Sentilan Iqbal Aji Daryono

"Terforsir Aplikasi" dan Jiwa Kehumasan Kita

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Selasa, 05 Jan 2021 17:21 WIB
Kolomnis - Iqbal Aji Daryono (Ilustrator: Edi Wahyono/detikcom)
Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Edi Wahyono)
Jakarta -

"Ada temanku yang meninggal gara-gara terforsir aplikasi lho, Mas." Tiba-tiba, muncul kalimat ganjil itu dari mulut Mas Dayat, anggota Brimob kebanggaan kampung kami yang sekaligus juga rekan saya segrup ronda.

Ceritanya, malam Minggu lalu, Pak Parjono memasak rica-rica entok untuk kami, dan menghidangkannya di pos ronda sebelah timur desa. Sembari melahap menu istimewa itu, kami mengobrol tentang bahaya makan tengah malam dan gelambir perut yang semakin sulit menyusut.

Saya tahu, rica-rica jadi kurang nikmat jika disantap bersama obrolan bertopik keluhan kesehatan usia paruh baya. Tapi jauh lebih tidak nikmat lagi jika daging empuk entok dan bumbu gurih-pedasnya itu berpadu dengan kabar kematian yang menimpa seseorang.

Meski demikian, agaknya kabar duka itu terpaksa disajikan Mas Dayat, sekadar untuk menyampaikan bahwa lemak tidak selalu lebih buruk dibanding olah raga, terlebih lagi bila olah raganya membuat seseorang "terforsir aplikasi".

Waduh. Terforsir aplikasi? Apa-apaan itu? Saya sebagai pengamat bahasa yang levelnya cuma lima senti di bawah Ivan Lanin ini (ehem!) segera memindainya sebagai istilah baru yang wajib dipantau.

Usut punya usut, teman Mas Dayat itu adalah seorang pesepeda yang rajin, dan sangat kecanduan aplikasi. Entah aplikasi di HP entah di jam tangan pengukur porsi olah raga. Setiap kali bersepeda, yang ia kejar adalah target-target yang nantinya tercatat pada aplikasinya. Akibatnya, dorongan aplikasi itu membuat dia lupa mengukur batas kemampuan, sehingga tubuh dipaksa terus bergerak meski sudah sangat kepayahan.

Pendek kata, aplikasi menjadi ekstasi yang tak henti mendorongnya mengayuh dan mengayuh, apalagi kalau ia sedang menempuh rute-rute penuh tantangan. Lha kenapa terus memaksa diri? Kata Mas Dayat, sebab catatan jarak, kecepatan, berapa ribu kalori yang terbakar, dan sebagainya di aplikasi itu nantinya akan bisa menjadi tayangan kebanggaan. Gambarnya bisa melintas di story Whatsapp, atau nongol di unggahan Instagram.

Saya langsung membatin, urusan kepraktisan dan kesenangan sepertinya telah bergeser jadi perkara kehumasan. Gerak badan itu kan hal praktis untuk menjaga kesehatan, atau dalam sisi tertentu menjadi hobi yang membawa kegembiraan. Tapi semua itu seketika berubah menjadi tuntutan public relation, alias urusan pengumuman. Kebutuhan berolah raga akhirnya jadi nomor dua, sedangkan posisi prioritas direbut oleh orientasi "diseminasi informasi" bagi massa.

Sampean mungkin menuduh saya sangat tidak berakhlak karena membicarakan sisi buruk orang yang sudah meninggal (astaghfirullah), namun sesungguhnya saya tidak sedang menyalahkan sepenuhnya teman Mas Dayat. Sebab jebakan semacam "forsir aplikasi" dan orientasi kehumasan itu benar-benar memerangkap hampir semua kita.

Coba, baru beberapa hari yang lalu kita melihat parade buku-buku yang dijejerkan di laman medsos teman-teman kita, sebagai salah satu bagian terpenting dari kaleidoskop mereka. Beberapa di antaranya dipadu dengan kalimat pilu yang amat membangkitkan rasa haru, semacam, "Aduh, sayang sekali tahun ini aku cuma berhasil merampungkan 33 buku. Ini sebagian di antaranya." Lalu kita memandang foto tumpukan buku-buku tebal yang bikin terpukau dan berdecak kagum, sembari menahan diri untuk tidak berkomentar, "Gile bener, ni orang pinter banget sih makanannya buku-buku berat dan tebal-tebal gini."

Saya percaya saja mereka telah membaca semuanya. Tapi hati nurani saya yang julid ini tergoda untuk membayangkan, andai tidak ada Facebook atau Instagram atau Goodreads untuk memajang deretan buku-buku itu, seberapa besarkah semangat bisa dikobarkan untuk meluangkan ratusan jam dalam kesunyian demi mengeja ribuan halaman dan jutaan kata hingga khatam semua?

Jujur, saya ragu. Membaca memang merupakan satu bentuk kesenangan, dan saya sendiri pun kadangkala merasakan. Tapi sekarang, kesenangan itu sudah mendapatkan dukungan berupa kesempatan kehumasan. Nah, lambat laun, apa yang berposisi sebagai dukungan dan kesempatan itu bermetamorfosis menjadi cita-cita alias tujuan.

Maka saya curiga, bagi banyak sekali orang, aktivitas membaca sudah lama tidak berdiri sebagai membaca untuk membaca itu sendiri. Ia bergeser menjadi membaca untuk berbicara, membaca untuk menulis, kemudian ujungnya membaca untuk diumumkan kepada dunia!

"Ah, itu kan sama dengan jargon apa-apa demi konten to, Bro?"

Oh, beda, Mas. Kalau "demi konten" itu kita rela melakukan apa pun demi membikin konten. Wujudnya, ada orang dengan sengaja membongkar privasi dirinya sendiri cuma biar bisa posting di Instagram, nge-prank pakai sampah sambil bilang itu sedekah cuma biar bisa bikin video Youtube, atau melakukan segala jenis hal nista tiada guna lainnya semata-mata biar bisa terus memproduksi konten untuk kanal-kanal medsosnya. Tapi yang saya bicarakan ini adalah betapa banyak hal yang pada fitrah dan khitahnya sangat berguna, atau bisa kita jalankan secara praktis-pragmatis demi sebuah nilai kemanfaatan, tiba-tiba berubah nilainya karena orientasi kehumasan.

Walhasil, olah raga yang sangat berguna berubah menjadi bukan olah raga itu sendiri, membaca yang sangat bermanfaat untuk kewarasan menjadi bukan membaca itu sendiri, dan... apa lagi ya?

Oh ya. Kemarin, saya yang sedang disergap kerinduan kepada jalan-jalan ini bertanya kepada teman-teman Facebook saya, "Gaes, kalau sekarang saya mau piknik di masa non-liburan, bukan di akhir pekan, di daerah yang agak sepi dari kerumunan, itu masih amoral secara per-covid-an nggak ya?"

Ternyata, pertanyaan itu mendatangkan sekian komentar dengan satu nada yang sama: "Boleh saja, tapi mending foto-fotonya nggak usah di-posting."

Dan tidak saya sangka, dari lubuk terdalam perasaan saya secara mengejutkan menyembul satu gugatan: "Ha? Nggak usah di-posting? Serius? Piknik macam apa itu yang nggak di-posting?"

Seketika saya sadar, saya pun kepingin jalan-jalan bukan semata untuk rileks, untuk kegembiraan diri, atau untuk jalan-jalan itu sendiri. Saya terjebak orientasi kehumasan, tak bedanya dengan siapa pun yang jalur-jalur kesenangan hidupnya semakin tergadaikan.

Saya sudah terforsir aplikasi! OMG!

Iqbal Aji Daryono penulis, tinggal di Bantul

(mmu/mmu)