Kolom

Menyegarkan Kesadaran Publik

Sudirman Said - detikNews
Rabu, 23 Des 2020 17:02 WIB
Sudirman Said saat hadiri Blak-blakan bersama detikcom.
Sudirman Said (Foto: Muhammad Ridho)
Jakarta -

Mengapa pandemi global Covid-19 tidak kunjung berhenti? Pertanyaan ini tampaknya perlu menjadi bahan renungan bagi kita semua. Pertama, karena berbagai usaha telah dilakukan, namun hasil nyata berupa putusnya mata rantai penyebaran virus belum terjadi. Kedua, karena kini kasus bertambah dengan laju yang lebih cepat dan lebih luas. Angka kasus harian meningkat. Apa yang semula ingin segera dicapai, yakni pelonggaran penuh, justru makin jauh, karena wacana pembatasan ketat justru yang makin mengemuka.

Apa sebenarnya yang belum dapat dilakukan, sehingga pandemi tidak segera memperlihatkan tanda akan berhenti? Apakah kinerja penegakan hukum? Apakah karena keterlibatan publik dalam upaya mengendalikan pandemi belum optimal? Atau karena belum ada langkah yang merupakan kombinasi yang tepat dari kedua aspek tersebut? Bagaimana masalah ini sebaiknya dipahami?

Sumber Penyebaran

Pernahkah publik bertanya pada dirinya sendiri: bagaimana cara virus menyebar? Apa yang memungkinkan virus menyebar? Apa akibat jika virus terus menyebar? Dan tindakan apa yang sebaiknya dilakukan oleh publik sebagai satu kesatuan agar virus tidak berdaya? Pertanyaan tersebut dapat diperpanjang deretnya. Namun, concern kita bukan pada daftar pertanyaan, tetapi pada soal: pernahkah publik bertanya?

Jika publik tidak pernah bertanya, maka mungkin kita dapat persoalkan kembali, mengapa dalam kejadian demikian luar biasa, tidak terbit kemampuan publik untuk bertanya? Apa yang sebenarnya sedang terjadi pada publik, sehingga pertanyaan yang paling awam tersebut tidak menjadi agenda dalam benaknya? Apakah ada kondisi yang menghalang-halangi kesadaran kritis publik? Kondisi apa itu? Mengapa kondisi tersebut justru punya kemampuan menghalangi pandangan publik? Apakah ada upaya menghilangkan kondisi tersebut?

Sebaliknya, jika kita beranggapan bahwa publik telah mengajukan pertanyaan, maka yang segera dapat dipersoalkan adalah apa jawaban yang telah diperoleh publik? Apakah publik telah sampai pada jawaban sebagaimana mana jawaban para ahli epidemiologi? Apabila pergulatan pemikiran publik tidak sampai kepada titik yang paling penting, tentu kita dapat bertanya, mengapa publik tidak berjumpa dengan jawaban yang benar? Apakah jawaban tersembunyi? Atau cara publik menganalisis pertanyaan tidak membuatnya mampu bertemu dengan jawaban yang tepat? Metode berpikir seperti apa yang digunakan oleh publik?

Terhadap berbagai kemungkinan tersebut, tentu kita boleh berharap pada para akademisi untuk melakukan riset ilmu, agar diperoleh gambaran yang lebih jelas, apa sebenarnya yang telah terjadi.

Lebih dari sekadar riset, kita juga berharap bahwa apabila publik belum dalam kemampuan bertanya atau mempersoalkan realitas yang berkembang dengan baik dan dengan cara yang baik, sesuai dengan metode yang dikembangkan di dunia akademi, rasanya kenyataan tersebut merupakan undangan bagi dunia akademi untuk mengembangkan pendidikan kritis kepada publik. Dengan modal daya kritis, kita dapat optimis bahwa publik pada nantinya akan menjadi garis depan dalam menghadapi masalah yang membawa dampak besar pada kehidupan publik.

Dalam hal pandemi, tentu kita juga berharap bahwa publik mempunyai kemampuan bertanya secara kritis, terkait dengan mengapa terjadi pandemi, apa yang membuat virus dapat dengan mudah menyebar, dan apa yang seharusnya segera dilakukan publik, agar penyebaran virus berhenti secara tuntas. Seandainya publik segera bertanya pada dirinya, dan dari pertanyaan tersebut lantas berjumpa dengan jawaban sebagaimana jawaban publik, tentu kita akan bertemu dengan langkah publik yang benar.

Jika kita menggunakan pandangan para ahli, maka dapat dikatakan bahwa sumber utama, atau medium utama penyebaran virus adalah kerumunan, dan atau interaksi intens antar orang, khususnya antara orang dengan virus, dan orang yang belum terpapar virus. Bekerja di rumah, menghindari kerumunan, menjaga jarak fisik, memakai masker, mencuci tangan, merupakan tindakan-tindakan kongkret yang pada intinya tidak memberi jalan bagi virus untuk menyebar dari satu orang ke orang yang lain.

Rasa Tidak Ingin

Benarkah publik tidak mengetahui sumber masalah dalam penyebaran virus? Tentu kita percaya bahwa publik telah sampai pada pengertian bahwa virus hanya bisa menyebar jika manusia membantu penyebarannya. Jika benar demikian, mengapa kasus masih terus melonjak? Mengapa tidak terselenggara suatu langkah publik yang bersifat kolektif, atau suatu langkah bersama yang serentak? Sebaliknya, mengapa masih terjadi: (1) kasus-kasus kerumunan; dan (2) kasus-kasus yang mengabaikan protokol kesehatan? Atau, mengapa untuk mengatasi masalah pandemi masih harus mengandalkan pendekatan hukum?

Kita mungkin dapat melacak dari dua sumber. Pertama, cara memandang masalah dan cara menempatkan masalah tersebut. Kedua, adanya keadaan ikutan, yang merupakan dampak dari pembatasan, yakni pelambatan kinerja ekonomi, sehingga menimbulkan kesulitan ekonomi keluarga.

Pada yang pertama, kita hendak mengatakan bahwa pengetahuan tentang cara kerja virus tidak serta merta diletakkan sebagai masalah dasar yang seharusnya dihindari, atau diletakkan sebagai sesuatu yang tidak diinginkan adanya. Sebaliknya, mungkin, pengetahuan terhadap kinerja virus, diletakkan sebagai dasar untuk membangkitkan keberanian, dan kemudian menanamkan keyakinan bahwa selama kita dalam kewaspadaan, maka tidak perlu ada yang dikhawatirkan.

Dalam hal ini, dapat dikatakan bahwa keinginan untuk mengembalikan keadaan pada keadaan seperti sebelum pandemi, jauh lebih besar dari keinginan untuk menghindari pandemi. Apakah keduanya pandangan ini berbeda? Meskipun tampak sama, namun kita membedakan dua pendekatan tersebut. Yang pertama lebih kepada upaya untuk mencapai sesuatu (keadaan yang diinginkan), sedangkan yang kedua lebih kepada upaya untuk menghindari sesuatu (tidak ingin terjadi).

Dalam dunia pendidikan, perbedaan ini dapat lebih jelas terlihat. Ketika berbicara tentang pencapaian orang per orang, maka akan terjadi kompetisi, sedemikian sehingga muncul bintang pelajar. Upaya mencapai sesuatu lebih mudah bergerak menjadi langkah privat ketimbang langkah publik.

Ketika berbicara tentang keadaan yang tidak diinginkan, misalnya sekolah harus meluluskan semua peserta didik, agar derajat kedudukannya tidak turun, maka dengan segera muncul langkah bersama; semua bergerak dalam satu tujuan: jangan ada yang tinggal kelas. Bahkan tidak jarang, perbuatan yang tidak sesuai dengan prinsip dasar pendidikan dilakukan, hanya demi menghindari penurunan derajat.

Hal terakhir ini tentu tidak dibenarkan. Namun, kenyataan tersebut seakan memperkuat argumen, bahwa rasa ingin menghindari sesuatu lebih berdaya dalam mengundang langkah bersama, ketimbang keinginan mencapai sesuatu.

Mereka yang menyaksikan film The Dark Knight Rises (2012) tentu tidak melewatkan dialog apik antara Bruce Wayne (Batman) dengan seorang tawanan buta di dalam penjara bawah tanah. Dalam fragmen tersebut digambarkan bagaimana upaya Batman untuk ke luar dari penjara, lewat jalan yang tersedia yakni memanjat dinding penjara, yang mirip sumur dalam. Ketika Batman hampir putus asa, tawanan buta berkata: "You do not fear death. You think this makes you strong. It makes you weak."

Tentu Batman terkejut. Lebih lanjut dikatakan: "How can you move faster than possible, fight longer than possible without the most powerful impulse of the spirit: the fear of death."

Orang tua dalam penjara, seperti tengah mengubah cara Batman melihat kenyataan, terutama dalam melihat dari mana sebenarnya sumber kekuatan yang hebat. Dalam versi orang tua itu, sumbernya bukan terletak pada "keberanian", tetapi pada "rasa tidak ingin". Dalam hal Batman, dikatakannya: "I do fear death. I fear dying in here, while my city burns, and there's no one there to save it."

Apabila kita pulang pada konstitusi, maka akan dapat dijumpai pernyataan: "Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan."

Kita membaca pernyataan konstitusi tersebut sebagai pandangan yang lebih menekankan keharusan atau keinginan untuk menghindari atau rasa tidak ingin ada penjajahan, yang dinyatakan tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Dan memang, dalam sejarah sangat jelas terlihat, bahwa seluruh energi perjuangan pada dasarnya adalah energi rasa ingin hidup dalam kolonialisme.

Dalam kerangka perjuangan bangsa, tentu rasa tidak ingin hidup dalam penjajahan, tidak dapat didikotomikan dengan kemerdekaan. Keduanya merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Justru karena itu, kita melihat posisi penting dari pandangan "rasa tidak ingin" sebagai bagian dari penyumbang energi sejarah yang memungkinkan kemerdekaan bangsa.

Kesadaran Baru

Kita tentu membutuhkan studi yang lebih dalam untuk mengerti keseluruhan peristiwa, yang membuat kita belum membuat langkah akseleratif dalam mengatasi pandemi. Namun, dalam batas tertentu, kita hendak mengatakan bahwa seandainya kesadaran ingin segera mencapai keadaan sebelum phy7uandemi, atau keadaan yang lebih baik dari saat ini, diperkuat atau dilengkapi dengan "rasa tidak ingin" pandemi terus bekerja, maka tentu akan terbentuk sebuah kesadaran baru. Yakni kesadaran yang tidak saja ingin segera normal, tetapi juga rasa tidak ingin berlama-lama dalam pandemi.

Bahkan, dapat dikatakan, bahwa jika "rasa tidak ingin" memiliki kadar yang lebih, maka besar kemungkinan langkah bersama akan terbit.Jika nalar ini dapat diterima, maka soalnya adalah bagaimana menumbuhkan "rasa tidak ingin" di dalam rasa batin publik, mengingat arus utama motivasi adalah membangkitkan "keberanian"?

"Rasa tidak ingin" bukanlah rasa takut, tetapi kehendak menghindar yang kreatif dan bermakna. "Rasa tidak ingin" adalah bentuk kesadaran untuk fokus pada sumber masalah, bukan sebaliknya. Otoritas publik dan para ahli perlu duduk bersama untuk memikirkan langkah yang paling baik agar energi baru yang dimaksudkan di sini dapat segera lahir untuk menyegarkan kesadaran publik akan risiko dan bahayanya pandemi yang sedang kita hadapi.

Dengan kelahiran energi baru, yang didasarkan pada kesadaran baru, akan dapat diharapkan mampu: (1) membentuk langkah bersama, atau langkah publik yang bersifat sebagai satu kesatuan langkah. Dalam situasi demikian, kita tidak akan lagi mendengar berbagai debat yang tidak pada tempatnya, dan pasti kita tidak akan bertemu dengan kasus pelanggaran protokol kesehatan; dan (2) membentuk kebersamaan yang lebih kokoh, yang tidak saja menghindari keberlangsungan pandemi, namun juga langkah publik menghindari dampak pandemi di lapangan ekonomi menjadi ancaman baru.

Sudirman Said Ketua Institut Harkat Negeri

(mmu/mmu)