Kolom

Menemukan Kebersahajaan di Tahun Pandemi

Yudhi Hertanto - detikNews
Selasa, 05 Jan 2021 13:15 WIB
Isolation Quarantine Coronavirus Covid 19
Foto ilustrasi: Getty Images/Xesai
Jakarta -

Pandemi menjadi kata paling sentral sepanjang tahun 2020. Setiap sendi kehidupan dipaksa untuk berubah. Termasuk hari raya dan perayaan hari besar keagamaan. Tidak dipungkiri, kita mengalami disrupsi peradaban. Sifat kehidupan yang dinamis mengharuskan manusia untuk mampu beradaptasi dengan perubahan.

Keterbatasan ruang gerak dari interaksi manusia sebagai akibat penularan wabah menciptakan momentum bagi pemikiran ulang tentang makna kehidupan. Ternyata rutinitas hidup dari kebiasaan kehidupan terdahulu sebelum pandemi, yang kerap dianggap membosankan serta penuh kejenuhan, kembali dirindukan.

Pada perspektif yang berbeda, kehadiran pandemi dalam kehidupan kita sekaligus menciptakan makna baru tentang bentuk kehidupan yang lebih terdigitalisasi dan sederhana dari kompleksitas modern.

Pada kehidupan modern, kita kehilangan waktu akibat percepatan teknologi dan digitalisasi. Kini, wabah memaksa kita untuk memutar waktu, memaksanya kembali berjalan perlahan untuk menyusun strategi berhadapan dengan virus yang tidak kasat mata. Kehidupan modern sejatinya ada di antara dibenci sekaligus dirindu.

Kita kehilangan makna sosial di dalam kehidupan monoton modern, tetapi kini di era pandemi kita merindukan kehidupan repetitif kembali. Pasca-pandemi, ada norma kehidupan baru yang mungkin tercipta untuk meningkatkan kualitas kehidupan manusia sejalan dengan fase adaptasi seluruh kegiatan dari rumah.

Keluarga dan relasi sosial dalam ranah domestik sesungguhnya menjadi medan utama kehidupan kita. Selama ini daya tarik dari gemerlapnya kehidupan modern dengan segala kesibukan yang ditimbulkannya menjauhkan kita dari pokok kehidupan keluarga. Selama pandemi kita dipaksa menjalin ulang relasi tersebut.

Meredam Ego

Tidak pelak pandemi sejatinya membuat kita sampai pada keharusan untuk meredam seluruh sikap egosentris manusia terhadap alam. Injak rem, karena laju pembangunannya hidup manusia kerap mengesampingkan daya dukung alam. Eksploitasi yang tidak berkesinambungan memunculkan konsekuensi masa depan hadir hari ini sebagai sebuah situasi krisis kebencanaan, termasuk wabah.

Faktor yang disebut memicu ketamakan akumulatif bagi pemenuhan kebutuhan hidup manusia distimulasi oleh kerangka ekonomi, dalam kerangka produksi dan konsumsi yang dibungkus perspektif kapitalisme. Pada konsep tersebut, proyeksi keuntungan menjadi motor penggerak dengan berbagai ekses turunan yang sulit ditolak.

Bahkan sudut pandang kapitalistik, dengan melakukan upaya komodifikasi yang melakukan perubahan atas nilai guna menjadi nilai tukar nominal untuk barang maupun jasa hadir pada wilayah ritual keagamaan. Hari raya agama-agama lengkap dengan perayaannya adalah periode persemaian agenda kapital.

Hal tersebut dibahas dalam buku Frengki Napitupulu (2020) berjudul Sinterklas Natal dalam Jerat Kapitalisme. Kajian kritis yang tampak mengemuka dari temuan Frengki terkait dengan degradasi makna hari raya Natal dengan munculnya figur ikonik sinterklas, tidak lain merupakan labirin dari kapitalisme melalui perangkap konsumtif.

Perilaku konsumerisme menjadi instrumen efektif dalam mengembangkan format ekonomi meski menggunakan ornamen yang bercorak agama. Dalam bentuk riil, kita dapat melihat hari raya justru dikonstruksi untuk menjadi waktu efektif dalam mendorong kehausan publik untuk terus berbelanja.

Aneka program sale dan diskon adalah bagian dari bentuk serta cara yang dibuat, maka tidak mengherankan ketika ruang berbelanja menjadi sesak seiring waktu-waktu di hari raya. Manusia kehilangan esensi dasar makna hari raya untuk kemudian justru membentuk ulang pemaknaan baru atas hari raya, yakni liburan dan berbelanja.

Tidak Berlebihan

Pandemi menciptakan ruang yang secukupnya pada batas minimal untuk tidak hidup secara berlebihan. Kita yang dipaksa bekerja dan belajar dari rumah mulai menyadari bahwa segala kemewahan itu ada batasnya. Segala yang tampaknya menjadi keinginan dibatasi pada lapis kebutuhan dasar, karena hidup yang sehat dan selamat dari pandemi menjadi jauh lebih penting.

Bahwa kemudian di era pandemi denyut konsumerisme tetap diproduksi dengan penciptaan ekonomi berbalut hobi, studi kasus sepeda Brompton, ikan cupang, tanaman monstera si janda bolong, merupakan buntut yang tidak akan pernah usai dari dunia yang telah terformasi menjadi sedemikian kapitalistik.

Di situlah manusia diuji dan ditempa untuk mendapatkan kesadaran kritisnya, meski secara ambigu berada di dalam ruang simulasi yang terkonstruksi sudah sejak jauh hari sebelumnya. Melalui renungan kritis kita menetapkan ulang tujuan hidup dan pencapaian dalam tahap kehidupan yang dijalani.

Kita adalah manusia modern yang memiliki akal budi, Homo sapiens, sekaligus makhluk berpikir dan pembelajar, animal rationale. Dalam pandemi kita menyusun ulang tata kehidupan baru setelahnya dan bersiap untuk pandemi selanjutnya. Pandemi sepanjang tahun ini adalah momentum untuk menjadi makhluk bersahaja dengan nilai yang baru bagi eksistensi kemanusiaan itu sendiri.

Yudhi Hertanto program doktoral Ilmu Komunikasi Universitas Sahid

(mmu/mmu)