Kolom

Makna dan Sikap Hidup Baru

Marz Wera - detikNews
Senin, 28 Des 2020 11:00 WIB
Pandemi virus Corona membuat sebagian umat Kristiani menggelar misa malam Natal di rumah. Ibadah tersebut tetap berlangsung khusyuk. Begini potretnya.
Foto: Pradita Utama
Jakarta -
Bagai kemarau setahun dihapus hujan sehari. Suatu entitas yang tak kelihatan mampu meruntuhkan imajinasi, nalar, serta logika kita tentang pencapaian mutakhir mengenai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi abad ke-21 ini.

Fajar tahun 2020 sebentar lagi akan terbenam, dan kita sedang menyiapkan diri untuk menjelang tahun yang baru 2021.

Tahun 2020 adalah kisah hidup yang penuh kejutan. Kenapa? Di tahun yang sama kita memasuki dekade baru abad ke-21 dengan segala cerita ketakjuban. Kejutan pertama adalah kemilaunya kemajuan iptek. Kejutan kedua adalah kecemasan sepanjang tahun karena kisah horor makhluk renik mengubah pranata sosial budaya secara global. Meminjam istilah F Budi Hardiman, runway the world seperti direm mendadak.

Ada catatan cemerlang mengenai perkembangan teknologi yang memudahkan akses dan koneksi. Bangsa manusia dengan sangat mudah bisa berinteraksi tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Ada juga cerita kelam krisis global pandemi Covid-19. Kendati kemajuan menorehkan kisah kemilaunya, hadirnya Covid-19 mampu meruntuhkan kemilaunya kemajuan yang dicapai. Rutinitas manusia diberhentikan secara mendadak. Kisah manusia antara hidup dan mati seolah tanpa jarak.

Perlu disadari bahwa di antara cerita kelabunya pandemik global ini, ia juga menumbuhkan gaya hidup baru mulai dari desa hingga kota. Ada banyak kisah menarik dengan sikap peduli yang sangat mengesankan. Banyak di antara kita yang akhirnya punya inisiatif untuk memulai menyalakan lilin sendiri menginspirasi sesama dari situasi keterjepitan dan keterjebakan pada proses penemuan diri yang baru yang mungkin selama ini terpendam dan tak pernah dicoba. Misalkan saja, ada begitu banyak inisiatif ekonomi hijau dengan mengembangkan sistem hidroponik di pekarangan rumahnya khusus untuk kaum urban.

Tahun yang berat dengan krisis kemanusiaan terbesar adab modern akan berakhir. Albert Camus sudah mengingatkan kita bahwa bencana dalam konteks eksistensialis sebenarnya selalu mendobrak "keakuan" kita. Begitu juga dengan Herbert Marcuse yang dengan baik menangkap gelombang protes di Eropa tahun 1960-an tentang perkembangan teknologi. Menurutnya, ketika teknologi mendominasi manusia, maka manusia akan kehilangan diri dan pengalaman akan realitas hidupnya. Karena jadwal hidup manusia akan didikte oleh mesin yang diciptakannya sendiri.

Masih dalam situasi yang sama, umat Kristiani baru saja merayakan Natal. Sama seperti perayaan umat beragama lainnya, Natal dan Tahun Baru di tahun ini rasanya berbeda karena Covid-19 mengharuskan kita menjaga jarak. Semua yang sebelumnya menyatukan untuk sementara waktu memisahkan.

Momen Natal dan Tahun Baru

Pernahkah terlintas dalam benak kita mengenai apa "makna" di balik dua peristiwa global, yakni kemajuan dan pandemi ini dengan makna panggilan hidup masing-masing?

Secara global ada pesan universalitas. Pentingnya kerja sama dan kolaborasi dalam hidup sosial budaya kita, semacam reformasi kultural. Covid-19 mengingatkan manusia universal untuk kembali pada hakikatnya yakni persahabatan dan belarasa. Nurani manusia digerakkan untuk keluar dari sekat komunitas, negara, agama, etnis, bahwa satu-satunya jalan untuk keluar adalah solidaritas sosial.

Di negeri kita sendiri sikap demikian lahir secara spontan yakni gelombang penggalangan dana melalui beragam inovasi digital baik perorangan maupun kelompok tumbuh dengan sangat mengesankan. Kita tentu bersyukur untuk itu.

Namun, beberapa gangguan dari dalam tubuh negeri sendiri yang akhir-akhir ini terjadi harus menjadi refleksi bersama untuk menyongsong Natal dan Tahun Baru dengan hikmat dan cara baru hidup berkualitas dalam menghadapi pandemi Covid-19 yang belum pasti berakhir.

Masih ada jarak antara cita-cita kesejahteraan dan keadilan sosial akibat dominasi kelompok kartel-elite tertentu yang menguasai ekonomi politik nasional, pelestarian demokrasi yang terganggu karena campur aduk agama dan politik di ruang publik, fundamentalisme agama oleh kelompok tertentu yang menuai gelombang populisme agama secara masif, perdebatan mengenai posisi Papua dalam NKRI yang tak kunjung selesai, bahkan Aceh juga masih muncul gelagat serupa dengan Papua, gerakan represif kelompok teroris di Sigi, persoalan HAM dan kerusakan lingkungan yang menuai gerakan demonstrasi cukup menyita energi kita untuk membuka diri menempuh jalan reformasi kultural bangsa ini.

Semua itu mengindikasikan bahwa masih ada komunitas tertentu di negeri ini yang berusaha mendefinisikan ulang diri mereka terhadap yang lain, itu bisa menyangkut etnisitas dan agama tertentu juga komunitas tertentu, guna memvalidasi dikotomi minoritas vs mayoritas, serta kontrol atas lembaga negara. Praktik demokrasi seperti ini terjadi secara masif dan mengagumkan akhir-akhir ini. Mereka mendefinisikan demokrasi sebagai kebebasan berpendapat, dengan alibi ini sebenarnya gerakan mereka berkedok anti-demokrasi.

Covid-19 mengingatkan kita kembali berefleksi pada eksistensial dasar hakikat hidup bersama orang lain yakni apa makna kehidupan yang kita jalani, bagaimana sikap dan spiritualitas kita sebagai jiwa yang lemah di hadapan kematian, dan yang paling mengesankan untuk direfleksikan adalah bagaimana kita melihat, memahami, dan memaknai peran orang lain dalam hidup kita, tapi juga posisi kita sebagai kesatuan integral dengan lingkungan.

Bambang Sugiharto mengingatkan, "Covid-19 menyingkapkan kenyataan bahwa kecanggihan iptek tidak selalu sejalan dengan keluhuran keadaban, soal sikap hidup.'' Dalam kerangka ini "transformasi sikap hidup" tentu lebih dari sekadar urusan cuci tangan, ambil jarak, atau memakai masker.

Dalam konteks itu, melalui Natal dan Tahun Baru, kontekstualisasi iman beragama adalah soal internalisasi iman dalam konteks. Artinya, kehidupan antarumat beragama harus menunjukkan realitas iman yang makin berakar. Kita bisa merefleksikannya melalui perjalanan hidup kita sepanjang tahun 2020 dengan sikap hidup sehari-hari. Menjadi saksi iman yang hidup melalui proses bagaimana kita menanamkannya, lalu menumbuhkan hingga membuahkannya sebagai bukti benih kasih pada sesama.

Natal berarti peristiwa inkarnasi Allah menjadi manusia. Menurut Haryatmoko, Tuhan menampakkan diri dalam sosok yang solider dan peduli akan situasi kita: lahir di kandang hewan. Agar manusia sungguh hidup ketika menghayati hidup sesuai tujuan diciptakan: menjadi secitra dengan Tuhan yakni Mahabaik dan Mahakasih.

Kita diajak berkelana mewujudkan solidaritas sosial untuk bekerja sama menjaga rumah besar bernama Indonesia. Melalui yang lain esensi hidup iman Kristiani menampakkan diri dalam menjiwai semangat toleransi. Kehadiran yang lain menjadi cermin bagi kita, sebaliknya kehadiran kita harus memberi esensi hidup bagi mereka.

Olehnya, transformasi sikap hidup baru yang berkualitas ditentukan oleh bagaimana secara reflektif kita memaknai kehidupan; cara berpikir, cara bersikap, dan nilai-nilai apa yang diprioritaskan untuk sungguh-sungguh hidup dengan menghargai martabat sesama.

Bahwa, menghidupkan sikap hidup baru yang berkualitas berarti peduli dan bertanggung jawab tanpa harus sedang bersama, mari berbela rasa tanpa harus saling bersalaman, dan menumbuhkan rasa setia kawan tanpa harus saling merangkul atau bertegur sapa secara langsung. Lebih dari itu, mungkin dalam ajakan universal Paus Fransiskus, yakni Fratelli Tutti yang berarti Persahabatan Sosial.

Marz Wera peneliti independen bidang filsafat teknologi dan kebudayaan

(mmu/mmu)