Kolom

Memotivasi Vaksinasi Covid-19

Tjandra Yoga Aditama - detikNews
Rabu, 23 Des 2020 16:10 WIB
Mantan Direktur Perlindungan Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Prof Tjandra Yoga Aditama.
Prof Tjandra Yoga Aditama (Foto: dok. pribadi)
Jakarta -

Presiden sudah mengumumkan bahwa vaksin COVID-19 akan diberikan kepada masyarakat dengan gratis, jadi tidak ada lagi pola 30% gratis dan 70% mandiri/berbayar. Ini tentu berita yang amat menggembirakan dan mudah-mudahan dapat meningkatkan cakupan vaksinasi, tentu dengan menggunakan vaksin yang aman dan efektif dengan bukti ilmiah yang valid sesuai hasil uji klinik fase tiga yang terpublikasi resmi.

Walaupun gratis, kita tahu memulai program vaksinasi ke masyarakat bukanlah perkara yang mudah, apalagi ini vaksin COVID-19 yang memang sejak awal banyak sekali dibincangkan dengan berbagai pro kontra nya yang cukup runcing, ditambah lagi dengan berkembangnya infodemik dengan segala akibatnya. Agar masyarakat mau menerima dan mau disuntik vaksin COVID-19 ini, World Health Organization (WHO) pada November lalu merekomendasi lima pendekatan integratif yang dapat dipertimbangkan untuk dilakukan di suatu negara dalam memotivasi masyarakat untuk menerima vaksinasi. Tentu pelaksanaannya dapat diadaptasi sesuai keadaan setempat, bila diperlukan, tetapi pendekatan ini sudah harus dimulai sejak sekarang.

Pendekatan pertama kita harus mulai dengan mendengar serta memahami suara masyarakat yang akan divaksinasi. Harus digali dan dianalisis data sosial dan perilaku masyarakat yang menentukan apakah mau divaksin. Kemudian dibuat desain pendekatan sesuai pola sosial dan perilaku itu. Artinya, ini membutuhkan sedikitnya pendekatan sosiologis, psikologis dan juga komunikasi, selain aspek kesehatan masyarakatnya. Untuk negara kita maka bukan tidak mungkin pendekatannya akan berbeda pada daerah yang berbeda, sesuai budaya dan kearifan lokal setempat, jadi memang bukan kerja kecil.

Selanjutnya, pendekatan integratif kedua adalah jaminan selalu tersedianya informasi yang benar, terpercaya dan transparan. Keterbukaan informasi publik ini akan bergantung dari tiga faktor, pemberi informasi, materi informasi, dan media informasinya --semua harus ditata dengan baik dan dipercaya publik, dan perlu selalu dievaluasi apakah sudah berjalan baik. Harus dipahami bahwa mis-informasi akan selalu terjadi dan berkembang melalui media sosial, dan ini harus senantiasa ditangani dengan seksama, terus-menerus melalui semua modalitas yang ada.

Pendekatan penting ketiga adalah upaya keras untuk membangun kepercayaan dan penerimaan terhadap vaksin melalui peran aktif dan keterlibatan masyarakat, antara lain melalui berbagai lembaga swadaya masyarakat (LSM), termasuk juga tentunya kelompok rentan tertular di masyarakat. Tentu tidak bisa dilakukan pendekatan satu arah saja, harus partisipatif yang seimbang dan sehat.

Pendekatan keempat adalah agar petugas kesehatan mendapat pengetahuan dan pemahaman yang lengkap dan berbasis ilmu pengetahuan tentang vaksin yang akan digunakan. Mereka harus yakin tentang segala aspek vaksin ini, dan baru kemudian mereka dapat menjalankan tugasnya sebagai pemberi vaksin (vaksinator) atau sebagai pemberi informasi kesehatan ke masyarakat. Kalau ada keraguan di antara petugas, maka harus diklarifikasi dengan bukti ilmiah yang kuat dan terpercaya. Petugas kesehatan juga perlu dibekali dengan kemampuan komunikasi yang efektif dan persuasif agar masyarakat dapat menerimanya dengan baik.

Pendekatan integratif terakhir, yang kelima adalah agar dibangun sistem deteksi dan pelaporan efek samping dan atau kejadian ikutan pasca-imunisasi (KIPI) yang mungkin terjadi. Penanggung jawab vaksinasi harus siap mengantisipasi dan sigap menanggulangi kalau ada kemungkinan masalah yang terjadi. Kalau penanggulangannya terlambat atau tidak tepat maka mungkin saja menimbulkan krisis kepercayaan di masyarakat, yang pada gilirannya tentu mengganggu keberhasilan program vaksinasi COVID-19 ini. Prinsip dasar manajemen risiko harus dikuasai dengan baik, dan digunakan bila diperlukan.

Perjalanan panjang vaksin COVID-19 bermula dari pekerjaan laboratorium yang amat detail dan rinci, dilanjutkan uji pada hewan dalam fase pre klinik serta akhirnya uji klinik pada manusia fase satu, dua, dan tiga. Pada setiap tahapan dapat saja terjadi kegagalan, tidak semua berhasil. Kalau akhirnya sukses, maka akan ada kerumitan proses registrasi, dan lalu produksi besar-besaran sesuai kebutuhan dunia.

Lalu ada tantangan transportasi vaksin, penyimpanan, dan distribusinya ke pelosok negeri beserta pelatihan petugas yang masif. Dari semua proses ini, harus diingat bahwa ujungnya adalah suntikan pada lengan rakyat kita, artinya harus ada kesediaan masyarakat untuk disuntik dua kali vaksin COVID-19. Kerja panjang penuh kesungguhan yang sudah menghabiskan jutaan dolar tidak akan berhasil kalau cukup banyak orang yang tidak mau disuntik.

Jadi, dengan adanya vaksin yang secara ilmiah terbukti aman dan efektif, upaya memotivasi masyarakat adalah pekerjaan mahabesar kita sekarang ini. Hal ini harus dimulai dengan persiapan yang baik, dilakukan cermat, tersistem, dan termonitor baik. Inilah kini yang merupakan salah satu kunci keberhasilan program vaksinasi COVID-19 kita.

Prof Tjandra Yoga Aditama Guru Besar Paru FKUI, mantan Direktur WHO SEARO dan mantan Dirjen P2P & Ka Balitbangkes

(mmu/mmu)