Kolom

Berliturgi dengan Empati

Yesaya Sihombing - detikNews
Sabtu, 26 Des 2020 10:38 WIB
Persiapan natal di Gereja Katedral, Semarang, Kamis (23/12/2020).
Katedral Semarang (Foto: Angling Adhitya Purbaya)
Jakarta -

Natal 2020 sudah jelas berbeda dengan edisi-edisi Natal sebelumnya. Bila pada tahun-tahun silam, hari-hari pada bulan Desember sudah dipenuhi rangkaian acara Natal di sana sini, maka tahun ini tidak demikian. Pandemi akibat virus Corona telah mengubah banyak hal, termasuk dalam penyelenggaraan ibadah Natal.

Sebagian besar gereja hanya menyelenggarakan ibadah Natal pada 25 Desember saja. Beruntunglah bagi umat Kristen yang dapat menyelenggarakan ibadah Natal secara tatap muka, mengingat masih banyak saudara seiman lain yang harus mengikuti ibadah secara daring.

Bagi saya pribadi, biasanya Desember berarti jadwal padat penuh acara. Biasanya, dimulai Natal keluarga pendeta dan romo pada pekan awal Desember, lalu ada Natal punguan orang suku Batak (dos roha) yang diselenggarakan di gereja kami. Selanjutnya, tanggal 20 ke atas dimulailah rangkaian acara Natal di gereja lokal, yang terdiri dari Natal Sekolah Minggu, Natal remaja dan pemuda, serta Natal umum.

Belum lagi, di gereja-gereja lain, terdapat juga Natal-Natal kelompok usia senja, kaum duda-janda, dan kelompok-kelompok lain. Pada akhir Desember, di kabupaten kami biasanya ada hajatan Natal Bersama yang diselenggarakan Forum Komunikasi Gereja-Gereja Wonosobo, dengan peserta hampir mencapai 2.000 orang.

Tahun ini, tentu saja acara-acara tersebut tidak dapat dilaksanakan secara lengkap. Faktor pandemi membuat semua acara dibatasi, baik dalam hal jumlah kegiatan, durasi, maupun jumlah peserta. Pemerintah telah menerbitkan Surat Edaran Menteri Agama No: 23 Tahun 2020. Surat Edaran ini ditandatangani Menag (yang lama) Fachrul Razi tanggal 30 November 2020.

Dalam edaran tersebut, gereja diimbau menyelenggarakan perayaan Natal secara sederhana dan tidak berlebihan, serta lebih menekankan persekutuan di tengah keluarga. Kemudian, bila diselenggarakan secara tatap muka, pengurus gereja perlu melakukan pengaturan jumlah jemaah yang berkumpul dalam waktu bersamaan, mempersingkat waktu pelaksanaan ibadah, memasang imbauan penerapan protokol kesehatan, serta menerapkan protokol kesehatan bagi jemaah yang datang dari luar kota.

Bila biasanya saat Natal gereja akan dipenuhi oleh jemaat, maka pada Natal edisi pandemi kapasitas keterisian gereja dibatasi 25%-50% saja. Demikian juga dengan durasi peribadatan, dibatasi kurang lebih satu jam saja. Dalam hal keterbatasan durasi ibadat, peran liturgos sangatlah penting untuk menyusun serta memaksimalkan liturgi ibadah, tanpa menghilangkan esensi peribadatan Natal.

Liturgi ibadah Natal sebaiknya menekankan pada doa, nyanyian pujian, pesan/khotbah, dan perenungan makna Natal. Mengingat sebelumnya perayaan Natal identik dengan berbagai macam atraksi dan pertunjukan, maka alangkah baiknya bila atraksi dan pertunjukan tersebut dialihkan dalam bentuk virtual. Dengan demikian, pelaksanaan ibadah dan perayaan Natal dapat berlangsung efektif, efisien, dan tidak memakan banyak waktu.

Pun demikian, alokasi dana yang biasanya diperuntukkan bagi mata anggaran dekorasi, tata lampu, kostum ataupun bintang tamu, seyogianya dapat dialihkan pada bantuan-bantuan sosial bagi jemaat dan masyarakat sekitar yang membutuhkan. Masa pandemi telah membuat banyak orang harus kehilangan keluarga, sanak saudara, dan juga pekerjaan. Di sinilah gereja dapat berperan, bukan hanya sebagai penonton, namun juga sebagai pihak yang dapat sedikit meringankan beban sesama.

Dengan demikian, gereja dapat memenuhi tugasnya, bukan hanya sebagai gereja yang bersekutu dan melayani, namun juga bersaksi di tengah masyarakat. Gereja tak hanya dipandang sebagai kumpulan umat Kristen yang biasa merayakan Natal pada bulan Desember secara semarak, namun juga sebagai entitas tak terpisahkan dari bangsa ini, yang dapat berempati di masa pandemi.

Betapa pentingnya empati pada masa pandemi ini. Empati tak hanya dapat diterapkan para pengurus gereja saat menyusun liturgi peribadatan. Namun, empati juga dapat diterapkan oleh seluruh umat Kristen, saat menyelenggarakan liturgi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Selamat Natal, Tuhan memberkati.

Yesaya Sihombing pengurus Forum Komunikasi Gereja-Gereja Wonosobo

(mmu/mmu)