Kolom

Hikmah Tahun 2020

Martinus Joko Lelono - detikNews
Rabu, 30 Des 2020 15:10 WIB
eorang seniman melukis mural di kolong Tol Wiyoto Wiyono, Jakarta Timur, Rabu (2/12/2020). Nantinya akan ada 100 tiang TOL yang akan dimural dengan gambar protokol kesehatan.
Foto: Rifkianto Nugroho/detikcom
Jakarta -

Ada sebuah adagium bahasa Latin yang mengatakan, tempora mutantur et nos mutamur in illis, yang artinya waktu berjalan dan kita berubah di dalamnya. Demikianlah hidup ini adalah sebuah perjalanan melewati waktu-waktu dari detik ke detik, menit ke menit, jam ke jam, hari ke hari, bulan ke bulan, dan tahun ke tahun.

Tahun 2020 berlalu dan kita sedang mempersiapkan diri untuk memasuki tahun yang baru. Sayangnya waktu yang tidak dimaknai hanya akan menjadi perjalanan yang lewat begitu saja. Tiap-tiap orang memerlukan keberanian untuk berhenti sejenak, mengambil makna, untuk kemudian berjalan lagi ke depan. Filsuf besar Aristoteles menyebutnya sebagai refleksi sehingga ia menyebut, "Hidup yang tak direfleksikan adalah hidup yang tak layak untuk dihidupi."

Bagi negeri ini dan mungkin pula dunia kita, tahun ini bisa saja berakhir dengan penyesalan karena semua berjalan tidak sesuai rencana. Pandemi Covid 19 menghancurkan banyak rencana kita. Seperti jamak dalam situasi kesulitan, orang ingin agar peristiwa sulit itu sesegera mungkin berlalu sehingga ia bisa menantikan peristiwa-peristiwa kehidupan yang baru.

Namun, apakah tidak ada sesuatu yang bisa dipetik dari peristiwa derita dan sakit? Belajar dari Aristoteles, rasa-rasanya penting bagi kita untuk berhenti sejenak dan mencari makna di balik peristiwa. Bagi Negeri ini, paling tidak ada dua refleksi besar yaitu tentang jiwa peduli dan keberanian mengambil langkah tidak populis (langkah yang tidak menyenangkan semua orang).

Jiwa Peduli

Kepedulian mendapatkan panggungnya yang megah pada tahun 2020 ini. Pandemi ini menempatkan orang pada peristiwa "senasib sepenanggungan". Sayangnya, tak semua orang bisa punya peran yang sama untuk menanggung penderitaan ini.

Garda penting dari sikap senasib sepenanggungan kali ini adalah tenaga medis dalam berbagai macam tingkatan. Kalau ditanya apakah mereka ingin mengalami peristiwa seperti ini, amat mungkin sebagian besar dari mereka tidak menghendakinya. Namun, atas nama panggilan profesi mereka melakukannya: memakai pakaian pelindung sepanjang hari; selalu ada dalam risiko tertular; harus menjaga jarak dengan keluarga; dan berada dalam situasi tertekan dalam waktu yang tidak jelas.

Pada 5 Desember, detikcom melaporkan bahwa ada 342 tenaga medis yang meninggal akibat terpapar virus Corona. Kita amat salut kepada tenaga medis yang membiarkan dirinya terlibat di dalam penanganan pandemi ini. Di dalam diri mereka, kita melihat jiwa-jiwa peduli. Maka benar kata lagu ciptaan Eka Gustiwana yang sempat viral itu. Para tenaga kesehatan ini berjuang "demi raga yang lain." Mau disebut apakah pengorbanan macam ini kalau bukan "panggung kepedulian"?

Panggung kepedulian yang lain kita temukan dalam diri anak-anak yang secara mencengangkan membuka mata orang dewasa untuk terlibat di dalam upaya menghadapi pandemi ini. Tahun ini kita mendengar tentang Tata dan Unsia yang menyumbangkan isi celengan mereka sejumlah Rp 349.000 kepada tim JPK di Makassar. Mereka mengatakan, "Ini untuk dokter biar bisa beli masker. Ini dari tabungan kami selama enam bulan."

Di Bandung, Hafidh, seorang bocah SD berusia 9 tahun, anak seorang tukang bakso ayam, mendatangi Polsek Dayeuhkolot untuk menyerahkan uang koin sebesar Rp 453.300. Uang yang disimpannya di sebuah kaleng biskuit itu diserahkan untuk disalurkan guna membantu membeli alat pelindung diri.

Cerita lain tentu masih bisa Anda tambahkan sendiri. Belum lagi cerita tentang "bahan makanan gantung" yang secara cuma-cuma digantungkan oleh mereka yang merasa memiliki di ujung-ujung jalan di berbagai tempat di negeri ini supaya bisa diambil oleh mereka yang berkekurangan. Dalam hal ini, negeri ini sudah belajar tentang budaya peduli dan saling mencintai, sebuah budaya kepedulian dan senasib sepenanggungan.

Masih ada lagi kisah tentang orang-orang dari berbagai profesi yang menyumbangkan kemampuan mereka untuk peduli kepada sesama. Almarhum Didi Kempot dan Ki Seno Nugroho adalah dua seniman yang terkenal karena kepeduliannya di masa pandemi. Didi Kempot mengadakan konser dari rumah untuk menghibur para pencintanya sembari mengumpulkan dana untuk kegiatan sosial. Ki Seno Nugroho juga mendukung rekan-rekan seniman yang kehilangan pekerjaan karena situasi pandemi.

Mereka menjadi corong dari sebuah kesadaran bahwa setiap pribadi dengan cara masing-masing bisa peduli kepada sesama. Memang mereka telah berpulang, tetapi dari diri mereka, orang belajar tentang jiwa kepedulian. Lagi-lagi kita mengenal tentang panggung kepedulian di negeri ini.

Keputusan Tidak Populis

Situasi pandemi yang serba tidak pasti ini mengajarkan kepada kita tentang ketidakpastian. Penyakit ini unik karena ada orang-orang yang mengalami gejala begitu jelas, sementara yang lain tak mengalami gejala apapun sehingga tak terdeteksi apakah ia terpapar atau tidak. Dalam hal ini, keputusan-keputusan pun dibuat dengan dasar, "praduga bersalah" (semua amat mungkin sudah membawa virus).

Itulah sebabnya kebiasaan baru 3M, larangan berkerumun, dan berbagai pembatasan sosial tidak diberlakukan kepada sebagian orang, tetapi dilakukan kepada semua orang. Tentu ini bukan keputusan yang menyenangkan bagi mereka yang aktif dan merasa diri sehat. Protes dan keberatan terjadi di mana-mana, tetapi negara kita sudah belajar membuat keputusaan tidak populis 'demi kebaikan bersama.'

Di akhir tahun ini, kita menemukan lagi keputusan-keputusan yang tidak populis. Berbagai protes dilayangkan tatkala pemerintah memotong cuti bersama pada tanggal 28-30 Desember 2020 yang dikabarkan kurang dari sebulan. Kebijakan ini membuat orang mengubah berbagai rencana liburan dan perjalanan luar kota.

Belum lagi ditambah kebijakan yang mewajibkan orang untuk melakukan rapid antigen yang sekali lagi membuat orang harus membatalkan perjalanan atau siap merogoh kocek lebih dalam kalau memang tetap mau mengadakan perjalanan. Tentu kebijakan-kebijakan ini tidak menyenangkan bagi banyak orang. Namun, hal ini membawa kebaikan untuk semua. Kerumunan dapat dicegah dan kemungkinan terjadinya ledakan jumlah pasien Covid-19 bisa ditekan.

Negeri ini terus belajar membuat keputusan yang tidak menyenangkan, tetapi baik untuk semua orang. Orang bijak mengatakan, "Keputusan yang baik seringkali tak bisa menyenangkan semua orang." Negeri ini bergerak melewati kecenderungan populis yang hendak menyenangkan semua orang menuju sikap dewasa yang hendak mencari kebaikan bagi semua orang. Masyarakat dididik untuk tidak menjadi manja, tetapi mempunyai jiwa dewasa dalam membuat keputusan.

Selamat Tahun Baru

Berbekal dua pembelajaran di tahun ini, rasanya tidak berat kita meninggalkan tahun 2020. Negeri kita, dan semoga kita masing-masing, sudah belajar banyak. Negeri yang terus menua ini bergerak menuju kedewasaan. Mengulang kembali adagium itu, waktu berjalan dan negeri ini berubah di dalamnya.

Bagaimanapun kalender masehi adalah kalender digunakan di hampir semua kalangan di dunia ini. Pergantian tahun ini menjadi kesempatan untuk memaknai kehidupan yang kita jalani. Selamat merayakan akhir sebuah masa dan memulai masa yang baru. Tak layaklah kita terus-menerus menangisi situasi yang sulit. Sudah saatnya mengambil hikmah dari perjalanan yang sudah dijalani. "Hari ini lebih baik dari hari kemarin. Hari esok harus lebih baik dari hari ini."

Selamat Tahun Baru. Selamat mensyukuri kehidupan dan belajar dari perjalanan yang sudah kita jalani. Tahun 2020 semoga tak dikenang hanya karena bencananya, tetapi juga karena hikmah di balik segala perkara yang ada di dalamnya. Salam hangat untuk Anda dan keluarga.

Martinus Joko Lelono pastor Katolik, doktor bidang Interreligius lulusan ICRS Universitas Gadjah Mada

(mmu/mmu)