Kolom

Natal Tahun Ini Bukan Bencana

Martinus Joko Lelono - detikNews
Jumat, 25 Des 2020 14:10 WIB
Pandemi virus Corona membuat sebagian umat Kristiani menggelar misa malam Natal di rumah. Ibadah tersebut tetap berlangsung khusyuk. Begini potretnya.
Merayakan Nayal dalam kesederhanaan (Foto: Pradita Utama)
Jakarta -

Bisa dibayangkan betapa kecewanya banyak umat Kristiani pada saat ini ketika harus merayakan Natal dalam suasana sederhana. Perayaan Natal yang biasanya penuh dengan berbagai bentuk pernak-pernik keceriaan dan kumpul-kumpul, sekarang harus terjadi dengan begitu banyak penyederhanaan. Meski di beberapa gereja perayaan bersama sudah diadakan, tetapi semua tak lagi bisa sama.

Upacara nyanyi bersama, bersalam-salaman, cipika-cipiki, dan berbagai kesempatan berbagi sukacita dengan banyak orang menjadi begitu disederhanakan: kumpul terbatas, jaga jarak, cuci tangan, pake masker. Ini sesuatu yang tak terbayangkan. Rasanya orang sedang memasuki Natal dalam suasana yang serba terasa hambar, seperti sayur tanpa garam. Maka, wajar kalau orang mengatakan, "Biarlah Natal ini segera berlalu supaya kita bisa menantikan Natal yang akan datang!"

Di balik ungkapan itu, terbersit gambaran tentang orang-orang yang memiliki kesadaran bahwa dirinya sedang ada dalam situasi yang tidak terberkati. Namun, setiap orang beriman selalu sadar bahwa selalu ada berkat di balik derita. Orang bijak mengatakan, blessing in disguise, rahmat tersembunyi di balik situasi yang tak ideal.

Demikianlah Natal kali ini kalau mau dimaknai lebih lanjut bisa menjadi kesempatan orang untuk menemukan makna Natal yang sesungguhnya. Bolehkan saya meringkas makna Natal itu dalam dua ungkapan besar: kesederhanaan dan cinta kasih.

Kesederhanaan

Natal yang kini biasa dirayakan dengan berbagai kemeriahan itu adalah sebuah peristiwa yang diawali dengan kesederhanaan. Yesus lahir di kandang domba, ditemani oleh Bapak-Ibunya, domba-domba dan beberapa gembala yang datang menjenguk. Tak ada kemeriahan seperti yang ada sekarang.

Sinterklas, pohon Natal, dan kado-kado Natal adalah tambahan saja atas perayaan yang sesungguhnya. Ada begitu banyak versi tentang berbagai macam bentuk penghias Natal ini. Salah satunya mengatakan bahwa tradisi Sinterklas baru mulai abad ke-17 di Inggris. Lalu, tradisi pohon Natal baru mulai pada abad ke-16 dengan pohon yang digunakan untuk memasang hiasan-hiasan. Tradisi ini dipopulerkan oleh Pangeran Albert di Inggris pada abad ke-19.

Amat mungkin ada penjelasan lain mengingat semuanya tidak memiliki sumber sejarah yang pasti. Yang pasti adalah bahwa berbagai tradisi ini memanglah penghias Natal. Natal sesungguhnya adalah tentang kelahiran Yesus yang dalam kesederhanaannya hendak menyapa semua orang. Di kandang yang hina itu, Ia menyambut para gembala. Di kandang yang sama Ia menyambut tiga raja dari timur yang dikenal karena kekayaan dan kepandaiannya.

Kalau saat ini kita dikondisikan untuk merayakan Natal dalam kesederhanaan, bukankah ini adalah sebuah berkat? Tentu kita tak menginginkan hal yang semacam ini terjadi, tetapi ketika hal ini terjadi, amat pentinglah untuk menemukan makna di baliknya. Kalau memang berat untuk memaknai kesederhanaan, marilah kita perlahan menemukan betapa kayanya kesederhanaan itu.

Kesederhanaan itu berasal dari kata simplicity dalam bahasa Inggris. Kata ini diturunkan dari bahasa Latin simplex/semel artinya sekali, dan plicare artinya lipat. Maka kata ini memuat makna hanya satu lapisan saja yang kalau dimaknai lebih lanjut memuat ajaran tentang keutuhan pikiran, ketulusan hati, dan integritas. Maka, kapan lagi kita bisa memaknai Natal dengan lebih tulus daripada saat ini, saat kita tak disibukkan dengan berbagai rencana liburan, pergi ke mall ataupun mengadakan pesta yang mewah-mewah? Inilah saat ketika kita memberi fokus kepada sikap menerima kehadiran Yesus dalam diri kita.

Kasih

Di Indonesia ini, Natal menjadi kesempatan luar biasa untuk menjalin keakraban. Ihyaul Ulumuddin membuat pembandingan antara tradisi Natal dan Idul Fitri di Indonesia. Sebagai kesimpulan ia mengatakan, dari kedua perayaan yang mempunyai latar belakang dan sejarah yang sangat berbeda namun mempunyai tatanan pelaksanaan yang sama seperti ada kumandang takbir pada amalan menjelang perayaan Idul Fitri untuk umat islam dan ada nyanyian Natal pada malam menjelang perayaan Hari Natal.

Ada bentuk saling mengasihi antarsesama dan berbagai bentuk ungkapan kasih (Ulumuddin, 2010). Perayaan keagamaan di negeri ini adalah tentang mengungkapkan kasih sayang satu sama lain dengan berbagai bentuknya. Meski bentuknya berbeda, tetapi Natal menjadi kesempatan berbagai kasih seperti halnya Idul Fitri. Itulah mengapa di negeri ini selain mudik Lebaran, dikenal juga mudik Natal.

Memang perayaan dan bentuk ungkapan kasihnya tidak akan menjadi sangat meriah, tetapi ungkapan kasih sebagai roh dari perayaan-perayaan keagamaan akan terus ada dalam perayaan Natal kali ini. Seperti halnya saudara-saudari Muslim yang mengungkapkan cintanya untuk negeri ini dengan membatasi diri tidak mudik dan berlebaran dalam kemeriahan tahun ini, kiranya Natal tahun ini adalah bentuk cinta kita untuk negeri.

Kata bijak mengatakan, "Cinta tidak harus terasa manis." Ungkapan pengorbanan untuk negeri ini menjadi persembahan Natal terbaik.

Natal di Hati

Jonathan Prawira mencipta lagu berjudul Natal di Hatiku. Dalam salah satu liriknya dikatakan, "Sebab Natal tak akan berarti tanpa kasih-Mu lahir di hatiku." Natal kali ini adalah sebuah panggilan untuk merasakan lebih dalam makna Natal. Tak seorang pun bisa menolak kenyataan bahwa saat Natal ini pandemi belum berlalu. Oleh karenanya, sudut pandang kitalah yang harus berubah.

Natal bukanlah soal berbagai bentuk kemeriahan dan perayaan, Natal adalah tentang kesederhanaan. Natal bukan hanya soal pergi sana-pergi sini, tetapi siap berkorban sebagai persembahan kita kepada Tuhan. Setiap perayaan adalah kesempatan untuk menghentikan waktu dan mengambil makna dari perjalanan hidup yang kita jalani.

Natal adalah kesempatan untuk merenungkan bagaimana iman Kristiani sudah mengubah hidup kita. Biarlah pada Natal ini, Yesus lahir di hati kita sebab, "Tak ada gunanya Yesus berkali-kali lahir di kandang domba, kalau Ia tak lahir dalam kehidupan kita."

Natal ini bukan bencana, tetapi sebuah kesempatan untuk memaknainya secara baru atau kesempatan menemukan makna sejatinya. Selamat Natal bagi Anda yang merayakan. Salam hangat untuk semua anggota keluarga.

Martinus Joko Lelono Pastor Katolik, doktor Bidang Interreligius lulusan ICRS UGM Yogyakarta

(mmu/mmu)