Kolom

(Hari) Ibu, Lagu, dan Pandemi

Oti Lestari - detikNews
Selasa, 22 Des 2020 11:49 WIB
Poster
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Jika kita menyimak catatan sejarah perjalanan Hari Ibu, spirit perempuan di Indonesia tidak cuma gigih dalam menyuarakan hak-haknya, tetapi juga turun ke medan perang untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa. Sejarah mencatat, 22 Desember 1928, sekitar 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatera berkumpul untuk menyelenggarakan kongres pertamanya di Yogyakarta. Salah satu agenda pokok kongres adalah meleburkan berbagai organisasi perempuan yang ada saat itu ke dalam sebuah federasi, tanpa membedakan latar belakang politik, suku, status sosial, dan agama.

Kaum perempuan bukan unsur pasif dalam gelombang revolusi nasional, tapi justru memainkan peran strategis. Melalui Kongres tersebut, kaum perempuan Indonesia berhasil menempatkan cita-cita emansipasi perempuan dalam bingkai kebangsaan yang lebih luas. Mereka terlibat aktif dalam diskusi dan aktivisme yang berkaitan langsung dengan kesejahteraan umum dan cita-cita besar bangsa. Mereka punya andil dalam melahirkan dan merawat bangsa bernama Indonesia ini, berperan selayaknya Ibu Bangsa.

Untuk itu, sebagai penghormatan terhadap kepeloporan gerakan perempuan dalam Kongres Perempuan Pertama 1928, Presiden Sukarno mengeluarkan Dekrit Presiden Nomer 316 Tahun 1953 yang menyatakan bahwa tanggal 22 Desember diperingati sebagai Hari Ibu. Dengan demikian, peringatan Hari Ibu di Indonesia sama sekali berbeda dengan yang dirayakan di tingkat internasional sebagai Mother's Day. Bila Mother's Day merupakan upaya mengapresiasi peran ibu dalam pekerjaan domestiknya, maka Hari Ibu pada dasarnya merayakan pergerakan perempuan sebagai ibu dari bangsa Indonesia, sebagai para Srikandi nasional (Suryajaya, 2016).

Peristiwa penting itu dicatat N Simanungkalit dalam lagu Mars Hari Ibu: Merdeka melaksanakan dharma/ Perlambang tekad kaum wanita/ Bahu membahu dengan kaum pria/ Mencapai kemerdekaan bangsa/ Mempersiapkan generasi muda/ Jadi penerus perjuangan bangsa/ Bulan Desember dua puluh dua tahun dua puluh delapan/ Awal kesatuan gerak wanita Indonesia/ Meningkatkan peran wanita jadi tekad kita/ Menjadi mitra sejajar pria dalam pembangunan bangsa/ Hari Ibu Indonesia pembangkit semangat juang kita

Lagu menghadirkan kembali peristiwa penting kehidupan. Sebagai pengingat, sebagai pemacu semangat. Para ibu yang berjuang demi bangsa dicatat supaya menjadi refleksi saat ini dan masa depan. Lagu menyanyikan sejarah bangsa.

Waktu berganti, lagu tetap mencatat pergerakan zaman. Dan ibu juga masuk sebagai salah satu tema yang menjadi ide lagu. Lagu-lagu seperti Kasih Ibu, Ibu Pertiwi, Ibu (Iwan Fals), Bunda (Melly Goeslaw), Satu Rindu (Opick) menjadi contoh lagu-lagu yang memaknai peran dan eksistensi ibu dalam kehidupan.

Lagu Kasih Ibu termasuk lagu kenangan sepanjang masa. Kita sering menyanyikannya sejak kecil sampai kita menjadi orangtua. Lagu sederhana, namun memberi kesan yang mendalam. Kasih ibu kepada beta/ tak terhingga sepanjang masa/ hanya memberi, tak harap kembali/ bagai sang surya menyinari dunia

Musik ibarat pisau bermata dua. Ia mempunyai kemampuan untuk dapat membawa peran positif dalam pembentukan mental dan perilaku seseorang atau masyarakat. Semisal lagu Kasih Ibu yang mengajak kita untuk merenungkan siapa sosok ibu dalam kehidupan manusia. Lagu tersebut menjadi sarana pengajaran dan pendidikan bagi anak-anak untuk menghormati ibu dalam kehidupan mereka.

Ujung Tombak

Kini, pada masa pandemi, ibu berperan penting. Tidak hanya di rumah dan keluarga, tapi juga dalam lingkup yang lebih luas. Ibu menjadi ujung tombak kampanye 'Ingat Pesan Ibu' untuk menyukseskan gerakan 3M (Memakai masker, Menjaga jarak, dan Mencuci tangan). Para ibu diminta berperan untuk menjadi agen perubahan dan garda terdepan dalam menyebarkan pesan edukatif seputar protokol kesehatan. Sosok ibu dianggap paling manjur dan dipatuhi keluarga untuk meneladani gerakan 3M.

Menurut pemerintah, keputusan ini telah mempertimbangkan kondisi sosial budaya masyarakat Indonesia yang menempatkan ibu sebagai sosok terpenting dalam keluarga. "Ibu" membangkitkan kedekatan emosional pada semua orang, lelaki atau wanita, penguasa atau orang biasa karena semua orang punya ibu. Kata-kata ibu menjadi petuah yang dipegang teguh anak-anaknya. Untuk itu, partisipasi ibu-ibu kembali digerakkan melalui PKK (Pembinaan Kesejahteraan Keluarga) yang menjadi "gerakan masif untuk melindungi masyarakat lewat ibu".

Seturut Budianta (2016), simbolisasi Ibu dalam gerakan massal yang diagendakan pemerintah ini sebenarnya menyimpan permasalahan laten yang penting dibaca sebagai sebuah patologi sosial. Kaum feminis mempertanyakannya dengan counter wacana: apakah hanya Ibu yang peduli dan yang bertugas mengurusi persoalan gizi dan masa depan anak-anak sementara Bapak tidak?

Niatan pemerintah tersebut bisa dibaca berada dalam konteks untuk memitoskan Ibu dengan risiko pengentalan stereotip yang selama ini dilekatkan kepada perempuan. Suatu "strategi representasi" yang bertujuan untuk membungkus "politik susu" --suara perempuan melawan berbagai kebijakan pemerintah yang (sebenarnya) mengerdilkan peran perempuan.

Logikanya sama ketika pada masa Orde Baru, pemerintah Soeharto "menjinakkan" kaum Hawa dengan mendefinisikan ulang peran perempuan menjadi ibu di lingkup domestik dan hanya diakui peran publiknya sebagai pendukung pembangunan. Hal ini dilakukan lewat pengorganisasian Dharma Wanita dan PKK yang menjadi corong program pemerintah di tingkat pusat hingga kecamatan, bahkan hingga RT/RW.

Strategi itu tercermin pada Panca Dharma Wanita yang menjadi prinsip dasar Dharma Wanita yaitu wanita adalah sebagai pendamping suami yang setia, pengelola rumah tangga, pendidik anak, pencari nafkah tambahan, dan wanita adalah sebagai warga masyarakat.

Sementara kita tahu di masa pandemi ini peran ibu tidak hanya mengurusi kesibukan dan kebutuhan rumah tangga, memastikan gizi keluarga terpenuhi untuk menjaga imunitas hingga menjadi pengajar anak selama proses belajar mengajar secara daring. Ibu mengalami beban domestik yang berlipat saat pandemi.

Peran Ibu mestinya lebih ditekankan pada kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Bukan berlandaskan konsep keadilan distributif ala Aristoteles, tapi lebih dari itu, lebih berlandaskan pada konsep keadilan yang disepakati antara dua belah pihak (justice by exchange) (Komariyah, 2008). Artinya, kesetaraan sebagai ruang pemaknaan baru yang tidak mengucilkan, tetapi aktual dalam fungsi-fungsi sosial-kemasyarakatan. Peran Ibu yang lebih menitikberatkan pada partisipasi dalam membangun konstruksi sosial agar kebijakan-kebijakan publik bisa menjadi lebih responsif terhadap kondisi dan posisi perempuan.

Dengannya, lagu Ibu (Iwan Fals) yang kerap diputar setiap menjelang peringatan Hari Ibu di radio atau menjadi lagu pengiring dalam acara televisi itu menjadi kontekstual bagi kita: Ribuan kilo jalan yang kau tempuh/ Lewati rintang untuk aku anakmu/ Ibuku sayang masih terus berjalan/ Walau tapak kaki/ Penuh darah penuh nanah/ Seperti udara/ Kasih yang engkau berikan/ Tak mampu ku membalas/ Ibu….

Lagu itu menjadi penting untuk mempertanyakan kembali spirit reflektif yang ada di dalamnya --sekadar rangkaian syair yang dinyanyikan atau mempunyai semangat penyadaran yang dapat tersalurkan secara lebih konstruktif dalam memaknai kedudukan ibu dalam kehidupan?

Oti Lestari seorang calon ibu berputri satu

(mmu/mmu)