Sentilan Iqbal Aji Daryono

Ketika Bicara Jadi Keharusan

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Selasa, 22 Des 2020 17:53 WIB
Kolomnis - Iqbal Aji Daryono (Ilustrator: Edi Wahyono/detikcom)
Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Edi Wahyono)
Jakarta -

You can't post or comment for 3 days. Kalimat itu tiba-tiba nongol di layar HP saya, persisnya ketika saya membuka aplikasi Facebook. Tentu saya kaget. Apa salah saya sama Mas Zuckerberg?

Kemudian saya baca pelan-pelan segala keterangan lanjutannya. Ternyata hukuman itu ditimpakan gara-gara saya mengunggah foto sepiring tongseng kambing yang sedang saya santap, dan bersama gambar itu saya tuliskan: "jamu penangkal Covid". Nah, rangkaian kata tersebut diendus oleh Facebook sebagai hoaks tentang Covid! Maka, tidurlah akun saya selama tiga hari.

Saya tak hendak membahas betapa lebay-nya Facebook, dan betapa mereka sekarang susah sekali diajak bercanda. Saya lebih ingin menggambarkan pergolakan spiritual yang saya alami selama tiga hari panjang penuh kebekuan itu.

Begini. Facebook buat saya ibarat cerutu buat Fidel Castro, atau sepeda buat Jokowi. Saya sendiri belum pernah melihat Jokowi sepedaan, kecuali di boneka kertasnya yang terpajang di bandara-bandara. Tapi kira-kira seperti itu. Pendek kata, kantor saya di Facebook, tongkrongan utama saya di Facebook, perpustakaan saya di Facebook. Paling tidak, selama tujuh tahun terakhir, nyaris tidak ada satu hari pun yang saya lalui tanpa Facebook-an. Facebook adalah dunia saya yang kedua setelah keluarga (eh, atau kebalik?)

Dengan realitas seekstrem itu, azab tiga hari tanpa Facebook-an sungguh bukan perkara main-main. Otak, hati, dan segenap sistem kimiawi di dalam tubuh saya protes keras. Jangankan posting sesuatu, bahkan mau pencet like dan saja saya dilarang. Lebih menyakitkan lagi, akun saya masih bisa saya lihat utuh, tampilannya utuh, unggahan teman-teman saya juga utuh dan selalu ter-update dari detik ke detik. Artinya, saya bisa memantau semuanya, tapi saya tidak bisa bicara.

Bisa memantau, tapi tidak bisa bicara. Bayangkan, bukankah itu berat sekali? Masih mending kalau saya tidak dapat melihat semuanya, dan di saat yang sama saya tak boleh bicara. Itu bukan tantangan sulit, sebab memang tak ada yang mau saya bicarakan. Tapi yang kemarin itu saya bisa melihat dan membaca semuanya! Sementara kita tahu bahwa di bawah rezim medsos, setiap pergerakan di layar ponsel kita adalah stimulasi sekaligus aksi. Adapun aksi selalu menuntut reaksi. Kita bebas untuk tidak menciptakan aksi, tapi seringkali menjadi "dosa digital" jika kita tidak bereaksi sama sekali atas aksi demi aksi.

Mekanisme semacam itu bukan semata-mata karena kelemahan saya sendiri. Kalau Anda sudah nonton The Social Dilemma di Netflix, tentu nggak perlu heran-heran amat. Keinginan untuk bereaksi atas segala apa yang kita lihat itu bukan semata produk free will, buah prinsip kebebasan berekspresi, atau hasil nyata dari penerapan Pasal 28 UUD 1945. Itu semua dirancang, diorganisasi, dan stimulasi-stimulasi itu memang terus dimatangkan efektivitasnya untuk terus menjebak kita, agar kita tak bisa menghindar lagi dari tindakan penuh reaksi.

Tak cuma itu. Atmosfer yang dibangun oleh algoritma-algoritma media sosial itu akhirnya menumbuhkan tuntutan sosial pula. Tuntutan untuk apa? Tentu saja untuk berbicara!

Maka, tidak aneh jika berkali-kali saya ditagih oleh beberapa kawan, "Heh, Bal, kamu kok belum ngomong soal yang itu? Ditunggu pendapatmu, jangan diam saja!" Bahkan lain kali tuntutan itu lebih mirip provokasi, bunyinya semacam, "Mana kok soal anu belum kau bahas? Takut ya? Atau gengsi mengakui kalau pendapatmu yang dulu-dulu salah?"

Kita setiap saat ditekan untuk terus berbicara. Tidak berbicara adalah sikap seorang pengecut. Tidak berbicara adalah lari dari kenyataan. Tidak berbicara adalah dosa. Dan seterusnya. Mendadak kita lupa bahwa kemarin sore kita masih menjadi pemamah berita semata, tidak bisa berkata-kata selain di warung kopi atau pos ronda. Lalu medsos datang, menciptakan tekanan-tekanan baru, lalu hadirlah demokratisasi dalam berkata-kata. Semua orang bisa berbicara, semua orang bebas menjadi produsen wacana, lalu semua orang segera lupa bahwa hak berbicara itu lambat laun bermetamorfosis menjadi kewajiban berbicara.

Maka, kita kecanduan berbicara. Candu medsos adalah candu untuk berbicara. Mungkin ada di antara kita yang suntuk menyimak dan membaca segala hal di lini masa. Tapi tanpa berbicara, dia belum dianggap aktif bermedsos. Medsos tidak bisa kita posisikan sebagai ruang perpustakaan atau taman baca, tempat kita hanya membaca dan dilarang berbicara. Di medsos, kita terbiasa bicara, jarang mendengar. Atau kalau mendengar dan membaca, ya tujuannya untuk berbicara. Bukan untuk mendengar itu sendiri. Bahkan, kita sangat boleh tak usah membaca dan tak pernah mendengar sama sekali, asal rajin berbicara.

Kalau tidak percaya, coba tengok Twitter. Akun-akun besar di sana seolah membuat standar kualitas yang menjadi konsensus bersama: semakin keren sebuah akun, maka semakin banyak follower-nya, dan semakin sedikit akun lain yang dia follow. Pendek kata, puncak kejayaan sebuah akun Twitter adalah jika ia diikuti jutaan akun lain, sementara jumlah akun yang diikutinya adalah nol!

Lihat, bukankah itu gambaran tentang betapa kita semakin dipepet terus untuk sebanyak mungkin berbicara, sembari sesedikit mungkin mendengar?

Semua jebakan itu kian disempurnakan lagi dengan istilah follower. Kalau mau diterjemahkan mentah-mentah, kata tersebut berarti "pengikut". Sialnya, dalam khazanah kebahasaan kita, kata pengikut lebih sering menempel pada frasa "pengikut Habib Rizieq", "pengikut aliran Jambu", "pengikut mazhab Jeruk", dan sejenisnya. Pengikut adalah istilah yang secara lazim disematkan pada orang-orang yang pasrah mengikuti patronnya. Dan jebakan istilah itu jugalah yang agaknya membius akun-akun besar sehingga di bawah sadar mereka merasa benar-benar punya massa pengikut jutaan, sambil seringkali lupa bahwa mungkin lebih dari separuhnya hanyalah haters atau akun jadi-jadian.

Dan, dengan segala bius itu, kita semua berbicara, dan terus berbicara. Kita takut tak lagi bisa bicara. Kita tersiksa jika suatu saat dibungkam, tak lagi punya ruang untuk bicara. Seperti saya yang selama tiga kali dua puluh empat jam hanya diam memantau banjir kata-kata, tanpa sekalipun bisa melemparkan respons atasnya.

Saya yakin banyak juga yang akan seperti saya. Bedanya mereka tidak mau mengakuinya. Kenapa? Ya karena mereka ogah mendengarkan saya, sebab maunya hanya bicara dan bicara saja. Hahaha!

Iqbal Aji Daryono penulis, tinggal di Bantul

(mmu/mmu)