Kolom

Penambahan Kasus Covid-19 dan Penanganan Hulu ke Hilir

Tjandra Yoga Aditama - detikNews
Selasa, 05 Jan 2021 10:52 WIB
Pengantar: Sebagai ahli paru, Prof Tjandra Yoga Aditama boleh jadi tak dimusuhi kalangan industri rokok karena gigih memerangi bahaya merokok.. Sejak awal Oktober dia pensiun dari WHO.
Prof Tjandra Yoga Aditama (Ilustrasi: detikcom)
Jakarta -

Hari pertama 2021 ditandai dengan penambahan lebih dari 8000 kasus COVID-19 di negara kita, dan hari terakhir 2020 angka kasus baru juga lebih dari 8000 orang. Perlu diketahui bahwa jumlah kasus dan/atau penambahan per hari akan dipengaruhi oleh berapa banyak tes yang dilakukan. Karena itu, selain penambahan kasus, maka yang perlu diperhatikan "angka kepositifan" (positivity rate), artinya dari jumlah yang diperiksa berapa persen yang positif.

Terus terang angka kepositifan kita kini perlu dapat perhatian maksimal, karena dalam seminggu terakhir 2020 angkanya berkisar 20%. Artinya, dari setiap 5 orang yang di periksa ada satu yang positif COVID-19 --penularan yang tinggi di masyarakat.

Dengan melihat perkembangan itu, maka yang penting tentu bagaimana penanggulangannya agar situasi dapat terkendali. Prinsip penanggulangannya adalah pada kegiatan di hulu dan di hilir; keduanya harus berjalan bersama. Yang harus dilakukan di sektor hulu adalah kegiatan pencegahan, mengurangi angka penularan di masyarakat, dan ini dapat dilakukan dengan memperkuat 3T dan 3M.

Orang mungkin mengerti bahwa 3M adalah upaya pencegahan, tapi 3T dikenal luas sebagai upaya pengendalian. Harus diketahui bahwa 3T yaitu test, trace dan treat juga adalah upaya pencegahan yang amat ampuh. Kalau jumlah tes dan pelacakan kasus (trace) ditingkatkan, maka lebih banyak lagi kasus COVID-19 yang positif akan ditemukan dan dapat segera diisolasi sehingga tidak menular ke orang lain; jadi ini jelas adalah kegiatan pencegahan.

Kalau kasusnya diobati (treat), selain diisolasi dalam pengobatan pasien juga diharapkan dapat sembuh sehingga tidak menular ke orang lain lagi. Jadi pengobatan (treat) juga bagian dari upaya pencegahan.

Perlu Ditambah

Tiga M memang sudah dikenal luas sebagai upaya pencegahan. Memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan akan mengurangi kemungkinan tertular. Hal ini perlu ditambah dengan "M-M yang lain", seperti menghindari kerumunan, menjaga etika batuk dan memberi salam, melakukan olahraga teratur, makan makanan bergizi serta selalu menjalankan pola hidup bersih sehat.

Tentu pencegahan dengan mengurangi kontak antarpenduduk ini dapat dilakukan dengan pengetatan disiplin 3 M, pengurangan kemungkinan orang berkumpul seperti yang telah dilakukan dengan meniadakan perayaan tahun baru massal dan juga penambahan proporsi pegawai yang bekerja dari rumah (WFH), sampai kalau dirasa perlu dapat dipertimbangkan hal yang lebih ketat lagi seperti "rem darurat", dengan mempertimbangkan segala aspek terkaitnya.

Dalam hal ini baik untuk diingat kata bijak, health is not everything, but without health everything is nothing.

Terus Diperkuat

Sejalan dengan pencegahan yang dilakukan di sektor hulu, maka angka kepositifan yang 20% dan peningkatan penambahan kasus baru per hari tentu akan amat membebani sektor hilir, yaitu fasilitas pelayanan kesehatan. Untuk ini sedikitnya ada dua hal yang dapat terus diperkuat. Pertama, melakukan isolasi pada pasien tidak di rumah sakit sepanjang keadaannya memungkinkan. Hal ini akan membuat rumah sakit dapat lebih dimanfaatkan dan berkonsentrasi penuh pada kasus-kasus yang berat dan gawat.

Sejauh ini kita sudah kenal ada isolasi mandiri di rumah dan juga ada yang di fasilitas lain, seperti wisma atau hotel. Tentu akan amat baik kalau semua bisa tertampung di fasilitas khusus seperti wisma atau hotel itu, tetapi dengan penambahan kasus maka isolasi mandiri di rumah mungkin tidak dapat dielakkan. WHO dan berbagai otoritas kesehatan sudah mengeluarkan pedoman tentang bagaimana sebaiknya isolasi mandiri di rumah dilakukan. Yang dicakup antara lain bagaimana agar membatasi/tidak kontak dengan penghuni rumah yang lain, tetap waspada dengan situasi umum di rumah seperti mencegah arus pendek listrik, pencegahan kebakaran; bagaimana mengatasi rasa "kesendirian" di isolasi; obat apa yang harus dikonsumsi.

Yang juga amat penting adalah perlu diupayakan ada selalu kontak/pengawasan dari petugas kesehatan setempat, tentu dengan sarana telekomunikasi yang kini relatif tersedia cukup luas. Komunikasi setiap hari tentu akan sangat membantu saudara-saudara kita yang sedang menjalani isolasi mandiri di rumahnya masing-masing.

Hal kedua adalah penguatan pelayanan di rumah sakit, antara lain dengan menambah tempat tidur ruang rawat pasien COVID-19, termasuk Intensive Care Unit (ICU) dan atau High Care Unit (HCU). Penambahan kapasitas ini setidaknya punya tiga aspek. Pertama, apakah memang mungkin rumah sakit menambah tempat tidur untuk COVID-19, padahal penyakit lain juga mungkin akan perlu dirawat pula.

Kedua, yang sudah banyak dibahas adalah bagaimana ketersediaan tenaga kesehatannya, mulai dari dokter, perawat, petugas laboratorium sampai ke petugas kebersihan yang wajib ada sebagai bagian pelayanan. Perlu disadari bahwa ketersediaan tenaga bukan tidak terbatas, juga adalah tidak bijak kalau tenaga yang ada harus bekerja melebihi jam kerja yang wajar. Belum lagi kalau dihitung perlunya tenaga-tenaga kesehatan yang spesifik untuk keadaan kesehatan tertentu dari pasien yang dihadapi.

Ketiga, jaminan ketersediaan Alat Pelindung Diri (APD) dan juga obat-obatan untuk menangani pasien. Untuk tiga aspek ini, kita tentu tahu bahwa situasi dapat berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya, dan juga tidak akan sama antara rumah sakit, sehingga memang tidak dapat satu kebijakan menyelesaikan semuanya; no one size fits all.

Di awal 2021 tampaknya kita masih akan terus menghadapi situasi COVID-19 yang cukup berat. Semua pihak harus melakukan peran positifnya masing-masing agar Indonesia dapat mengendalikan pandemi ini.

Prof Tjandra Yoga Aditama Guru Besar Paru FKUI, mantan Direktur WHO SEARO dan mantan Dirjen P2P & Ka Balitbangkes

(mmu/mmu)