Kolom

BLT untuk Ibu (Tunggal)

Sri Kuswayati - detikNews
Selasa, 22 Des 2020 14:37 WIB
Mom and daughter wear mask to protect themselves from virus infection
Foto ilustrasi: Getty Images/iStockphoto/RyanKing999
Jakarta -

Pandemi COVID-19 telah meluluhlantakkan sendi-sendi kehidupan. Roda ekonomi berjalan lambat, pendidikan terhambat, beban hidup kian berat. Di tengah aneka kepenatan yang terjadi, saya sebagai seorang ibu merasa mendapat sedikit angin segar ketika ada isu bantuan bagi ibu rumah tangga sebesar Rp 2 juta; membuat mata terbelalak dan berteriak, "Hore, akhirnya ada bantuan bagi ibu rumah tangga."

Kebahagiaan saya ternyata hanya sesaat. Ternyata bantuan tersebut ditujukan sebagai bantuan kredit lunak bagi para ibu rumah tangga (IRT) yang melakukan usaha mikro. Lah, kalau pinjaman lunak, itu berarti harus dikembalikan dan hanya segmen tertentu yang bisa mendapatkannya, yakni para IRT yang memiliki kegiatan usaha.

Hati saya jadi ngenes, teringat nasib banyak kaum ibu yang gara-gara pandemi ini mendapat tugas ganda. Menjadi ayah dan juga ibu akibat perceraian. Tercatat jumlah perceraian meningkat menjadi 57 ribu kasus dengan 80 persen gugatan cerai diajukan oleh istri terjadi pada Juni dan Juli 2020. Penyebabnya? Tidak lain karena suami terkena PHK dan beban para istri menjadi bertambah.

Nah, jika bantuan itu ditujukan tidak hanya untuk para IRT pemilik usaha mikro, tapi juga para ibu tunggal, tentu sedikitnya membuat mereka bernapas lega.

Faktor Ekonomi

Kenyataan bahwa sebagian besar pemicu perceraian adalah para istri didorong oleh faktor ekonomi membuat sebagian kita mungkin berkenyut dahi. Beraninya para istri mengambil risiko peran ganda pada masa pandemi yang serba susah ini! Apa yang membuat mereka berani mengambil keputusan itu?

Dari obrolan ringan di grup Whatsapp teman jadul semasa SMA diperoleh informasi, keputusan berpisah salah satunya didasarkan dengan adanya pemikiran bahwa para istri lebih mudah mencari pekerjaan dibanding suami. Lebih terbuka upaya-upaya untuk mendapatkan income. Sementara suami lebih terbatas geraknya. Jadi, kalau berpisah beban suami dan istri tampaknya menjadi lebih ringan. Oh, gitu ya? Apa nggak salah?

Sebetulnya perceraian itu adalah pilihan terakhir akibat tidak adanya kesepahaman dalam mengarungi biduk rumah tangga. Kesepahaman ini antara lain adalah saat istri mulai "paham" dan terpaksa mengambil peran menjadi tulang punggung keluarga, suami masih tidak mau "paham" dengan kenyataan yang ada. Masih mau diladeni, tidak urun bantu kerjaan istri di ranah domestik.

Ya, kalau begini keadaannya, ketiadaan harmonilah yang menjadi pemicu keretakan rumah tangga. Bagaimana tidak kesal mendapati suami ongkang-ongkang kaki, istri berjibaku dengan banyak peran? Alamak!

Semakin Berat

Jadi, sebenarnya bercerai itu bukan meringankan, tetapi membuat beban para ibu semakin berat. Apa mau di kata? Beginilah kultur patriarki yang ada di negara tercinta. Seperti membenarkan, seakan sudah sewajarnya ketika perceraian terjadi, beban mengurus anak dan membesarkan anak ada pada istri. Ini yang bahaya.

Semangat Hari Ibu kali ini dengan tema "Perempuan Berdaya Indonesia Maju" rasa-rasanya hanya isapan jempol belaka. Kenyataannya perempuan jadi makhluk yang "diberdayakan", diberi banyak beban, tapi selalu tak mendapat perhatian. Marilah kembali memuliakan para perempuan, hal ini yang urgen dan terlupakan.

Dari mana hal tersebut bisa dimulai? Dari negara yang turut mengalokasikan anggaran bantuan langsung tunai (BLT) untuk para ibu tunggal. Bantuan langsung tunai ini akan sedikit meringankan beban, lebih jauhnya lagi menyehatkan mental. Para ibu tunggal ini merasa mendapat perhatian lebih dari pemerintah dengan keberadaannya saat ini.

Ibu yang terpenuhi perhatiannya akan memiliki energi untuk memberikan kasih sayang pada anak-anak selama masa pandemi. Anak-anak yang bahagia lebih mudah dibentuk dan dididik menjadi generasi terbaik bangsa. Ya, hanya dengan mengalokasikan sedikit saja dana bantuan langsung tunai bagi ibu, generasi bangsa terselamatkan.

Lebih jauhnya lagi di tataran hukum, negara bisa memberikan sanksi pada kaum bapak yang abai dengan hak anak-anaknya, asyik dengan egonya. Negara memberikan hukuman yang berat pada lelaki yang melecehkan perempuan. Dengan adanya perhatian lebih diharapkan akan mampu menekan jumlah kekerasan pada perempuan. Bisa jadi, oknum satpam yang melakukan tindak kekerasan dengan memukul kepala seorang dokter perempuan pun akan berpikir ratusan kali sebelum melakukan aksinya.

Jika kemuliaan pada perempuan dimulai dari negara, akan tercipta kultur baru yang membuat sejuk mata. Para bapak yang terkena PHK akan menghormati istri yang terpaksa bekerja dengan memberikan perhatian lebih pada pekerjaan domestik, pada anak-anak yang melakukan PJJ.

Pandemi ini pasti ada ujungnya; kesulitan ini akan ada akhirnya. Kesabaran kita tak boleh berbatas tentunya. Kesabaran akan terus terpelihara, salah satunya dengan munculnya perhatian-perhatian pada pihak yang terdampak pandemi dari pemerintah bernama BLT untuk ibu tunggal. Selamat Hari Ibu 2020!

Sri Kuswayati dosen Sekolah Tinggi Teknologi Bandung

(mmu/mmu)