Kolom

Menimbang Kembali Sekolah Tatap Muka 2021

Suzan Lesmana - detikNews
Rabu, 06 Jan 2021 15:00 WIB
Sebanyak 15 SMA dan SMK di Garut, Jawa Barat, telah melakukan pembelajaran tatap muka. Salah satunya adalah SMAN 30 Garut.
Foto: Hakim Ghani
Jakarta -

Tahun 2021 telah dijelang. Sebelumnya, ada wacana bahkan rencana sekolah-sekolah membuka kembali pembelajaran bagi siswa-siswanya secara tatap muka pada 2021. Menurut saya, rencana ini patut dipertimbangkan kembali. Mengapa? Dengan kondisi laju pandemi Covid-19 yang belum melandai, maka rencana ini seolah-olah agak dipaksakan jika tetap dilaksanakan.

Banyak sekolah yang menyodorkan formulir bermaterai 6000 rupiah untuk orangtua siswa sebagai legitimasi anak-anaknya diizinkan bersekolah tatap muka. Seolah-olah jika ada apa-apa dengan sang anak di sekolah, khususnya terkait Covid-19, maka pihak sekolah akan "berlepas tangan". Kan sudah menandatangani persetujuan, ujar pihak sekolah nantinya, dalam bayangan saya.

Artinya, pihak orangtua akan "terjebak" dalam situasi di mana mereka tidak dapat meminta pertanggungjawaban kepada pihak sekolah. Menurut saya hal ini bukan solusi yang bijak dari pihak sekolah jika suatu saat ada orangtua yang menuntut karena anaknya menjadi suspek atau bahkan terpapar Covid-19. Na'udzubillah, jangan sampai kejadian.

Kian Terbuka

Kasus terkonfirmasi Covid-19 di Indonesia terus meningkat tajam. Sebanyak 664.930 orang terkonfirmasi positif Covid-19 (per 20/12/2020), belum termasuk yang masih berstatus suspek karena berinteraksi langsung dengan mereka yang positif terkonfirmasi. Simpati dan empati mendalam buat saudara-saudara kita yang terpapar.

Secara umum, potensi paparan kian terbuka mengingat kita memasuki musim penghujan, imunitas lemah dan fase kelelahan karena ketidakpastian kapan pandemi berakhir (pandemic fatigue). Warga sudah terdemotivasi mengikuti berbagai langkah perlindungan yang direkomendasikan, kewaspadaan yang berkurang, dan cenderung abai pada protokol pencegahan penyebaran Covid-19.

Apalagi di sekolah, apakah para bapak-ibu guru dapat menjamin anak didiknya dapat diingatkan dan dijaga sedemikian rupa untuk menjaga protokol kesehatan 3M (memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan)? Lha wong saya saja menyaksikan dari kejauhan masker anak saya terlepas saat bermain dengan teman-temannya.

Saat itu kebetulan saya menggantikan istri menjemput anak kedua saya pulang sekolah TK, masih awal-awal pandemi. Saya memanggilnya. Ia pun menoleh dan berteriak, "Papaaa! Ia mendekat dan memeluk saya. Saya pun bertanya, "Kok maskernya dilepas, nak?" Ia pun hanya tertawa kecil khas anak usia 6 tahun tanpa dosa dan langsung naik ke jok belakang sepeda motor.

Sesampai di rumah, saya pun bertanya pada istri, "Mah, kalau kamu anter-jemput si eneng apakah langsung pulang?"

"Tergantung," jawab istri saya. "Tergantung gimana?' tanya saya balik. "Ya tergantung, kadang belanja dulu, seringnya jajan dulu, namanya anak-anak," ujar istri saya ringan.

Terbayang sudah di kepala saya, rute perjalanan yang pasti menjadi panjang dari proses pergi ke sekolah hingga kembali ke rumah. Selama proses itu berlangsung, saya pikir baik orangtua siswa, siswa, bapak-ibu guru pun akan berinteraksi dengan banyak orang sepanjang perjalanan. Tak hanya siswa. Ada satpam, petugas parkir, tukang sayur, warung makan, dan lain-lain.

Potensi kerumunan dan tidak menjaga jarak sangat mungkin terjadi. Risiko penularan virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 sangat luas ruangnya. Pada poin ini, siapa dapat mengetahui seseorang masuk dalam kategori suspek atau malah terkonfirmasi Covid-19?

Belum lagi, akhir tahun. Banyak keluarga yang akan berlibur ke pusat-pusat hiburan dan objek wisata. Meski katanya sudah menjaga protokol kesehatan, namun kita dengar sendiri kluster liburan muncul beberapa waktu lalu. Menyusul kluster keluarga dan kluster kantor yang muncul lebih awal.

Apakah kita menginginkan kluster sekolah muncul pasca liburan akhir tahun? Tentu tidak! Semua tidak menginginkannya. Terbayang sudah proses isolasi mandiri 14 hari akan dijalani jika terpapar Covid-19. Sementara itu, vaksin pun masih diujicobakan, meski nantinya gratis.

Kondisi Objektif

Pembelajaran jarak jauh (PJJ) sejauh ini sudah menjadi kenormalan baru di masa pandemi. Namun jika akhirnya proses pembelajaran tatap muka tetap dilaksanakan, mau tidak mau, suka tidak suka rapid test atau swab test harus sering dilakukan secara periodik oleh semua yang terlibat dalam proses pembelajaran tatap muka. Termasuk para siswa, meski ia masih usia belia.

Meski terbaru sudah ada rapid test atau swab test antigen yang hanya membutuhkan waktu 15 menit mendapatkan hasilnya, namun semua dibutuhkan anggaran tersendiri. Apakah pihak sekolah akan memfasilitasinya? Ataukah dibebankan ke masing-masing orang tua siswa? Sanggup?

Jika jawabannya tidak, maka pembiaran siswa hingga pendidik tanpa tes deteksi Covid-19, sungguh sangat mengkhawatirkan, mengingat orang tanpa gejala (OTG) bisa jadi berada di sekitar kita. Kecurigaan ini menjadi wajar, mengingat sang virus yang tidak dapat dideteksi, meski si pembawa virus terlihat sehat secara kasat mata.

Bukannya saya menjadi parno atau panik dengan keadaan, tapi kondisi objektif saat ini membuat saya sangat berhati-hati mengingat pertambahan orang terpapar Covid-19 terus meningkat. Apalagi kluster-kluster baru Covid-19 bermunculan satu demi satu.

Itulah makanya, rencana pembelajaran sekolah secara tatap muka 2021 saya pikir patut dipertimbangkan kembali. Masak-masak.

Suzan Lesmana orangtua siswa

(mmu/mmu)