Mimbar Mahasiswa

Imajinasi Risiko Keamanan Data Pribadi

Mukh. Imron Ali Mahmudi - detikNews
Kamis, 07 Jan 2021 10:08 WIB
Jaminan Keamanan Data Pribadi
Ilustrasi: dok. detikcom
Jakarta -

Beberapa waktu lalu, Kominfo mengusulkan aturan batas usia kepemilikan akun medsos melalui Rancangan Undang-Undang (RUU) Perlindungan Data Pribadi. Salah satu pertimbangannya adalah anak-anak dinilai belum cukup memahami konsekuensi atas pemrosesan data pribadinya. Melalui pembatasan itu, perlindungan terhadap data pribadi anak diharapkan akan meminimalisasi penyalahgunaan datanya di masa depan.

Persoalan tersebut sebenarnya tidak hanya penting untuk anak-anak. Pada kenyataannya, banyak orangtua yang menjadi korban penyalahgunaan data pribadi. Dihubungi orang tak dikenal untuk meminjam uang, mengisi pulsa, atau telemarketing; orang ditawari pinjaman uang atau produk tertentu; dan, penipuan melalui sms yang mengatasnamakan keluarga. Semua itu berawal dari bocornya data pribadi.

Bahkan, artis Aura Kasih dan Maia Estianti juga pernah kehilangan jutaan rupiah karena akun elektroniknya diretas dengan memanfaatkan informasi data pribadinya. Dari anak-anak, orangtua, sampai artis semuanya riskan menjadi korban dari penyalahgunaan data pribadi. Namun, alih-alih memberi edukasi mengenai urgensi keamanan data pribadi, pemerintah justru membatasi penggunaan sosmed, seperti yang diusulkan di RUU Data Pribadi yang membatasi kepemilikan akun medsos untuk anak.

Akibatnya, ketika dewasa, anak akan memegang medsos tanpa tahu pentingnya perlindungan data pribadi. Sebagaimana dijelaskan Southeast Asia Freedom of Expression (Safenet), pihak tertentu bisa memanfaatkan data pribadi untuk kepentingannya tanpa kita ketahui.

Perkumpulan pembela hak-hak digital se-Asia Tenggara itu mencatat data pribadi setidaknya bisa dimanfaatkan dalam tiga hal; ekonomi, politik, dan ancaman. Penyalahgunaan itu bisa berupa penjualan data untuk iklan, analisis kekuatan politik pendukung, maupun ancaman dari disebarkannya data pribadi.

Tidak Sensitif

Meskipun terdapat banyak potensi penyalahgunaan data pribadi, tidak semua orang sensitif terhadap keamanan data pribadi. Menurut saya, sikap ini dipengaruhi juga oleh lingkungan sosial masyarakat yang berkembang di sekitarnya.

Orang-orang di desa, misalnya, cenderung menempatkan orang lain sebagai sedulur atau saudara jauh. Hal ini tercermin mulai dari desain rumah mereka misalnya. Rumah di pedesaan Jawa cenderung memiliki pintu belakang. Tetangga dekat cenderung masuk lewat pintu belakang atau samping untuk akses pinjam meminjam keperluan dapur dalam hubungan ketetanggaan.

Rumah-rumah di desa juga tidak memiliki pagar yang menjulang tinggi. Paling mentok, mereka hanya membuat pagar dari tanaman teh-tehan sebagai hiasan pekarangan rumah. Ada pepatah Jawa yang cukup terkenal: pagar mangkok lebih kuat daripada pagar tembok. Maksudnya, berbagi kebaikan ke tetangga, disimbolkan dengan mangkok, dipercaya adalah sistem keamanan yang lebih kuat dibandingkan dengan meninggikan pagar rumah.

Selain dengan tetangga, orang-orang desa juga sangat terbuka dengan orang asing. Mereka biasa menyediakan air minum dalam sebuah guci di depan rumahnya. Setiap orang yang dalam perjalanan bisa mengambilnya secara cuma-cuma. Alih-alih curiga dengan keberadaan orang tak dikenal, mereka justru menyiapkan suguhan walau hanya sekadar pelepas dahaga.

Sikap itu berbeda dari masyarakat kota yang lebih heterogen. Mereka cenderung menempatkan orang lain sebagai orang asing. Untuk paket lengkap rumah di perkotaan, seseorang membutuhkan berbagai piranti keamanan: pagar rumah yang tinggi, pecahan kaca di atasnya, kawat berduri yang dialiri listrik, gerbang depan rumah, dan penjagaan satpam yang ditemani anjingnya. Satu lagi: CCTV, yang tidak hanya difungsikan untuk menjaga rumah, tapi juga untuk memantau kinerja si satpam.

Ilustrasi di atas sebenarnya tidak untuk mendikotomi orang-orang desa dan kota. Perbedaan sikap tersebut menunjukkan tingkat kesadaran masyarakat akan pentingnya keamanan ruang pribadi. Bukan soal seseorang tinggal di desa atau di kota, tingkat kesadaran akan keamanan itu sebenarnya dipengaruhi oleh perbedaan imajinasi orang terhadap risiko keamanan mereka. Orang mengimajinasikan risiko dari masuknya "orang asing" ke ruang pribadi mereka: rumah.

Tidak hanya di ruang fisik, dalam konteks digital, tingkat kesadaran orang akan pentingnya keamanan data pribadi juga bervariasi. Hal itu dipengaruhi oleh imajinasi risiko dari "masuknya pihak asing" ke ruang data personal seseorang. Sayangnya, berbagai laporan menyebutkan bahwa kesadaran masyarakat Indonesia terhadap perlindungan data personalnya di internet cenderung rendah.

Rendahnya kesadaran itu karena orang tidak membayangkan penyalahgunaan apa yang bisa dilakukan dengan informasi pribadi seperti nama lengkap, tanggal lahir, dan data personal lainnya. Oleh karena itu, meskipun banyak terjadi penyalahgunaan atau kebocoran data, orang-orang tidak terlalu serius menanggapi kasus itu. Masyarakat juga tidak cukup waspada dengan upaya pencegahan agar data mereka tidak disalahgunakan.

Berkaitan dengan data pribadi di internet, sebagian orang tidak cukup membaca perizinan akses ketika memasang aplikasi di smartphone mereka. Sebaliknya, mereka yang waspada (atau curiga?) terhadap segala bentuk penyalahgunaan data, meneliti betul bagian access permission dari sebuah aplikasi sebelum menginstalnya.

Bahkan, di saat banyak orang mencari ponsel pintar dengan kamera selfie terbaik, tidak sedikit orang, dengan alasan keamanan data pribadi, justru menutup kamera swafoto mereka di HP dan web camera mereka di komputer dengan isolasi atau plester.

Selama ini, pemberitaan mengenai kasus bocornya pribadi yang terjadi di Indonesia selalu menyasar perusahaan-perusahaan besar. Sementara itu, pengguna dari platform elektronik itu tidak cukup sadar bahwa mereka juga dirugikan atas kebocoran data tersebut.

Jika situasi ini terus dibiarkan, akan banyak penyalahgunaan data pribadi yang merugikan masyarakat. Khususnya untuk masyarakat awam, perlu adanya edukasi akan pentingnya data pribadi.

Mukh. Imron Ali Mahmudi mahasiswa Sosiologi Universitas Indonesia

(mmu/mmu)