Analisis Zuhairi Misrawi

Babak Baru Rekonsiliasi Arab Saudi-Qatar

Zuhairi Misrawi - detikNews
Jumat, 08 Jan 2021 11:15 WIB
zuhairi misrawi
Zuhairi Misrawi
Jakarta -

Setelah tiga tahun enam bulan memblokade Qatar, Arab Saudi akhirnya membuka lembaran baru. Untuk pertama kalinya, Syaikh Tamim bin Hamad al-Thani melakukan lawatan dan pertemuan dengan Muhammad bin Salman di tengah forum Dewan Kerja Sama Teluk (GCC). Kuwait disebut-sebut sebagai mediator di balik akurnya dua negara berpengaruh di kawasan Teluk itu.

Banyak pihak memandang, rekonsiliasi tersebut merupakan kemenangan bagi Qatar. Tekanan politik dan ekonomi Arab Saudi tidak memperlemah Qatar, bahkan bisa dibilang negeri yang kaya gas itu bisa berdiri tegak menjadi kekuatan baru di kawasan Teluk. Toh, tanpa Arab Saudi, Qatar masih bisa memperluas kerja sama dengan negara-negara berpengaruh di Timur-Tengah.

Yang paling menonjol adalah kerja sama antara Qatar dengan Turki dan Iran pasca-blokade. Turki adalah negara pertama yang membentangkan bantuan militer kepada Qatar dengan imbalan bisa memasok makanan dan bantuan ekonomi. Iran menyusul Turki dengan membuka jalur udara bagi penerbangan Qatar Airways, meski penerbangan ke Qatar membutuhkan waktu yang lebih lama dari biasanya karena blokade Arab Saudi.

Blokade memberikan pelajaran berharga bagi Qatar, bahwa mereka harus mulai mandiri dalam memenuhi ketersediaan bahan-bahan pokok. Mereka berhasil membuat peternakan untuk pemasokan daging yang menjadi kebutuhan sehari-hari warga Qatar. Mereka juga mulai memenuhi ketersediaan air.

Intinya, blokade yang diprakarsai Arab Saudi dan diikuti oleh Uni Emerate Arab, Bahrain, dan Oman, tidak bermakna apa-apa. Qatar tidak kehilangan mitra strategis dengan Amerika Serikat. Bahkan, AS akan menjadikan Qatar sebagai pangkalan militer AS Non-NATO terbesar di Timur-Tengah. Kerja sama ekonomi antara Qatar dan AS terus berlangsung di tengah blokade yang diprakarsai Arab Saudi tersebut.

Belum lagi, Qatar terus bersinar melalui jaringan televisi Aljazeera berbahasa Arab dan Inggris, di Timur-Tengah dan Barat. Arab Saudi mencoba menandingi gurita Aljazeera melalui kanal televisi Al-Arabiya. Tetapi langkah tersebut sia-sia belaka, karena Aljazeera mampu menyajikan informasi dan program yang merepresentasikan pihak-pihak yang selama ini dizalimi di Timur-Tengah, baik oleh Israel, Arab Saudi, Uni Emerate Arab, dan Amerika Serikat.

Aljazeera mampu menyebarluaskan informasi dari Iran sebagai aktor penting dalam politik Timur-Tengah. Informasi dari Iran langsung bisa disebarluaskan ke seantero Timur-Tengah dalam wajahnya yang lebih berimbang dan komplit. Selama ini, informasi tentang Iran selalu dimonopoli media-media Arab Saudi, yang sudah barang tentu selalu bias dan penuh permusuhan.

Dalam konteks tersebut, Muhammad bin Salman (MBS) tidak mempunyai pilihan lain kecuali merangkul kembali Qatar untuk memperkuat barisannya menentang Iran. Langkah awal yang akan diambil MBS, yaitu memastikan negara-negara Teluk dapat menunjukkan soliditas menjelang pergantian kekuasaan di AS. Perubahan dari Donald Trump ke Joe Biden akan membalikkan peta politik di kawasan.

Setidaknya, Arab Saudi tidak akan dimanjakan lagi oleh AS. Biden akan mengambil langkah rasional terhadap negara kaya minyak itu. Apalagi Presiden AS terpilih ke-46 akan mengambil langkah penting dalam penegakan Hak Asasi Manusia yang selama ini diabaikan, bahkan dilanggar secara terang-terangan oleh Arab Saudi. Kematian Jamal Khashoggi dan penangkapan sejumlah aktivis HAM akan menjadi agenda prioritas.

Dalam konteks tersebut, MBS sebagai aktor utama pelanggaran HAM tersebut membutuhkan mitra strategis dan mediator dalam rangka menyelamatkan dirinya dari tuntutan hukum. Tidak bisa dibayangkan jika Biden benar-benar melakukan investigasi terhadap pelanggaran HAM di Arab Saudi, maka akan menjadi petaka bagi MBS.

Selama ini, Aljazeera menjadi media terdepan yang mendapatkan keistimewaan dari Turki untuk membongkar kasus Jamal Khashoggi, yang di dalamnya ada dugaan kuat MBS terlibat dalam pembunuhan sadis terhadap jurnalis dan kolomnis The Washington Post tersebut. Media-media AS, seperti New York Times, The Washington Post, dan lain-lain merujuk pada jaringan televisi Aljazeera.

MBS membuka lembaran baru dengan Qatar dalam kondisi Arab Saudi yang tidak benar-benar kokoh. Masa depan kerja sama dengan Israel menjadi pertaruhan yang tidak mudah, karena meskipun langkah tersebut mendapatkan dukungan dari para monarki, tetapi sebenarnya di akar rumput sangat rapuh.

Saya memandang, Qatar tidak akan mudah tergiur untuk menjadi bagian dari gerbong MBS dalam membangun kerjasama dengan Israel. Sebab Qatar selama ini dikenal mempunyai sikap yang kokoh terhadap sayap perlawanan di Palestina. Bahkan, Pimpinan HAMAS mendapatkan perlindungan politik di Qatar, sebagai bentuk konsistensi membela Palestina.

Puncaknya, masa depan kerja sama Qatar dengan Iran. Langkah Arab Saudi membuka lembaran baru dengan harapan agar Qatar memutus hubungan dengan Iran, sehingga melengkapi poros Arab Saudi versus poros Iran. Dalam hal ini, Qatar tidak akan mudah bertekuk lutut pada kehendak MBS, karena saat ini posisinya lebih kokoh, baik secara ekonomi maupun politik. Apalagi kerja sama Qatar dengan Iran dalam konteks saling menghormati, saling menghargai, dan saling menguntungkan kedua belah pihak. Iran sudah terbukti mengulurkan bantuan di saat-saat Qatar diblokade Arab Saudi.

Bagi Arab Saudi, lembaran baru dengan Qatar juga tidak mudah, karena Mesir sebagai salah satu mitra strategis merasa tidak nyaman. Rezim militer Mesir sangat tidak bersahabat dengan Qatar, karena hingga saat ini menjadi salah satu tempat eksodus para aktivis Ikhwanul Muslim, termasuk di dalamnya Syaikh Yusuf al-Qaradhawi yang divonis Abdul Fattah el Sisi sebagai buronan teroris.

Akhirnya, lembaran baru Arab Saudi-Qatar di permukaan memberikan harapan baru bagi kawasan Teluk yang damai. Namun jika ditelisik lebih dalam lagi, sulit rasanya memetakan geopolitik di kawasan Timur-Tengah, khususnya dalam pertarungan besar antara AS dan Rusia, antara Israel vs Iran. Kita cermati bersama perkembangan yang akan datang perihal wajah Timur-Tengah setelah Biden dilantik sebagai Presiden AS akhir Januari nanti.

Zuhairi Misrawi cendekiawan Muslim, analis pemikiran dan politik Timur-Tengah di The Middle East Institute, Jakarta

(mmu/mmu)