. Kisah ini kemudian dijadikan buku Kisahku yang banyak disambut oleh muslimah muda milenial dan Gen Z.

Penampilan Wafiq yang juga digadang menjadi panutan muslimah muda bercadar menonjolkan kehidupannya yang islami nan syar'i. Dalam akun Instagram-nya, Wafiq kerapkali membubuhi konten konten tentang ajaran formal keagamaan yang tak begitu rumit, yaitu perihal moral khususnya terkait dengan aurat perempuan dalam etika Islam dalam kehidupan sehari-hari, tentunya dengan tampilan foto yang menawan dan artistik.

Hal ini memang menjadi ciri khas otoritas baru (pendakwah baru) yang menghadirkan model dakwah baru dalam dinamika dakwah Islam di Indonesia. Narasi dakwah yang dibuat dekat dengan kehidupan sehari-hari, dengan membubuhkan dalil-dalil keagamaan dalam menunjang aktivitas kesehariannya. Alih-alih berdakwah dengan cara ceramah dan literatif yang dianggap membosankan oleh kalangan muda, otoritas baru keagamaan ini hadir lewat penggambaran yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Tak Dapat Dibendung

Munculnya influencer dakwah muda tak lagi dapat dibendung. Mereka menjadi aktor baru dalam membentuk wacana keagamaan bagi muslim milenial dan Gen Z. Dalam konteks Indonesia, mikro-seleb dakwah ini memiliki peran penting dalam perkembangan gaya hidup serta wacana Islam di ruang publik Indonesia.

Kehidupan yang religius sekaligus modern menjadi fenomena baru yang diekspresikan oleh kelompok dakwah baru yang mayoritas berasal dari kalangan menengah muslim perkotaan. Gaya hidup yang modern diramu sedemikian rupa agar berjalan seiringan dengan nilai-nilai yang mereka yakini sebagai nilai "islami".

Fenomena ini sedikit menjelaskan bahwa para kelas menengah muslim ini menampilkan ekspresi beragama dalam berdakwah yang nyatanya cukup akomodatif dan lentur terhadap budaya modern. Metode dakwah dibuat semenarik mungkin selaras dengan berkembangnya teknologi modern yang tak lagi dianggap bertentangan dengan Islam.

Entitas budaya hibrid yang berupa penggabungan dari beberapa unsur dunia modern, dalam hal ini penggunaan teknologi dan mengakomodasi wacana-wacana kemodernan yang digabungkan dengan nilai-nilai keagamaan menjadi salah satu wujud hibriditas gerakan dakwah yang mulai mengisi ruang-ruang publik kita sehari-hari.

Kehadiran identitas-identitas Islam populer di tengah ruang-ruang publik mengisyaratkan bahwa Islam mampu berdialog dengan modernitas. Hal ini semakin menjelaskan bahwa fenomena keislaman kelas menengah muslim perkotaan yang mulai akomodatif terhadap nilai-nilai modern pada akhirnya membentuk budaya Islam populer baru yang tak hanya mengakomodasi nilai-nilai kemodernan, namun juga keislaman.

Maria Fauzi pengamat wacana keislaman modern

(mmu/mmu)